Jayapura, Jubi – Tujuh belas tahun lalu, Ricardo Salampessy sudah membawa putranya ketika berlatih maupun bertanding bersama Persipura Jayapura di Stadion Mandala. Seiring waktu berlalu, balita berusia dua tahun yang dulu menjadi penyemangatnya dari pinggir lapangan itu kini sudah tumbuh dewasa dan berkarier di sepak bola memperkuat klub yang sama.
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, rasanya memang pantas disematkan pada takdir hidup Ricardo Salampessy dan putranya, Reno. Selama belasan tahun Ricardo menjadi tembok pertahanan Persipura, sebelum akhirnya ia dipercaya mengemban peran sebagai juru taktik pada 2023-2025. Trah Salampessy di Persipura kemudian dilanjutkan Reno.
”Reno sudah mengenal sepak bola sejak dia masih berusia dua tahun,” kata Ricardo, Rabu (13/5/2026).
Menariknya, Ricardo pula yang memberikan debut bagi Reno di Persipura, saat menghadapi Persewar Waropen, 4 Januari 2025 pada kompetisi Liga 2 2024/2025. Kesempatan yang diberikan sang ayah tak disia-siakan Reno. Sepekan kemudian, ia menjawab kepercayaan itu dengan gol perdananya yang ia cetak ke gawang Persipal Palu.
Kini, Reno perlahan menuai hasil dari kerja kerasnya sejak kecil. Ia menjadi salah satu penggawa di klub tempat ayahnya pernah mengabdi. Setim bersama rekan-rekan ayahnya, Boaz Solossa, Tinus Pae, Ian Kabes, Feri Pahabol, Elisa Basna, Gunansar Mandowen, dan Takuya Matsunaga.
Semusim setelah debutnya bersama Persipura di kompetisi kasta kedua, Reno semakin mencuri perhatian. Ia adalah salah satu mutiara yang bersinar di Persipura pada Pegadaian Championship musim ini. Penampilannya impresif dengan menyumbangkan lima gol dan membuat empat assist.
Bahkan sebagai pemain sayap, Reno punya agresivitas tinggi dengan 17 tembakan akurat dari 27 tembakan yang ia buat di lini depan Persipura. Pemuda berusia 19 tahun ini kini dipanggil untuk mengikuti Pemusatan Latihan (TC) Timnas Indonesia U-20 persiapan ajang ASEAN U-19 Boys Championship 2026 yang akan berlangsung Juni depan di Medan.
Tantangan berbeda dan harapan Sang Ayah
Mendengar kabar pemanggilan Reno untuk mengikuti TC Timnas, Ricardo mengaku sangat senang. Ia berpesan agar putranya jangan pernah meragukan diri sendiri dan terus belajar untuk meningkatkan kemampuan.
Ricardo menegaskan tidak ada hal khusus dalam membimbing Reno, hanya evaluasi performa yang selalu dilakukan rutin setelah pertandingan usai.
Berkaca ke belakang, karier Ricardo sendiri bermula dari Tunas Muda Hamadi, berlanjut ke tim PON Papua 2004, dan langsung dipanggil ke timnas senior untuk Piala Tiger.
Setelah membawa Persiwa Wamena ke Divisi Utama dan menjadi pemain terbaik Divisi Satu pada 2005, ia kemudian direkrut Persipura pada 2006. Namun, Ricardo mengakui tantangan era sekarang jauh berbeda.

”Dulu persaingan sangat ketat karena banyaknya talenta di setiap daerah, tapi pressure di luar kurang, karena belum adanya media sosial. Sekarang iklim persaingan tidak seketat dulu, mungkin karena kurangnya kompetisi lokal, tapi pressure di media sosial sangat gila dan bisa menghancurkan mental pemain,” ungkapnya.
Meski memiliki karier panjang, Ricardo menyebut momen Piala Asia 2007 sebagai kenangan yang paling berkesan baginya di Timnas. Ia berharap Reno bisa menuliskan sejarah sendiri dalam karier sepak bolanya.
“Reno punya jalan sendiri, semoga dia bisa menuliskan sejarahnya sendiri dan bisa lebih dari pencapaian yang saya punya sebagai pemain,” kata Ricardo.
Reno sendiri tak mau jumawa atas pemanggilannya di timnas. Namun ia mengaku sekarang lebih percaya diri karena sudah cukup mendapatkan jam terbang di klub dengan intensitas kompetisi.
”Untuk timnas kali ini saya lebih percaya diri karena saya sudah dapat menit bermain di Liga. Jadi itu menjadi sebuah kepercayaan diri bagi saya,” kata Reno.
Ia menuturkan tak ada motivasi khusus dari sang ayah ketika dirinya dipanggil ke timnas. “Bapak cuma bilang, ya fokus saja. Bapak tidak bicara banyak, Bapak bilang fokus saja, berdoa, dan andalkan Tuhan,” ujar Reno.
Punya prospek cerah
Harapan besar juga datang dari pengamat sepak bola Papua yang juga mantan kapten Persipura awal 90-an, Nando Fairyo. Ia menilai Reno adalah pemain muda yang akan terus berkembang selama menit bermainnya terus bertambah di kompetisi bersama Persipura, dan akan sangat meningkat jika bisa mendapat menit bermain bersama Timnas Indonesia nantinya.
”Reno hanya butuh menit bermain yang banyak dalam kariernya untuk mengasah kemampuannya secara individu dan tentu untuk tim yang dibelanya nanti,” ujar Nando.

Ia berharap Reno disiplin memanfaatkan panggilan ini, baik dalam latihan maupun pertandingan, seperti ayahnya dulu.
Nando memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan keluarga ini, mengingat dialah yang merekrut Ricardo dari Tunas Muda Hamadi dan sempat mengubah posisi bermain sang ayah dari penyerang menjadi bek hingga melejit ke Timnas.
“Kebetulan dulu saya yang merekrut Ricardo dalam ajang turnamen PLN U21 di PLTD Waena dari tim Tunas Muda Hamadi di posisi penyerang. Saya sempat melatih Ricardo, dan saya ubah posisinya jadi stoper dan kemudian melejit menjadi pemain terbaik di liga Indonesia dan timnas. Semoga anak Ricardo (Reno) dapat mengikuti jejak sang ayah nantinya,” kata Nando.
Dukungan juga datang dari perwakilan suporter kelompok The Comens, Ikhsan, yang menilai Reno memang sangat layak masuk Timnas U-20 karena kualitas permainannya.
“Dia punya permainan bagus, kerja keras, dan semangat bertanding tinggi dalam lapangan. Saya percaya Reno punya kualitas dan pantas untuk Timnas. Dia masih muda, punya mental bagus dan keinginan terus berkembang,” tutur Ikhsan.
Terkait beban menyandang nama besar sang ayah, Ikhsan berharap Reno tetap fokus pada prosesnya sendiri.
“Soal ikut jejak Ricardo, pasti ada harapan besar. Apalagi dia anak legenda sepak bola Papua. Tapi yang paling penting Reno harus tetap rendah hati, terus latihan, dan kerja keras, teruslah berproses,” ujarnya. (*)


























Discussion about this post