Jayapura, Jubi – Dekan Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Cenderawasih Dr.rer.nat. Henderite L. Ohee, M.Si mengatakan dari 35 jenis ikan di Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, 50 persen di antaranya adalah ikan introduksi atau ikan eksotis termasuk, ikan gabus toraja atau Channa striata dan ikan louhan.
” Miris sekali tiga bulan lalu jaring nelayan terjaring ikan sapu-sapu,” kata Dekan MIPA Uncen dalam seminar webinar Nasional “Konservasi Ekosistem Danau Sentani: Menjaga Keanekaragaman Hayati di Tengah Perubahan Lingkungan Perspektif Akademisi, Peneliti, dan Pengambil Kebijakan”, Selasa (2/6/2026).
Katanya, penemuan ini cukup mengejutkan, sebab sangat mengancam bagi jenis ikan ikan asli di Danau Sentani seperti ikan Pelangi, ikan gabus asli Danau Sentani dan lain lain.
” Sejak 2013 saya menghimpun data ikan menemukan 35 jenis ikan, tetapi penelitian terakhir 2021-2024 masih ada 22 jenis ikan, di mana lebih dari 50 persen adalah ikan introduksi,” ujarnya.
Menurut Ohee, dari 22 jenis itu, ikan asli ada 9 jenis, ikan introduksi atau dari luar 13 jenis, termasuk louhan dan ikan gastor.
Ia mengatakan, salah satu faktor terpenting hilangnya ikan lokal karena kompetisi perebutan makanan terutama lumut di dalam Danau Sentani antara ikan louhan dan ikan gabus asli Sentani, termasuk ikan pelangi merah Danau Sentani.
“Ikan louhan berkembang biak sangat cepat karena juga memakan telur dari ikan Pelangi sentani,” ucapnya.
Sementara itu peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Gadis Sri Haryani mengatakan, masuknya ikan jenis sapu-sapu atau Pterygoplichthys ke dalam Danau Sentani, mungkin warga tidak tahu dan membuangnya, sebab ikan ini sebenarnya ikan hias di dalam akuarium.
“Mungkin mereka tidak tahu dan membuang dari dalam akuarium mereka sehingga bisa saja menyebar ke dalam danau, sehingga bisa berkembang menjadi ikan besar dan predator,” kata Gadis Sri Haryani.
Katanya, secara tradisional masyarakat di Danau Sentani juga memiliki kearifan budaya tentang burekheng, di mana menjaga dan melestarikan ikan gabus Danau Sentani.
Menurutnya, burekheng atau sero termasuk model konservasi dan penangkapan ikan tradisional yang telah lama dipraktikkan oleh masyarakat di pesisir Danau Sentani.
“Praktik kearifan lokal ini menggunakan pagar atau jaring berbahan alam seperti pelepah dan daun sagu, untuk memagari area perairan guna memelihara dan membesarkan ikan,” ucapnya.
Ia menambahkan, kearifan lokal ini menjadi salah satu solusi dalam menjaga ekosistem Danau Sentani. Namun Gadis Sri Handayani mengakui kualitas air Danau Sentani juga sangat penting dalam menjaga pelestarian ikan-ikan asli di sana.
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua, Dave H. I. Muchaimin, ST, M.Eng., SC. hanya mengingatkan bahwa dalam menyusun Rencana Tata Ruang Kabupaten maupun Provinsi haris mengutamakan kawasan konservasi.
Sebab, sedimentasi Danau Sentani terjadi karena hutan dan Kawasan Cyclop terganggu akibat perubahan bentangan alam hingga terjadi bencana alam pada 2019.
“Jangan sampai Kawasan konservasi terganggu. Danau Sentani punya banyak dasar hukum sampai Perdasus dan masuk dalam 15 prioritas danau nasional,” ucapnya.
Ia mengingatkan bahwa penyempitan alur sungai Kali Jaifuri memang terjadi karena adanya dugaan penambangan liar, sehingga menyebabkan pendangkalan sungai yang menjadi tempat keluarnya air Danau Sentani itu.
“Saya berterima kasih karena bapak Bupati Kabupaten Jayapura mengunjungi kali Anafre akibat tambang liar yang memakai alat alat besar termasuk ekskavator,” katanya.
Pihaknya juga melakukan penghijauan dengan menanam tanaman kayu putih dan juga pembersihan Danau Sentani dari ancaman eceng gondok.
“Saya sependapat dengan Dr Henny Ohee untuk berkolaborasi dalam menjaga ekosistem Danau Sentani dengan melibatkan semua pihak termasuk warga dan LSM serta anak anak sekolah menjaga ekosistem Danau Sentani,” ujar Dave H. I. Muchaimin.
Prof. Dr. Daniel Lantang justru mengingatkan bahwa ikan ikan jenis asli akan punah karena saat ini di Pasar Sentani sudah jarang ditemukan ikan gabus asli Danau Sentani, Oxyeleotris heterodon.
“Saya selalu jalan jalan ke Pasar Sentani seminggu tiga kali sudah sangat jarang sekali menemukan ikan ikan asli gabus Sentani,”katanya sedih seraya mengingatkan bahwa ikan asli jelas sangat terancam ke depan.” kata Daniel Lantang.
Adapun jenis ikan asli Danau Sentani adalah hiu gergaji (atau pari gergaji) yang telah hilang sejak lama dan terakhir kali ditangkap nelayan pada tahun 1974.
Ikan endemik Papua ini punah dari perairan tersebut akibat eksploitasi berlebihan, kerusakan lingkungan, dan penggunaan jaring insang.
Selain itu Dr Henny Ohee juga mengatakan ikan Pelangi atau Rainbouw Fish Sentani juga mulai punah,ada dua jenis ikan ini di Danau Sentani masing masing, termasuk endemik dan asli berasal dari Danau Sentani adalah Sentani Rainbowfish dan Red Rainbowfish.
Menurut Kepala Balai Sungai Papua, Dave H. I. Muchaimin, ST, M.Eng., SC, ikan-ikan Pelangi Sentani ini banyak ditemukan di muara sungai sungai di Danau Sentani.
Sedangkan asli lainnya adalah, ikan habus sentani (Oxyeleotris heterodon), spesies ikan endemik yang menjadi kebanggaan masyarakat di sekitar perairan Danau Sentani.
Ikan ini dikenal dengan nama lokal kayaou dan menjadi bahan utama untuk hidangan tradisional bernutrisi tinggi seperti Kha Ebhe Hele (Gabus Kuah Hitam). (*)




Discussion about this post