Jayapura, Jubi – Cahaya lampu warna-warni mulai berpijar di trotoar Jalan Ahmad Yani, tepat di depan kantor Bank Mandiri, pusat Kota Jayapura, Selasa (21/4/2026) malam.
Di balik keriuhan musik anak-anak yang kontras dengan deru knalpot membelah malam, Billy Kapisa sibuk memastikan setiap detail odong-odong yang dioperasikannya.
Pemuda berusia 26 tahun itu dengan telaten mengecek baut, kabel, hingga kebersihan replika kuda dan angsa. Ia memastikan semuanya siap berputar menyambut tamu-tamu kecil yang akan berdatangan.
Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya sejak 2024, odong-odong telah menjadi sumber mata pencaharian Billy. Terkadang, ia tidak bekerja sendirian. Ada Vani, pasangannya, yang setia untuk membantunya.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Mereka sudah sangat fasih menaikkan anak-anak ke atas wahana odong-odong, memastikan keamanan, dengan penuh senyum ramah.
Di atas trotoar itu, Billy memulai pekerjaannya pukul enam sore, saat matahari mulai terbenam, hingga pukul sepuluh malam ketika denyut kota mulai melambat.
Billy satu dari sedikit pemuda yang memilih bertahan di jalanan dengan cara yang produktif. Ia bekerja dengan sepenuh hati meski odong-odong itu sebenarnya bukan miliknya.
Ia bekerja untuk seorang ‘bos’ yang memberikan tanggung jawab besar kepadanya. Kepercayaan itu tidak datang begitu saja. Itu adalah buah dari kejujuran dan kesetiaannya.
”Dari semua anak buah bos, cuma saya yang bertahan,” ujar pemuda asal Biak ini dengan nada bicara yang tenang.
Senang mandiri
Kepercayaan yang diberikan sang bos dibayar tuntas oleh Billy. Meski statusnya hanya sebagai pekerja yang harus menyetorkan hasil setiap malam, Billy merawat unit hiburan itu seperti miliknya sendiri.

Ia tidak membiarkan ada lampu yang mati tanpa diganti, atau suara musik yang pecah karena kabel yang kendur. Menjaga kualitas odong-odong adalah cara yang ia lakukan untuk menghargai orang yang telah memberinya kesempatan untuk mencari nafkah.
Billy tahu betul rasanya mencari lubang penghasilan di Jayapura. Sebelum akhirnya menetap sebagai penarik odong-odong, perjalanan kariernya adalah potret nyata pekerja serabutan yang pantang menyerah. Apa saja ia kerjakan asalkan halal.
Ia pernah berdiri di pinggir jalan menjajakan bensin eceran. Ia juga pernah bekerja sebagai tenaga pembantu (vertikal) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abepura selama lima bulan hingga kontraknya berakhir.
“Saya senang mandiri. Saya kerjakan apa saja yang bisa dikerjakan. Dulu saya pernah jualan bensin, kerja vertikal di RS Abe, dan sekarang mengoperasikan odong-odong ini,” ujar Billy.
Karena ketelatenannya sebagai penarik odong-odong, tak jarang orang tua pelanggan sering menyanjungnya. Mereka salut ada pemuda Papua yang mencari nafkah dari odong-odong, yang umumnya biasa dilakukan oleh orang-orang perantau dari daerah lain.
Pengalaman-pengalamannya di lapangan itulah yang membentuk mentalnya. Ia tidak kaget dengan kerja keras dan sangat menghargai setiap rupiah yang masuk ke kantongnya. Itulah sebabnya, ketika sebuah odong-odong dipercayakan kepadanya, ia menjaganya dengan segenap hati.
“Kuncinya itu rajin saja dan jaga kepercayaan. Kalau kita jalani dengan rasa syukur, semua yang kita kerjakan pasti akan mendapatkan hasil yang baik,” kata Billy.
Tak hanya odong-odong, Billy terkadang mengambil pekerjaan sambilan sebagai tukang servis AC ketika mendapatkan panggilan mendadak.
Vani, yang setia mendampingi Billy menarik odong-odong setiap malam, juga kagum dengan ketelatenan pasangannya itu. Hasil dari mata pencahariannya untuk memenuhi kebutuhan dapur dan sebagian ia sisihkan untuk satu anak perempuan mereka.
“Billy itu sangat rajin. Dia tidak mau kasih kecewa orang yang sudah percaya sama dia. Biar cuma kerja tarik odong-odong, dia kerjakan dengan hati,” kata Vani.
Cukup untuk hidup sehari-hari
Di bawah temaram lampu jalan Ahmad Yani, Billy sesekali memberikan jempol ke arah orang tua yang sedang menunggu anak-anak mereka bermain. Jempol itu seperti isyarat yang menandakan bahwa semuanya terkendali.

Penghasilan Billy di jalanan tidak pernah menentu. Ia sangat bergantung pada cuaca dan keramaian warga yang melintas di pusat kota. Jika sedang ramai, misalnya pada malam Minggu atau hari libur saat kursi-kursi odong-odongnya yang berjumlah enam itu penuh terus-menerus, ia bisa membawa pulang pendapatan kotor hingga Rp300 ribu dalam semalam.
Untuk tarif odong-odong, Billy mematok harga yang cukup terjangkau. Hanya Rp4 ribu, anak-anak sudah bisa menikmati putaran odong-odong selama 10 lagu berturut-turut.
Ia mengaku penghasilan yang ia dapat setiap malam cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
“Kalau lagi ramai bisa dapat Rp100 ribu. Tapi kalau lagi sepi, dapat Rp60 ribu satu putaran saja sudah syukur. Tapi cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Kualitas pelayanan Billy juga dirasakan langsung oleh para orang tua yang sering membawa anaknya untuk menikmati wahana hiburan murah itu. Mereka senang dengan pelayanan Billy yang ramah dan lucu.
“Saya sering bawa anak ke sini. Om Billy ini orangnya jujur dan telaten. Dia punya cara layani anak-anak itu bagus sekali. Kami yang langganan di sini senang dan percaya sama dia,” kata Aditya, orang tua yang sering membawa anaknya bermain odong-odong.
Hal yang sama juga diungkapkan Rahmawati. Ia salut ada anak muda Papua yang mencari nafkah sebagai penarik odong-odong. Setiap akhir pekan, ia sering membawa anaknya bermalam minggu menikmati hiburan odong-odong itu.
“Orangnya ramah dan lucu, jadi anak-anak senang juga bermain di sini,” katanya.
Interaksi antara Billy, Vani, dan para pelanggan kecilnya terasa sangat natural. Tidak ada paksaan atau promosi yang berlebihan. Mereka hanya berdiri di sana, menjadi bagian dari ekosistem malam Jayapura.
Cahaya LED merah, hijau, dan biru yang memantul di aspal basah memberikan warna tersendiri bagi estetika kota. Suara tawa anak-anak yang sesekali berteriak kegirangan saat replika kuda dan angsa yang mereka tunggangi mulai berputar, seolah meredam sejenak kepenatan orang-orang dewasa yang baru saja pulang bekerja.
Menjadi inspirasi
Pendeta Naomi Selan, gembala jemaat IFGF Jayapura yang sering melayani anak-anak jantung kota juga kagum dengan yang dilakukan Billy. Pemuda asli Biak itu sudah tujuh tahun bergabung dengan jemaat IFGF.

Pendeta yang akrab disapa Mama Omi itu menuturkan, perjalanan Billy adalah sebuah cerita tentang transformasi kehidupan yang sudah naik tingkat. Ia melihat Billy bukan sekadar pemuda yang menarik odong-odong, melainkan sosok yang berhasil melampaui masa lalu yang kelam.
“Dari hidup yang tidak teratur, kehilangan ibu, dan harus mandiri sejak kecil, saya senang melihat dia sekarang tidak gengsi untuk bekerja keras mencari nafkah di Jalan Ahmad Yani,” kata Mama Omi haru.
Billy memperhatikan bagaimana orang-orang lain berjuang, menjadikannya motivasi untuk menabung demi mimpinya sendiri. Transformasi itu membawa Billy pada perubahan, dari seseorang yang dulu garang dan ditakuti, kini ia menjadi sosok yang bisa menginspirasi anak-anak muda lainnya di jantung kota Jayapura.
“Proses itu membuat dia jadi lebih sadar. Dia bilang, ‘Oh, saya dulu begini. Saya percaya teman-teman lain juga pasti bisa seperti saya’. Dia sering menjadi inspirasi bagi teman-temannya di jalanan,” kata Mama Omi
Menurutnya, apa yang telah dilakukan Billy tak hanya menjadi sebuah inspirasi. Tapi menjadi sebuah bukti bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.
“Dia sudah memberikan dampak (impact). Karena kalau orang lain yang menunjukkan perubahan, mereka (anak jalanan) mungkin tidak melihatnya. Tapi jika seorang Billy yang bisa tenang, tertib, dan mencari uang dengan cara yang halal, maka yang lain pasti akan menyusul. Mereka semua pasti ingin menjadi seperti Billy,” ujar Mama Omi.
Upaya pemuda seperti Billy untuk bangkit dan mandiri di tanah sendiri sejalan dengan perhatian dari pemerintah daerah. Plt Kepala Disperindagkop dan UKM Kota Jayapura Alberto Itaar mengungkapkan bahwa dorongan terhadap pengusaha UMKM asli Papua (OAP) menjadi agenda prioritas yang akan terus dikawal.
”Motivasi UMKM asli Papua untuk maju perlu kita dorong terus, agar mereka bisa terus mandiri,” ujar Alberto Itaar.
Ia menjelaskan, pemerintah tidak tinggal diam dalam melihat tantangan tersebut. Melalui pemanfaatan dana Otonomi Khusus (Otsus), Disperindagkop melakukan pembinaan khusus yang menyasar para pelaku usaha OAP agar mampu bersaing.
”Sudah banyak pengusaha Papua yang mandiri, tapi untuk jumlah pastinya saya perlu mengecek kembali datanya. Pada prinsipnya program pendampingan dan pemberdayaan bagi UMKM asli Papua terus kami lakukan,” katanya. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua


























Discussion about this post