Sentani, Jubi – Ada dua pasar di Sentani yang menjadi tumpuan pertukaran ekonomi bagi 84.648 jiwa yang hidup dan tinggal di ibu kota Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, itu, yakni Pasar Pharaa dan Pasar Lama Sentani. Kedua pasar itu terletak dalam satu distrik yang sama, namun terpisah tempatnya.
Pasar Lama Sentani adalah pasar yang lebih lama. Saat awal berdiri, pasar itu disebut Pasar Sentral Sentani. Pasar itu kini lebih dikenal dengan sebutan Pasar Lama, sebutan yang muncul setelah Pemerintah Kabupaten Jayapura mendirikan Pasar Pharaa Sentani.
Kondisi kedua pasar itu sangat berbeda. Pasar Pharaa menyerupai pasar pada umumnya. Pasar itu terdiri dari lima bangunan besar berjejer, yang masing-masing dilengkapi dengan puluhan los dan kios serta tempat jualan. Di Pasar Pharaa, aktivitas jual beli berlangsung sejak pagi hingga siang hari.
Pasar Lama Sentani lebih mirip kompleks pemukiman, dengan seluruh tempat berdagang seperti toko, kios, swalayan dan toko kelontong, warung makan, maupun pedagang musiman berjejer di sepanjang pinggiran jalan utama menuju Kantor Kelurahan Dobonsolo.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Di Pasar Lama Sentani, aktivitas jual-beli ikan hanya terjadi pada sore hingga malam hari, dan selalu ramai dengan para pembeli. Ada orang yang membeli dengan sistem borongan, ada pula yang membeli sekadar untuk kebutuhan keluarganya.
Pasar Lama lebih dekat dengan kawasan permukiman, membuat pasar itu lebih ramai dibandingkan Pasar Pharaa. Sebagian besar pedagang ikan dari Danau Sentani lebih memilih berjualan di Pasar Lama, karena faktor waktu, jarak, dan banyak pembelinya. Pasar Lama Sentani tetap hidup dan menghidupi.
Potensi perikanan dari Danau Sentani beragam, seperti ikan gabus, nila, patin, lohan, mujair, dan gabus toraja atau gastor. Beragam ikan itu ditangkap oleh para nelayan dari berbagai kampung di tepian Danau Sentani. Ikan tangkapan diperoleh dengan memancing, menjaring, atau bahkan berburu dengan menyelam di dalam danau (balobe). Ada pula ikan hasil budidaya nelayan.
Pasar Lama lebih menguntungkan
Miryam Tokoro, salah satu pedagang ikan di Pasar Lama Sentani menuturkan kini ongkos berjualan para penjual ikan Danau Sentani semakin banyak. “Waktu dulu, ada mobil angkutan pedesaan yang melayani masyarakat ke pasar. Sekarang [saya] harus bayar mahal dengan motor ojek,” ujar pedagang ikan asal Kampung Simporo itu saat berjualan di Pasar Lama pada Sabtu (11/4/2026).
Miryam Tokoro bercerita mengapa banyak pedagang ikan Danau Sentani lebih senang berjualan di Pasar Lama Sentani. “Di Pasar Pharaa, [kami] bisa seharian hanya menunggu pembeli datang,” katanya.
Seperti kebanyakan pedagang ikan dari Danau Sentani, Miryam Tokoro biasa berangkat ke pasar dengan membawa ikan jualan yang telah dikemas dalam beberapa karung beras ukuran 100 kilogram. Sekali berjualan, ia bisa membawa satu hingga tiga karung ikan dari kampungnya, menumpang speedboat menuju Dermaga Yahim di darat. Dari Dermaga Yahim, ia akan menumpang ojek menuju Pasar Lama atau Pasar Pharaa.
Menurutnya, pergi dari kampungnya ke Pasar Lama maupun Pasar Pharaa sama-sama membutuhkan ongkos. Masalahnya, omset berjualan Tokoro di Pasar Pharaa terlalu kecil, sehingga tidak cukup untuk mengembalikan ongkos transportasinya itu.
“Ongkos speedboad [dari kampung ke Dermaga Yahim di pinggir danau] pulang-pergi Rp20 ribu. [Dari sana, kami harus menumpang ojek]. Ongkos ojek ke Pasar Lama Rp40 ribu. Jika dari Dermaga Yahim ke Pasar Pharaa Rp50 ribu, bisa-bisa Rp70 ribu,” kata Miryam.
Pasar Lama Sentani dipilih bukan cuma karena lebih murah dijangkau dari Dermaga Yahim, tapi juga karena pasar itu lebih ramai pembeli. Saking ramainya pasar itu, para pedagang ikan juga bisa bertransaksi di antara sesama pedagang ikan.
Deli adalah salah satu pedagang ikan di Pasar Lama yang dagangannya selalu laris. Ia kerap membeli ikan yang dibawa pedagang lainnya untuk ia jual lagi. “Tadi ada bawah tiga karung, dua karung sudah laku terbeli, sisa satu karung ini. Saya ada beli ikan lagi dari teman, untuk tambah jualan,” kata Deli.
Menurut Deli, sebagian besar pedagang ikan yang berjualan di Pasar Lama berasal dari berbagai kampung di bagian Sentani Tengah dan Selatan (Ebungfauw), seperti Kampung Yoboi, Ifale, Yobeh, Atamali, Putali, Simporo, Baborongko, Abar, Kensio dan Hobong.
Deli menjelaskan waktu berjualan di Pasar Lama lebih singkat dibandingkan waktu berjualan di Pasar Pharaa, hanya sore hingga petang hari. Lokasi berjualan ikan pun jauh dari kata layak apalagi aman, karena mereka berjualan di pinggir jalan raya. Akan tetapi, meski waktu berjualan di Pasar Lama singkat, para pedagang ikan di sana tertolong oleh banyaknya pembeli yang datang tiada henti.
Suasana lapak para pedagang ikan di pinggir Jalan Pasar Lama pun meriah dan hidup. Tawar menawar harga ikan adalah hal biasa, meski kebanyakan penjual sudah menetapkan harga untuk beragam ikan dagangannya. Jumlah pedagang ikan di pinggir jalan itu mencapai puluhan orang, bahkan bisa mencapai ratusan orang jika musim teduh.
Deli biasa menawarkan ikan jualannya dengan satuan per tumpuk, terdiri dari lima hingga tujuh ekor ikan. “Ikan mujair cukup besar, per tumpuk harganya Rp100-150 ribu. Kami jarang jual dalam harga kiloan. Para pengelola warung makan lebih suka beli ikan yang [dijual dalam satuan] tumpuk,” ujarnya.
Deli menjelaskan jika ia berjualan, ia biasa membawa antara satu hingga tiga karung ikan tangkapannya. Hasil jualannya ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, membiayai sekolah anak-anaknya. Ia juga menyisihkan sebagian pendapatannya untuk modal usaha, seperti membeli jaring dan waring untuk beberapa petak karamba ikannya.
“Kalau yang dibawa tiga karung dan laku semua, [pendapatan] kami bisa mencapai Rp4,5 juta. Kalau langganan dengan warung, [menjual ikan] 2 karung saja bisa dapat Rp3 juta lebih,” katanya.
Memimpikan pasar ikan
Pemerintah Kabupaten Jayapura sudah membangun Pasar Pharaa yang diproyeksikan sebagai pasar utama di Sentani, ibu kota Kabupaten Jayapura. Akan tetapi, nyatanya pedagang ikan Danau Sentani maupun pembeli sama-sama lebih suka bersua dan bertransaksi di Pasar Lama Sentani.
Bagi para pedagang ikan Danau Sentani, Pasar Lama jauh lebih hidup, meriah, dan menjanjikan keuntungan. Bagi para pembeli, Pasar Lama jauh lebih mudah dijangkau, dan menawarkan banyak pilihan ikan segar. Pasar Lama Sentani tetap hidup dan menghidupi.
Sayangnya, para pedagang ikan maupun para pembeli di Pasar Lama Sentani bertransaksi di tempat yang jauh dari kata nyaman, apalagi aman. Selain itu, di Pasar Lama pun tidak ada fasilitas pendukung bagi para pedagang ikan di sana.
Deli memimpikan pasar yang lebih layak bagi para pedagang ikan, yang mudah dijangkau para pedagang maupun pembeli, dan punya fasilitas untuk mendukung aktivitas perdagangan di sana. “[Saya ingin] pasar ikan air tawar [yang] ada fasilitas coolbox, cool storage, oven pemanas atau tempat asar dan panggang ikan segar. Bila perlu, bangun pasar khusus untuk ikan air tawar dan ikan laut yang letaknya dekat dengan para pedagang dan nelayan ikan,” kata Deli.
Mimpi Deli itu layak. Ikan dari Danau Sentani, khususnya ikan mujair, memiliki cita rasa yang khas dan diminati pembeli. Beragam hasil perikanan Danau Sentani, baik perikanan tangkap ataupun perikanan budidaya, telah menjadi bahan pangan yang banyak dikonsumsi, baik untuk diolah sebagai santapan keluarga, rumah makan, maupun sajian berbagai hajatan besar seperti pernikahan atau acara pemerintah.
Yogi, salah satu pemilik warung ikan bakar di pinggir ruas jalan Doyo Baru – Depapre, mengatakan bahwa warung ikan bakar yang dikelolanya ini menggunakan ikan mujair Danau Sentani sebagai bahan sajian utamanya. Usaha Yogi pun telah berkembang pesat. Awalnya, warung makannya hanya buka pada sore hingga malam hari, dan hanya memiliki satu pemanggang ikan.
Kini, warung Yogi berjualan sejak pagi hingga malam hari, dan telah dilengkapi dengan tiga pemanggang ikan. Dengan ketiga pemanggang itu, Yogi bisa dalam satu waktu membakar hingga 50 ekor ikan untuk memasak sajian yang dipesan para pelanggannya.
“Setiap dua hari sekali, saya belanja ikan mujair di Pasar Lama Sentani. [Setiap belanja, saya membeli] empat karung ikan, [dikemas dalam karung] ukuran 100 kilogram. [Ikan yang saya beli] dengan ukuran selebar telapak tangan orang dewasa,” katanya.
Yogi menyebut ikan mujair yang dijual para mama di pinggir Jalan Raya Pasar Lama adalah ikan segar yang bagus, dan merupakan pilihan terbaik untuk bahan sajian warung makannya. Yogi pun terbiasa mencari ikan terbaik di tengah sesaknya lapak para pedagang ikan di pinggir jalan raya, di atas drainase, dengan segala keriuhannya.
“Untuk tempat, saat ini tidak ada masalah. Tetapi, alangkah baiknya [jika] pemerintah daerah memberikan solusi tempat jual yang lebih layak serta lebih terjangkau oleh mama-mama dari pesisir Danau Sentani,” katanya.
Penataan Pasar Lama
Pemerintah Distrik Sentani sudah berencana menata ulang Pasar Lama Sentani. Rencananya, penataan ulang secara menyeluruh itu akan dilakukan pada awal 2026. Pada akhir 2025 lalu, sudah ada kesepakatan bersama di antara pemerintah daerah, para pedagang pasar, dan pemilik ulayat untuk menata ulang Pasar Lama, namun rencana itu belum dilaksanakan.
Kepala Distrik Sentani, Jack Judzon Puraro menjelaskan bahwa rencana penataan Pasar Lama Sentani telah disepakati RT/RW, pimpinan Kelurahan Hinekombe dan Dobonssolo, komunitas dan aliansi para pedagang, serta masyarakat yang tinggal di dekat Pasar Lama. Kesepakatan itu juga telah dilaporkan kepada Pemerintah Kabupaten Jayapura.
“[Rencana itu] bukan relokasi dari Pasar Lama ke tempat baru, tetapi penataan dan memberikan tempat yang lebih layak bagi para pedagang. [Sekarang] sudah ada beberapa los atau bangunan baru yang dibangun di bagian dalam [pasar, di] sebelah kiri jalan. Tetapi belum ditempati saja oleh para pedagang,” ujarnya.
Puraro menyatakan jika para pedagang ikan Danau Sentani lebih memilih berjualan di Pasar Lama Sentani, pilihan itu hak para pegagang. Akan tetapi, ia mengingatkan para pedagang ikan Danau Sentani untuk tidak berjualan di tempat umum atau tempat yang bukan pasar.
“Pasar Lama lebih dekat dari Pasar Pharaa, [dan penjual ikan] di pinggir jalan. Setiap sore hingga malam, [Pasar Lama] terlihat ramai pembeli, karena banyak masyarakat yang tinggal di perumahan di bawah pasar. Rata-rata mereka adalah pegawai yang pulang kerja, baik itu [karyawan] swasta [maupun] pegawai negeri,” ujar Puraro.
Wakil Ketua I DPR Kabupaten Jayapura, Hariyanto Piet Soyan menjelaskan pihaknya belum mengetahui rencana penataan Pasar Lama Sentani. Soyan memaparkan ada banyak keluhan masyarakat soal penataan tempat di Pasar Lama, karena tempat berjualan yang tersedia tidak memadai. Ia juga telah menerima informasi soal kurangnya minat pedagang maupun pembeli bertransaksi di Pasar Pharaa.
Menurutnya, penataan Pasar Lama Sentani maupun Pasar Pharaa harus dikoordinasikan secara lintas sektor, melibatkan Dinas Pendapatan, Dinas Perhubungan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Dinas Pekerjaan Umum. “Sudah beberapa kali saya sampaikan dan berikan masukan, bahwa [persoalan] dua pasar ini menjelaskan bahwa pemerintah daerah belum hadir sepenuhnya dalam hal peningkatan ekonomi dan kesejahteraan,” kata Soyan.
Ia menyatakan Pasar Lama Sentani lebih diminati pedagang ikan Danau Sentani maupun pembeli karena pasar itu mudah dijangkau. “Ruas Jalan Pasar Lama menghubungkan sejumlah permukiman warga, seperti KPR BTN, Graha Rumah Rakyat, BTN Puskopad, BTN Matoa, dan permukiman penduduk lainnya,” kata Soyan. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




Discussion about this post