Jayapura, Jubi – Sepekan menjelang Idulfitri, denyut nadi perekonomian di lapak pedagang pakaian kaki lima di Pasar Hamadi, Kota Jayapura, provinsi Papua tampak berjalan tersendat. Lorong-lorong yang biasanya riuh oleh suara tawar-menawar kini justru menghadirkan jeda panjang—hening yang tak biasa untuk momentum yang selama ini identik dengan lonjakan konsumsi.
Di sejumlah titik lain di ibu kota provinsi Papua itu, suasana serupa juga terasa. Kontras dengan beberapa tahun lalu, ketika sepekan menjelang lebaran menjadi masa panen bagi para pedagang, kini langkah kaki pengunjung yang melintas di depan lapak bahkan bisa dihitung dengan jari.
Suara pedagang yang biasanya bersahut-sahutan menawarkan barang dagangan terdengar lebih lirih. Aktivitas tawar-menawar pun tak lagi menjadi denyut utama ruang-ruang jual beli tersebut.
Husna (54), pedagang pakaian kaki lima di Pasar Hamadi, duduk terdiam di antara tumpukan barang dagangannya. Ia menunggu pembeli yang tak kunjung datang, pada waktu yang semestinya menjadi puncak keramaian.
“Sepi, bukan tahun ini saja. Sudah sejak berapa tahun sebelumnya, sekitar dua tiga tahun lalu lah,” katanya saat mengobrol dengan Jubi, Sabtu (14/3/2026).
Meski masih ada pembeli yang datang, jumlahnya jauh dari cukup untuk menjaga ritme usaha tetap stabil. Dalam sehari, transaksi yang terjadi tak sampai lima orang.
“Syukurnya pembeli tetap ada, tetapi tidak banyak. Kalau yang hanya lewat dan lihat-lihat lebih banyak, tetapi yang beli cuma beberapa orang saja,” akunya.
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Di kawasan Ampera, Jalan Ahmad Yani, para pedagang pakaian, sandal, dan sepatu menghadapi situasi serupa. Lapak yang dahulu padat oleh pembeli kini tampak renggang, seolah kehilangan momentum musiman yang dahulu bisa diandalkan.
“Terasa sekali sepinya, tidak seperti beberapa tahun lalu. Kalau dahulu seminggu sebelum lebaran itu sudah ramai sekali,” kata Amir, salah satu pedagang.
Bertahan di Tengah Kelesuan
Bagi Husna, pilihan untuk bertahan bukan tanpa risiko. Ia menyadari bahwa usaha yang digelutinya semakin tergerus oleh perubahan zaman. Namun, berpindah profesi bukan perkara mudah.
“Memang sudah ada beberapa teman yang tutup usahanya karena rugi katanya. Kita jualan kan disesuaikan dengan modal, untuk beli barang dagangan dan sewa tempat juga,” ujarnya.
Selama 20 tahun, Husna menggantungkan hidup dari berdagang pakaian—melanjutkan usaha orang tuanya. Pengalaman panjang itu membentuk ketahanan, sekaligus penerimaan bahwa fluktuasi adalah bagian dari siklus.
“Ya sabar-sabar saja, kita yang sudah lama jualan itu sudah tahu risikonya. Tidak selalu usaha itu ramai dan tidak selamanya sepi. Saya bertahan saja karena ini sudah jadi pekerjaan dari masih muda dahulu,” ujarnya.
Harapan kini bertumpu pada hari-hari terakhir menjelang lebaran—periode yang tersisa untuk sekadar memutar modal.
Subandi, pedagang lain di pusat Kota Jayapura, menggambarkan situasi yang semakin menekan. Ia terpaksa mengubah strategi dengan mengurangi stok barang secara signifikan.
Jika sebelumnya ia berani menyimpan puluhan kodi pakaian, kini hanya beberapa lusin yang disiapkan. Penurunan daya beli membuat risiko penumpukan barang menjadi terlalu besar.
Pendapatan pun ikut tergerus. Dari yang sebelumnya bisa mencapai Rp2 juta per hari pada musim ramai, kini menembus Rp500 ribu saja sudah dianggap cukup.
“Sekarang tidak menentu sekali, bisa dibilang yah dapat sedikit saja sudah bersyukur. Makanya sekarang saya sudah tidak menyetok banyak, hanya yang biasa sering dicari orang saja,” kata Subandi.
Dampaknya meluas hingga ke struktur operasional usaha. Jika dulu pedagang mampu mempekerjakan karyawan, kini sebagian besar harus bekerja sendiri untuk menekan biaya.

Pergeseran Gaya Hidup Konsumen
Di sisi lain, perilaku konsumen mengalami perubahan signifikan. Pusat perbelanjaan modern—mal dan supermarket—menjadi magnet baru. Kenyamanan ruang, variasi produk, serta strategi diskon agresif membuatnya lebih menarik.
Istilah promosi seperti “buy one get one” hingga potongan harga besar menjadi daya tarik yang sulit ditandingi oleh pedagang kaki lima.
Putri (30), seorang karyawati swasta, mengakui preferensinya beralih ke mal.
“Kalau di mal pakaiannya lebih bagus dan banyak pilihan. Harganya juga tidak terlalu mahal,” kata Putri.
Selain itu, transformasi digital mempercepat pergeseran ini. Platform belanja daring kini menjadi kanal utama bagi banyak konsumen.
Maryati (49), misalnya, lebih memilih berbelanja secara online untuk kebutuhan anak-anaknya.
“Saya lebih sering belanja daring. Soalnya sama saja kualitasnya, tetapi kalau belanja daring lebih gampang saja, tidak capai juga berdesak-desakan,” katanya.
Kemudahan akses, variasi produk, serta fleksibilitas pembayaran—termasuk sistem cicilan—menjadi faktor pendorong utama.

Teknologi dan Perubahan Ruang Sosial
Secara historis, pasar tradisional dan lapak kaki lima bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan juga ruang sosial. Interaksi tawar-menawar membangun relasi, menciptakan kedekatan antarindividu.
Namun kini, perubahan tidak hanya terjadi pada angka penjualan, tetapi juga pada struktur sosial itu sendiri.
Lorong-lorong yang sunyi mencerminkan lebih dari sekadar kelesuan ekonomi. Ia menjadi indikator perubahan fundamental dalam cara masyarakat berinteraksi.
Dr. Hanro Yonathan Lekitoo, antropolog dari Universitas Cenderawasih, melihat teknologi sebagai faktor dominan dalam transformasi ini.
“Jika tidak masuk ke dalam sistem itu, maka kita akan ketinggalan zaman. Kita kembali ke masa lalu dan perlahan tersingkir dari sistem sosial yang ada,” kata Dr. Hanro.
Ia mengingatkan bahwa pada era 1970-an hingga pertengahan 1990-an, interaksi sosial masih sangat bergantung pada ruang publik. Namun sejak awal 2000-an, lanskap itu berubah drastis.
“Dunia hari ini memang dikendalikan oleh teknologi. Jadi kalau kita tidak bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, pasti kita akan terkalahkan oleh dunia,” ujarnya.
Bagi pedagang seperti Husna dan Subandi, tantangan yang dihadapi kini melampaui sekadar persaingan harga. Mereka berada di persimpangan antara bertahan dengan cara lama atau beradaptasi dengan sistem digital yang terus berkembang.
Di titik ini, kemampuan bertransformasi bukan lagi pilihan, melainkan prasyarat untuk bertahan dalam ekosistem ekonomi yang kian terdigitalisasi. (*)
























Discussion about this post