Jayapura, Jubi – Salah satu sutradara film dokumenter Pesta Babi-Kolonialisme di zaman kita, Dandhy Dwi Laksono mengatakan film tersebut diproduksi untuk membantu menyuarakan persoalan yang menjadi kegelisahan hati mengenai apa yang terjadi di Tanah Papua, dan wilayah lain di Indonesia secara umum, seperti pulau Jawa, Kalimantan, Sumantera, dan Sulawesi.
“Kita hanya menitipkan suara melalui cerita dari [Tanah] Papua terutama dari Papua Selatan untuk kita sama-sama mengkritisi militerisme, mengkritik eksploitasi sumber daya alam (SDA) dan menyampaikan kegelisahan masalah Agraria,” kata Dandhy Dwi Laksono.
Pernyataan itu disampaikan Dandhy Dwi Laksono saat hadir secara daring ketika Nonton Bareng (Nobar) dan Rilis Online Film Pesta Babi-Kolonialisme di zaman kita, di Aula Gereja Katolik Kristus Terang Dunia Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua, Jumat (22/5/2026).
Nobar dan rilis oilnline ini diselenggarakan kolaborator produser film Pesta Babi-Babi-Kolonialisme di zaman kita, yaitu Lembaga Bantuan Hukum atau LBH Papua Merauke, Ekspedisi Indonesia Baru, Greenpeace, Jubi Media, Pusaka, Watchdoc bersama masyarakat adat korban Proyek Strategis Nasional atau PSN di Papua Selatan.
Pria asal Lumajang, Jawa Timur itu menjelaskan bahwa film tersebut bukan hanya tentang Tanah Papua. Akan tetapi juga melihat di Sumatera, Kalimantan dan Halmahera. Pihaknya hanya meminjam cerita dari Tanah Papua, karena skalanya sangat besar dan menumpuk.
Ia mengulas misalnya kerusakan SDA di pulau Kalimantan. Akan tetapi tidak ada militerisme atau tidak ada perang. Atau bencana di Halmahera tapi tidak ada pengungsi. Di Aceh ada kerusakan alam, bencana dan pengungsi tapi tidak ada stigma separatisme di sana.
“Jadi cerita [Tanah] Papua ini sebuah lokus yang kami anggap mewakili Indonesia gabung menjadi satu semua masalah. Masalah tentang pemingirannya, eksploitasi, kejahatan kemanusiaan sehingga kami di luar Papua ini menumpang ikut menceritakan,” ucapnya.
Sutradara film Pesta Babi-Babi-Kolonialisme di zaman kita lainnya, Cypri Paju Dale mengatakan, pengalaman kolaborasi dengan berbagai pihak dalam memproduksi film menjadi hal yang penting, terutama untuk menghadapi kekuatan-kekuatan besar ke depan.
“Melawan sendiri-sendiri dan merasa paling hebat itu bukan perlawanan. Kita hanya bisa kuat, kalau ada kolaborasi. Ini bukan pidato, tapi ini pengalaman. Kita sudah buktikan lewat Film Pesta Babi,” kata Cypri Paju Dale.
Menurut Cypri yang merupakan peneliti dan antropolog, apa yang terjadi di Indonesia dan Tanah Papua hari ini adalah satu bencana atau tragedi kemanusiaan.
Ia membandingkan dengan tragedi-tragedi paling gelap dalam sejarah umat manusia. Seperti holokaust, perbudakan, penjajahan, dan genosida sebagaimana yang ditunjukkan dalam film tersebut.
“Sebagian dari kita adalah korban, sebagian dari kita adalah saksi mata dan ini yang kita bilang bencana kemanusiaan itu, memang terjadi. Pelakunya mengerikan. Karena pelakunya legitim yang kita namakan negara,” ucapnya.
Katana, genosida terjadi di Tanah Papua melalui alat negara adalah tragedi mengerikan, dan inilah pesan yang ada dalam film Pesta Babi-Babi-Kolonialisme di zaman kita, dan disebut bukan Kolonialisme biasa, karena terjadi dalam skala yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
“Tidak benar, kalau ada yang bilang film itu satu kritik sosial, politik atau gereja. Di [Tanah] Papua situasi sangat genting, sehingga tidak hanya sekadar menyampaikan kritik,” ujarnya.
Cypri mengatakan, film ini adalah gerakan minta tolong dari Finsen Kwipalo, Yasinta Moyiwend, Frengky Woro, Aloisia dan masyarakat adat di Papua Selatan.
Mereka berjuang sendiri, bertahan dari genosida dan ekosida selama bertahun-tahun. Dalam film ini mereka minta tolong kepada gereja-gereja, kepada organisasi aktivitas, kepada akademisi dan mahasiswa, kepada nenek moyang leluhurnya dan kepada Tuhan.
“Jadi sebenarnya film ini kita sebut, film doa. Film ini satu gerakan minta tolong, gerakan sosial, budaya, politik dan keagamaan,” kata Cypri Dale.
Ia berharap, refleksi dari film ini mulai ada gerakan perlawanan, gerakan emansipasi, gerakan menghentikan kolonialisme, tidak lagi dilakukan dengan cara tak tepat sebab situasi darurat butuh satu respons cepat yang mestinya jauh lebih dahsyat.
“Kalau tidak, genosida dan ekosida itu sesuatu yang nyata. Semoga film ini bisa mendobrak semua lapisan untuk atasi bencana ini,” ucapnya.
Nobar dan rilis online film Pesta Babi-Kolonialisme di zaman kita, yang dilanjutkan dengan diskusi itu, dihadiri ratusan orang dari berbagai kalangan. Mulai dari masyarakat adat, mahasiswa, pemuda, aktivitas, perempuan, hadir pula tokoh agama.
Film Pesta Babi itu menggambarkan bagaimana kolonialisme zaman kini di Tanah Papua. Berbagai fakta dimunculkan dalam setiap adegan film yang berdurasi 95 menit itu. Termasuk kekerasan bersenjata oleh negara yang mengorbankan masyarakat sipil.
Menyebabkan pengungsian internal mencapai 107.000 lebih, terutama kelompok rentan yaitu perempuan, anak-anak dan lansia.
Ada eksploitasi SDA di Merauke, Papua Selatan. Atas nama PSN membabat hutan masyarakat adat seluas 2,5 juta hektare atau setara 30 kali lipat luas daratan Provinsi DKI Jakarta.
Film itu juga menunjuk bagaiman masyarakat adat memprotes kehadiran perusahaan yang membawa 2.000 eksavator dan dikawal oleh TNI. Masyarakat adat mengoleskan bercak di wajah dan tubuh sebagai tanda kabung atas kehilangan sumber penghidupan mereka.
Masyarakat adat menolak PSN dengan menancapkan 1.800 salib merah. Satu salib merah yang paling tinggi sekitar 12 meter, ditancapkan di tengah hutan di wilayah Papua Selatan.
Pencapan salib itu bukan tanda perayaan Paskah dalam tradisi Kristen, tapi tanda larang atau sasi untuk menjaga dan melindungi hutan mereka sebagai warisan Tuhan dan leluhur. (*)























Discussion about this post