Jayapura, Jubi – Minggu, 6 Desember 1959, cuaca di Bandara Schiphol di Belanda sedang tidak bersahabat. Angin timur menyambut sebuah pesawat yang baru saja mendarat setelah menempuh perjalanan jauh. Seorang pemuda berusia 20 tahun perlahan melangkah keluar dari pintu pesawat dengan tubuh yang tampak belum terbiasa akan cuaca dingin benua Eropa.
Ia mengenakan pakaian yang mungkin tak cukup tebal untuk menahan musim dingin yang baru pertama kali ia rasakan.
Pemuda itu adalah Daniel Riauw Hanasbey yang datang jauh dari Hollandia (kini Kota Jayapura). Kedatangannya malam itu mencatatkan sejarah. Daniel adalah putra Papua pertama yang menginjakkan kaki di Belanda untuk bermain sepak bola secara profesional.
Seperti dinukil dari media Belanda, De Stadsborn, kedatangan Daniel Hanasbey ketika itu sudah ditunggu-tunggu sejumlah wartawan dari berbagai media negeri Kincir Angin. Mereka menantikan Daniel di pintu kedatangan bandara dengan penuh rasa penasaran.
Pada masa itu, kabar sepak bola Belanda memang sedang ramai diperbincangkan karena klub-klub di sana saling berburu talenta dari negeri-negeri yang jauh. Daniel adalah satu dari sejumlah pemain asing yang disambut antusias oleh publik Belanda, setelah kehadiran Steve Mokone dari Afrika Selatan.
Dalam benak warga Belanda saat itu, Papua adalah wilayah yang sangat jauh, sebuah negeri yang mereka bayangkan sebagai hutan belantara. Namun, Daniel mengejutkan para wartawan yang mewawancarainya. Ia berbicara menggunakan bahasa Belanda dengan sangat sempurna.

Kedatangannya tidak membawa satu pun perlengkapan sepak bola. Ia hanya memegang busur dan anak panah sebagai hadiah untuk klub yang tertarik merekrutnya, HVC Amersfoort.
“Ini hadiah dari kampung saya, Injros, untuk klub HVC. Saya tidak membawa sepatu bola,” kata Daniel, dikutip dari De Stadsborn yang menulis ulang dari media Vrije Volk.
Saat itu, Daniel juga disambut oleh beberapa anggota dewan klub HVC, termasuk ketua Aart Mosterd, seorang pengusaha di Amersfoort.
“Jika dia benar-benar sebagus yang mereka katakan, maka dia sangat diterima di sini dan akan segera mendapatkan kontrak,” ujar Aart Mosterd seperti dikutip De Stadsborn dari Leeuwarder Courant terbitan Desember 1959.
Pesepakbola hebat di Hollandia
Daniel muda dikenal sangat menyukai dunia pendidikan. Ia mengikuti pendidikan dasar lanjutan dalam waktu singkat, di mana ia mulai mendalami dasar-dasar geografi, sejarah, botani, dan fisika.
Kemudian ia dipromosikan menjadi guru sekolah desa di kampungnya. Ia mengajar tiga kelas yang masing-masing terdiri dari 30 murid secara bersamaan. Bukan tugas yang mudah, karena setiap kelas mempelajari mata pelajaran yang berbeda.
Setelah setahun menjadi pengajar di kampungnya, ia dikirim ke kota Hollandia untuk bekerja di kantor. Pada awal 1959, ia menjadi juru tulis di Residentie Waterstaats Dienst (RWD) di Hollandia dan melanjutkan pelatihannya untuk menjadi guru di waktu luangnya.
Jauh sebelum menjadi seorang pengajar, bakat sepak bola alamiahnya sudah muncul sejak ia berusia lima tahun, yang kemudian mengantarkannya sebagai pesepakbola handal di klub lokal Hollandia, Willen Is Kunnen (WIK) pada usia 17 tahun.
WIK berkiprah di kompetisi Voetbalbond Hollandia en Omstreken (VHO) yang pada 1950-an digelar bersamaan dengan kompetisi Voetbal Bond Hollandia (VBH).
Di klub WIK, ia menjadi penyerang tengah dan merupakan talenta hebat di kompetisi sepak bola Hollandia. Berkat gol-golnya, WIK mendominasi kompetisi.
Pada musim 1959, ia bahkan menjadi top skor dengan mencetak 24 gol hanya dalam 16 pertandingan. Pencapaiannya itu membuatnya masuk ke dalam tim perwakilan Nugini Belanda untuk menghadapi Papua Nugini dalam laga persahabatan. Pada laga itu, ia mencetak sembilan dari empat belas gol dalam kemenangan 6-2 dan 8-3.

Menurut Albert Merauje, tokoh adat dan intelektual dari Kampung Injros, kompetisi rutin di Hollandia mulai digelar pada 1956 yang diikuti oleh klub kampung dan sekolah. Salah satu yang menonjol adalah klub WIK (Willen Is Kunnen) dari Kampung Injros.
”Pada periode 1956-1958, klub WIK didominasi oleh keluarga besar Hanasbey. Kapten timnya saat itu adalah Otto Itaar, dengan jajaran pemain inti seperti Willem Hanasbey, Daniel Hanasbey, Fred Hanasbey, dan Adolf Hanasbey,” kata Albert.
Ia menuturkan, Daniel sangat dikenal karena teknik tendangan saltonya. Albert menceritakan bahwa anak-anak Injros terbiasa berlatih di lapangan “Timbul Tenggelam” yang legendaris, di mana mereka kerap memperagakan salto di atas air.
“Anak-anak Injros saat itu dikenal memiliki fisik yang kekar dan tinggi. Selain teknik bermain yang bagus, mereka juga masih memegang teguh kepercayaan adat. Daniel Hanasbey adalah sosok yang paling fenomenal. Ia adalah pemain hebat di eranya dan sangat dikenal dengan tendangan saltonya,” ujarnya.
Karena kehebatannya di kompetisi Hollandia, Cees Van Der Werk merekomendasikan Daniel Hanasbey ke klub HVC Amersfoort di Belanda. Cees adalah seorang juru gambar asal Amersfoort yang bekerja di Hollandia. Ia juga pernah menjadi penjaga gawang di klub WIK, setim dengan Daniel Hanasbey.
Ia terpukau melihat ketajaman Daniel di depan gawang, dan melaporkan ke HVC Amersfoort bahwa ada seorang striker dari Hollandia yang punya kemampuan luar biasa.
Catatan itulah yang meyakinkan Aart Mosterd, ketua klub HVC, untuk membiayai perjalanan panjang Daniel muda ke Eropa. HVC yang saat itu sedang terseok-seok di papan bawah klasemen, memutuskan untuk bertaruh pada bakat Daniel.
“Tahun 1959 ia berangkat ke Belanda. Di sana, ia bergabung dengan klub HVC Amersfoort di Utrecht, yang merupakan klub milik perusahaan kereta api di Belanda saat itu,” kata Albert yang juga anggota Komisi IV DPR Papua.
Mantan pemain Persipura era 70-an, Jafeth Sibi juga masih mengenang dengan jelas bagaimana kehebatan seorang Daniel Hanasbey ketika bermain di kompetisi sepak bola Hollandia.
”Waktu kecil dulu saya nonton kakak-kakak dorang (mereka) bertanding di Berg En Dal. Ada Daniel Hanasbey juga waktu itu, mereka main sama-sama dengan orang Belanda. Dia jadi pencetak gol terbanyak, posisinya striker, dia pemain top. Dia berangkat ke Belanda dan berkarier di sana,” kata Jafeth.
Benny Jensenem yang juga mantan pemain Persipura era 70-an juga mengenal nama Daniel Hanasbey. Benny yang cukup detail dalam pengarsipan, bahkan mencatat nama Daniel Hanasbey sebagai pemain berposisi penyerang yang berkemampuan luar biasa.
“Daniel Hanasbey itu pemain awal-awal di kompetisi Hollandia. Dia salah satu pemain yang hebat pada masanya,” kata Benny.
Dicintai publik Amersfoort
Tiba di Amersfoort, Belanda, Daniel tinggal di sebuah kamar sewaan di jalan Esdoornstraat. Ia tinggal seatap dengan pasangan lanjut usia, keluarga Smit, yang ayahnya adalah pensiunan pegawai kereta api. Di rumah yang tenang itulah Daniel mulai mencoba beradaptasi dengan budaya, makanan, dan tentu saja cuaca.
Debut Daniel bersama HVC Amersfoort terjadi pada 27 Desember 1959. Sekitar 5.000 penonton memadati stadion Birkhoven untuk melihat ‘si anak muda dari Papua’ beraksi melawan Helmond Sport. Meski tidak mencetak gol dalam kemenangan 4-0 itu, teknik individu dan visi bermain Daniel langsung mendapat pujian.
Ia bermain dengan sepatu bola yang sama dengan pemain lain, mematahkan prasangka bahwa pemain dari daerah jauh biasanya bermain tanpa alas kaki.

Namun, tantangan terbesar Daniel bukanlah lawan, tapi udara dingin yang belum terbiasa ia rasakan.
“Beberapa kali saya kesulitan bernapas, yang membuat saya tidak bisa berlari sangat cepat,” kata Daniel sebagaimana yang ditulis oleh media De Stadsborn.
Karakter Daniel yang pendiam dan bersahaja justru membuatnya cepat dicintai oleh para pendukung HVC. Anak-anak muda Amersfoort sering mengerumuninya setelah sesi latihan hanya untuk meminta tanda tangan atau sekadar bertanya, “Daniel, apakah kamu tidak kedinginan?” Sambil menaikkan kerah jaketnya. Daniel biasanya hanya akan tersenyum.
Statusnya sebagai seorang pemain sepak bola dari negeri nun jauh merupakan hal yang menarik di Amersfoort. Tanda tangannya sangat dihargai oleh para pemuda Amersfoort seperti harta karun.
Ketika seorang reporter dari Het Parool mengunjunginya pada Februari, ia sudah menjadi warga Amersfoort yang terkenal. Orang-orang dari berbagai kalangan sangat mengenalnya.
Mereka menggambarkannya sebagai orang yang sederhana, pendiam, dan agak tertutup. Tapi, tidak banyak bicara itu sangat dihargai pada saat itu. Juga sangat berbeda dari rekan-rekan setimnya di HVC yang berlatarbelakang anak-anak dari lingkungan kelas pekerja di Amersfoort, di mana membual dan berbuat nakal sangat dihargai.
Ketika tim utama HVC libur, Daniel bermain di tim kedua melawan Hilversum 2. Ia mencetak dua gol pertamanya di sana. Butuh waktu untuknya beradaptasi. Dalam kondisi musim dingin, di lapangan yang keras dan licin, ia sedikit kesulitan mengeluarkan kelincahannya. Ia baru mencetak gol pertamanya untuk HVC utama pada 7 Februari 1960, di kandang melawan Fortuna Vlaardingen (2-0).
Sayangnya, Daniel belum mendapatkan jaminan bermain penuh di tim utama HVC. Ia menghadapi persaingan ketat dengan Wout Heinen, seorang striker produktif dari Spakenburg yang bahkan berhasil masuk ke tim B Belanda. Daniel hanya berada di bangku cadangan ketika timnya lolos hingga semifinal di Piala KNVB pada musim semi 1960.
Lebih dari sekadar sepak bola
Kontrak Daniel di HVC diperpanjang satu tahun lagi pada 1962, tetapi setelah musim 1962-1963, ia dimasukkan ke daftar transfer. Ia tidak menemukan klub profesional baru dan kemudian bermain selama beberapa musim sebagai pemain amatir di SEC di Soest.
Sementara itu, ia mengikuti kursus kepelatihan. Semua profesional pada waktu itu memiliki pekerjaan sampingan. Ia sempat menjadi juru gambar teknik di sebuah ‘perusahaan industri’ (tidak diketahui perusahaan mana), tetapi ia berhenti setelah hanya setahun.
Dengan dukungan finansial dari Royal Association East and West dan KNVB, Daniel diberi kesempatan untuk mengikuti kursus di Central Institute for the Training of Sports Leaders, yang lebih dikenal sebagai CIOS di Overveen. Di sana ia memperoleh lisensi kepelatihannya pada 1966.
Tiga tahun kemudian, 1969, Daniel telah tinggal di Utrecht untuk beberapa waktu, di Leidseweg, bersama istrinya. Mereka memiliki tujuh anak. Kemudian, keluarga itu pindah ke Nieuwegein. Daniel bekerja untuk Perusahaan Kereta Api Belanda di Utrecht dan kemudian menjadi administrator di sebuah perusahaan komputer.
”Di Belanda ia menikah dengan perempuan Belanda. Salah satu anak laki-lakinya itu bernama Moses Hanasbey, dia sekarang salah satu putra daerah anak Injros peranakan Belanda yang terkenal sebagai lawyer di sana. Satu anak laki-lakinya meninggal. Anak perempuannya yang empat masih ada Nansam, Injir, Barsam, dan Monika,” kata Albert.
Gelar Diploma CIOS-nya memberikan penghasilan sampingan yang lumayan. Ia menjadi instruktur tenis dan juga pelatih sepak bola di berbagai klub amatir. Pada 1982, ia sempat muncul dalam pemberitaan karena disebut-sebut akan menjadi pelatih tim nasional Papua Nugini. Sayangnya, rencana itu tak pernah menjadi kenyataan.
Setahun kemudian, pada usia 44 tahun, ajal menjemputnya. Saat memberikan pelajaran tenis, ia jatuh sakit dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Daniel Hanasbey dimakamkan di Nieuwegein.
Daniel mungkin tidak memiliki daftar trofi yang panjang di Eropa. Namun, ia meninggalkan jejak yang tak terhapuskan sebagai pionir dari Tanah Papua. Ia membuktikan bahwa seorang pemuda dari kampung Injros bisa menembus batas, bermain di level profesional, dan dihormati sebagai pribadi yang luhur di negeri orang.
Pada 2015, keluarga Daniel memberikan izin untuk pembuatan piala (bekker) dari perak asli di Utrecht. Piala ini dibawa pulang ke kampung Injros dan diserahkan kepada Kepala Kampung saat itu, Orgenes Merauje, untuk rencana turnamen “Daniel Riauw Hanasbey”.
Hingga saat ini, sosok Daniel Hanasbey masih tetap menjadi legenda di Kampung Injros. Albert Merauje bahkan terus memberikan motivasi kepada generasi muda untuk mengikuti jejaknya.
”Saya selalu bilang kepada anak-anak, kamu harus bermain seperti Bapak Daniel Hanasbey, yang menjadi pemain hebat dan punya nama besar,” kata Albert.
Ia juga memiliki visi besar untuk mengabadikan nama sang legenda secara fisik di kampung halamannya.
“Saya punya keinginan dan sudah sampaikan kepada Kepala Dinas PU, kalau ada anggaran buat sebuah lapangan dan kasih nama Lapangan Daniel Hanasbey agar kita bisa menemukan lagi talenta-talenta hebat dari kampung,” ujarnya. (*)


























Discussion about this post