• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Mamta

Film Pesta Babi: Gambaran derita masyarakat adat Papua

May 23, 2026
in Mamta
Reading Time: 3 mins read
0
Penulis: Silpester Kasipka - Editor: Arjuna Pademme
Film Pesta Babi

Suasana nobar film Pesta Babi-Kolonialisme di zaman kita, di asrama mahasiswa Mimika Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua, Jumat (22/5/2026) malam-Jubi/Natalia Andilan

0
SHARES
143
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Film dokumenter Pesta Babi – Kolonialisme di zaman kita dianggap sebagai gambaran penderitaan masyarakat adat Papua, yang kehilangan hutan dan ruang hidup mereka, karena kepentingan investasi.

Ini disampaikan salah satu mahasiswa asal Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Ronald Murib saat sesi diskusi usai nonton bareng (nobar) film Pesta Babi-Kolonialisme di zaman kita di asrama mahasiswa Mimika Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua, Jumat (22/5/2026) malam.

“Film Pesta Babi-Kolonialisme di zaman kita tersebut menggambarkan penderitaan masyarakat adat yang kehilangan hutan, kebun, tempat berburu, dan ruang hidup akibat ekspansi investasi berskala besar di [Provinsi] Papua Selatan,” kata Ronald Murib.

Menurutnya, masyarakat adat menjadi pihak yang paling dirugikan dengan kehadiran investasi itu. Mereka kehilangan tanah adat tanpa memperoleh manfaat ekonomi yang layak dari proyek-proyek tersebut.

“Masyarakat adat kehilangan tempat mencari makan dan tanah adat mereka dirampas, tetapi mereka tidak mendapat keuntungan,” ujarnya.

Ronald berharap masyarakat adat di seluruh Tanah Papua dapat menjaga dan mempertahankan wilayah adat mereka, agar pengalaman yang terjadi di wilayah Selatan Papua, tidak meluas ke daerah lain di Tanah Papua.

Jurnalis lingkungan, Asrida Elisabeth yang hadir sebagai nasumber saat diskusi mengatakan, berbagai proyek investasi dan pembangunan di Papua, termasuk Proyek Strategis Nasional atau PSN, seharusnya tetap tunduk pada aturan perlindungan lingkungan hidup dan penghormatan terhadap hak masyarakat adat.

“Bahkan kebijakan yang dianggap baik oleh pemerintah harus diuji dulu apakah sesuai dengan aturan terkait lingkungan dan masyarakat,” kata Asrida.

BERITATERKAIT

Sutrada: Film Pesta Babi mewakili kisah eksploitasi SDA di Indonesia

Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

Pelarangan nobar Pesta Babi: Pembungkaman suara kritis tentang Tanah Papua

Dialog Lintas Iman: Evaluasi kebijakan yang memperparah krisis kemanusiaan di Tanah Papua

Menurutnya, proyek-proyek besar seperti PSN di Merauke tidak hanya berdampak pada kerusakan hutan dan ekosistem, juga mengubah kehidupan sosial masyarakat adat yang selama ini bergantung pada tanah, hutan, dan wilayah adat mereka.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Ia menilai pemerintah lebih menitikberatkan kepentingan investasi dan keuntungan ekonomi dibandingkan keselamatan ekologis serta keberlangsungan hidup masyarakat adat Papua.

Asrida juga menyoroti perubahan regulasi melalui Undang-Undang Cipta Kerja yang dinilai mempermudah perizinan investasi, dan berpotensi memperbesar eksploitasi sumber daya alam di Papua.

Katanya, film Pesta Babi-Kolonialisme di zaman kita menjadi penting karena memperlihatkan hubungan antara investasi, militerisme, dan penindasan terhadap masyarakat adat dalam satu rangkaian persoalan.

“Film ini menjahit semua masalah itu menjadi satu kesatuan. Bukan hanya soal kerusakan lingkungan atau militerisme, tetapi juga penindasan terhadap masyarakat adat. Karena itu istilah kolonialisme menjadi tepat untuk menggambarkan isi film ini,” ujarnya.

Asrida berharap film tersebut menjadi ruang belajar politik dan lingkungan bagi generasi muda Papua agar ke depan tidak mengulangi kebijakan pembangunan yang merugikan masyarakat adat maupun alam Papua.

“Saya pikir lima sampai enam tahun ke depan Papua akan dipimpin anak-anak muda yang hari ini ada di ruangan ini. Mereka harus belajar bagaimana membangun Papua yang adil bagi masyarakat adat dan juga bagi alam,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Ikatan Pelajar Mahasiswa Mimika kota studi Jayapura, Maksimus Wamenariyau mengatakan pemutaran film tersebut seharusnya tidak hanya menyasar mahasiswa, juga para pengambil kebijakan di Tanah Papua.

Ia meminta anggota DPR Papua, DPRK, dan pemerintah di enam provinsi di Tanah Papua ikut menonton film tersebut, agar memahami secara langsung dampak investasi terhadap masyarakat adat.

“Kami masyarakat hanya bisa resah setelah menonton. Tetapi para pemegang jabatan juga harus menonton supaya ada tindak lanjut dan respon nyata,” kata Maksimus Wamenariyau.

Ia juga meminta pemerintah meninjau kembali Undang-Undang Cipta Kerja yang dinilai mempersempit ruang partisipasi masyarakat adat dalam pengelolaan hutan dan tanah adat mereka.

Maksimus Wamenariyau pun mendorong pembuatan season kedua film Pesta Babi, dan menyatakan mahasiswa siap membantu memperluas diskusi film tersebut ke berbagai wilayah di Tanah Papua, termasuk di Mimika.

Sebab menurutnya, situasi yang terjadi di Merauke memiliki kemiripan dengan kondisi yang dialami masyatakat adat di Mimika, karena sama-sama menghadapi ekspansi perusahaan dan ancaman pencemaran lingkungan.

“Kesadaran mahasiswa sangat penting supaya kami bisa membangun jaringan informasi dan mengawasi masuknya perusahaan-perusahaan baru di Papua,” ujarnya.

Film dokumenter Pesta Babi-Kolonialisme di zaman kita mengisahkan bagaimana perjuangan masyarakat adat di Provinsi Papua Selatan mempertahankan tanah adat mereka dari gempuran investasi skala besar.

Film itu merekam dinamika ketika jaringan politikus, investor, aparat militer, dan gereja berhadapan dengan gerakan masyarakat adat yang mempertahankan ruang hidup mereka.

Film dokumenter tersebut menyoroti perjuangan masyarakat adat Marind, Yei, Awyu, dan Muyu yang menolak proyek biodiesel berbasis kelapa sawit dan proyek bioetanol berbahan tebu di Papua Selatan.

Melalui kisah-kisah itu, film tersebut menggambarkan dampak pembangunan skala besar terhadap tanah adat dan lingkungan hidup masyarakat Papua, sekaligus menyinggung hubungan antara eksploitasi sumber daya alam, operasi militer, dan konflik politik di Papua selama puluhan tahun.

Film itu disutradarai oleh Dandhy Laksono bersama Cypri Dale dan merupakan hasil kolaborasi antara Jubi Media, Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace Indonesia. (*)

Tags: Film Dokumenter Pesta BabiFilm Pesta BabiMasyarakat Adat PapuaTanah Papua
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Nobar Film Pesta Babi

Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

May 23, 2026
Film Pesta Babi

Pelarangan nobar Pesta Babi: Pembungkaman suara kritis tentang Tanah Papua

May 23, 2026

Pesta Babi resmi tayang dari Tanah Papua, musim nobar berlanjut

May 22, 2026

Film Pesta Babi: Kesaksian krisis kemanusiaan di Tanah Papua

May 23, 2026

Bea Cukai Jayapura musnahkan puluhan ribu batang rokok ilegal

May 22, 2026

Dialog Lintas Iman: Evaluasi kebijakan yang memperparah krisis kemanusiaan di Tanah Papua

May 22, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey
  • Latest
  • Trending
  • Comments
RSUD Biak

Gubernur Fakhiri ingin RSUD Biak jadi pusat rujukan kesehatan wilayah Saireri

May 23, 2026
Papua tengah

Wakil Ketua DPR Papua Tengah desak pemprov tingkatkan kapasitas SDM ASN

May 23, 2026
Pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

Gubernur Fakhiri letakkan batu pertama pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

May 23, 2026
Pleno

Pleno Dewan Adat se-Tanah Papua hasilkan rekomendasi untuk presiden

May 23, 2026
Nobar Film Pesta Babi

Sutrada: Film Pesta Babi mewakili kisah eksploitasi SDA di Indonesia

May 23, 2026
Nobar Film Pesta Babi

Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

May 23, 2026
Film Pesta Babi

Film Pesta Babi: Gambaran derita masyarakat adat Papua

May 23, 2026
Pesta Babi

Film Pesta Babi: Kesaksian krisis kemanusiaan di Tanah Papua

May 23, 2026
Nobar Film Pesta Babi

Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

May 23, 2026
Masyarakat Adat

Masyarakat adat Nasawat tolak skema hutan desa

May 22, 2026
Pesta Babi

Pesta Babi resmi tayang dari Tanah Papua, musim nobar berlanjut

May 22, 2026
Anak yang ditembak

Anak yang ditembak saat operasi militer di Puncak meninggal dunia

May 20, 2026
Film Pesta Babi

Film Pesta Babi: Gambaran derita masyarakat adat Papua

May 23, 2026
ikan asar

Dapur ikan asar yang dikelola tiga generasi

May 21, 2026
RSUD Biak

Gubernur Fakhiri ingin RSUD Biak jadi pusat rujukan kesehatan wilayah Saireri

0
Papua tengah

Wakil Ketua DPR Papua Tengah desak pemprov tingkatkan kapasitas SDM ASN

0
Pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

Gubernur Fakhiri letakkan batu pertama pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

0
Pleno

Pleno Dewan Adat se-Tanah Papua hasilkan rekomendasi untuk presiden

0
Nobar Film Pesta Babi

Sutrada: Film Pesta Babi mewakili kisah eksploitasi SDA di Indonesia

0
Nobar Film Pesta Babi

Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

0
Film Pesta Babi

Film Pesta Babi: Gambaran derita masyarakat adat Papua

0

English Stories

The atmosphere during the joint screening and discussion of the documentary film 'Pig Feast': Colonialism in Our Times, at the Christ the Light of the World Catholic Church Hall, Waena, Heram District, Jayapura City, Papua, Friday (22/05/2026) - Jubi/Yuliana Lantipo
Pacnews

‘Pig Feast’: A Testimony of the Humanitarian Crisis in Papua

May 23, 2026
Deputy Chairperson I of LMA Nasawat, Marten Saflela, hands over the Indigenous community’s demands to Sarteis Yulian Sagrim, Head of the Watershed Management and Social Forestry Division at the Southwest Papua Environment, Forestry, and Land Agency, on Friday (22/5/2026). — Jubi/Gamaliel Kaliele
Pacnews

Indigenous Nasawat Community Rejects Village Forest Scheme

May 23, 2026
TPNPB
Pacnews

West Papua National Liberation Army (TPNPB) in Yahukimo Claims Eight Suspected Security Officers Killed in Operation

May 21, 2026
KNPB
Pacnews

Yahukimo Police Release Arrested KNPB (West Papuan National Committee) Activist

May 21, 2026
Child shot
Pacnews

Child Shot During Military Operation in Puncak Dies After Weeks of Treatment

May 20, 2026

Trending

  • Pesta Babi

    Film Pesta Babi: Kesaksian krisis kemanusiaan di Tanah Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Masyarakat adat Nasawat tolak skema hutan desa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pesta Babi resmi tayang dari Tanah Papua, musim nobar berlanjut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak yang ditembak saat operasi militer di Puncak meninggal dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara