• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Nasional & Internasional

Sutrada: Film Pesta Babi mewakili kisah eksploitasi SDA di Indonesia

May 23, 2026
in Nasional & Internasional
Reading Time: 4 mins read
0
Penulis: Larius Kogoya - Editor: Arjuna Pademme
Nobar Film Pesta Babi

Suasana Nobar Film Pesta Babi di di Aula Gereja Katolik Kristus Terang Dunia Waena, Kota Jayapura, Papua pada Jumat (22/5/2026).- Jubi/Arjuna Pademme

0
SHARES
80
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Salah satu sutradara film dokumenter Pesta Babi-Kolonialisme di zaman kita, Dandhy Dwi Laksono mengatakan film tersebut diproduksi untuk membantu menyuarakan persoalan yang menjadi kegelisahan hati mengenai apa yang terjadi di Tanah Papua, dan wilayah lain di Indonesia secara umum, seperti pulau Jawa, Kalimantan, Sumantera, dan Sulawesi.

“Kita hanya menitipkan suara melalui cerita dari [Tanah] Papua terutama dari Papua Selatan untuk kita sama-sama mengkritisi militerisme, mengkritik eksploitasi sumber daya alam (SDA) dan menyampaikan kegelisahan masalah Agraria,” kata Dandhy Dwi Laksono.

Pernyataan itu disampaikan Dandhy Dwi Laksono saat hadir secara daring ketika Nonton Bareng (Nobar) dan Rilis Online Film Pesta Babi-Kolonialisme di zaman kita, di Aula Gereja Katolik Kristus Terang Dunia Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua, Jumat (22/5/2026).

Nobar dan rilis oilnline ini diselenggarakan kolaborator produser film Pesta Babi-Babi-Kolonialisme di zaman kita, yaitu Lembaga Bantuan Hukum atau LBH Papua Merauke, Ekspedisi Indonesia Baru, Greenpeace, Jubi Media, Pusaka, Watchdoc bersama masyarakat adat korban Proyek Strategis Nasional atau PSN di Papua Selatan.

Pria asal Lumajang, Jawa Timur itu menjelaskan bahwa film tersebut bukan hanya tentang Tanah Papua. Akan tetapi juga melihat di Sumatera, Kalimantan dan Halmahera. Pihaknya hanya meminjam cerita dari Tanah Papua, karena skalanya sangat besar dan menumpuk.

Ia mengulas misalnya kerusakan SDA di pulau Kalimantan. Akan tetapi tidak ada militerisme atau tidak ada perang. Atau bencana di Halmahera tapi tidak ada pengungsi. Di Aceh ada kerusakan alam, bencana dan pengungsi tapi tidak ada stigma separatisme di sana.

“Jadi cerita [Tanah] Papua ini sebuah lokus yang kami anggap mewakili Indonesia gabung menjadi satu semua masalah. Masalah tentang pemingirannya, eksploitasi, kejahatan kemanusiaan sehingga kami di luar Papua ini menumpang ikut menceritakan,” ucapnya.

BERITATERKAIT

Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

Film Pesta Babi: Gambaran derita masyarakat adat Papua

Pelarangan nobar Pesta Babi: Pembungkaman suara kritis tentang Tanah Papua

Ketua Sinode GKI: Film Pesta Babi mengisahkan masalah di Tanah Papua

Sutradara film Pesta Babi-Babi-Kolonialisme di zaman kita lainnya, Cypri Paju Dale mengatakan, pengalaman kolaborasi dengan berbagai pihak dalam memproduksi film menjadi hal yang penting, terutama untuk menghadapi kekuatan-kekuatan besar ke depan.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

“Melawan sendiri-sendiri dan merasa paling hebat  itu bukan perlawanan. Kita hanya bisa kuat, kalau ada kolaborasi. Ini bukan pidato, tapi ini pengalaman. Kita sudah buktikan lewat Film Pesta Babi,” kata Cypri Paju Dale.

Menurut Cypri yang merupakan peneliti dan antropolog, apa yang terjadi di Indonesia dan Tanah Papua hari ini adalah satu bencana atau tragedi kemanusiaan.

Ia membandingkan dengan tragedi-tragedi paling gelap dalam sejarah umat manusia. Seperti holokaust, perbudakan, penjajahan, dan genosida sebagaimana yang ditunjukkan dalam film tersebut.

“Sebagian dari kita adalah korban, sebagian dari kita adalah saksi mata dan ini yang kita bilang bencana kemanusiaan itu, memang terjadi. Pelakunya mengerikan. Karena pelakunya legitim yang kita namakan negara,” ucapnya.

Katana, genosida terjadi di Tanah Papua melalui alat negara adalah tragedi mengerikan, dan inilah pesan yang ada dalam film Pesta Babi-Babi-Kolonialisme di zaman kita, dan disebut bukan Kolonialisme biasa, karena terjadi dalam skala yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

“Tidak benar, kalau ada yang bilang film itu satu kritik sosial, politik atau gereja. Di [Tanah] Papua situasi sangat genting, sehingga tidak hanya sekadar menyampaikan kritik,” ujarnya.

Cypri mengatakan, film ini adalah gerakan minta tolong dari Finsen Kwipalo, Yasinta Moyiwend, Frengky Woro, Aloisia dan masyarakat adat di Papua Selatan.

Mereka berjuang sendiri, bertahan dari genosida dan ekosida selama bertahun-tahun. Dalam film ini mereka minta tolong kepada gereja-gereja, kepada organisasi aktivitas, kepada akademisi dan mahasiswa,  kepada nenek  moyang leluhurnya dan kepada Tuhan.

“Jadi sebenarnya film ini kita sebut, film doa. Film ini satu gerakan minta tolong,  gerakan sosial, budaya, politik dan keagamaan,” kata Cypri Dale.

Ia berharap, refleksi dari film ini mulai ada gerakan perlawanan, gerakan emansipasi, gerakan menghentikan kolonialisme, tidak lagi dilakukan dengan cara tak tepat  sebab situasi darurat butuh satu respons cepat yang mestinya jauh lebih dahsyat.

“Kalau tidak, genosida dan ekosida itu sesuatu yang nyata. Semoga film ini bisa mendobrak semua lapisan untuk atasi bencana ini,” ucapnya.

Nobar dan rilis online film Pesta Babi-Kolonialisme di zaman kita, yang dilanjutkan dengan diskusi itu, dihadiri ratusan orang dari berbagai kalangan. Mulai dari masyarakat adat, mahasiswa, pemuda, aktivitas, perempuan, hadir pula tokoh agama.

Film Pesta Babi itu menggambarkan bagaimana kolonialisme zaman kini di Tanah Papua. Berbagai fakta dimunculkan dalam setiap adegan film yang berdurasi 95 menit itu. Termasuk kekerasan bersenjata oleh negara yang mengorbankan masyarakat sipil.

Menyebabkan pengungsian internal mencapai 107.000 lebih, terutama kelompok rentan yaitu perempuan, anak-anak dan lansia.

Ada eksploitasi SDA di Merauke, Papua Selatan. Atas nama PSN membabat hutan masyarakat adat seluas 2,5 juta hektare atau setara 30 kali lipat luas daratan Provinsi DKI Jakarta.

Film itu juga menunjuk bagaiman masyarakat adat memprotes kehadiran perusahaan yang membawa 2.000 eksavator dan dikawal oleh TNI. Masyarakat adat mengoleskan bercak di wajah dan tubuh sebagai tanda kabung atas kehilangan sumber penghidupan mereka.

Masyarakat adat menolak PSN dengan menancapkan 1.800 salib merah. Satu salib merah yang paling tinggi sekitar 12 meter, ditancapkan di tengah hutan di wilayah Papua Selatan.

Pencapan salib itu bukan tanda perayaan Paskah dalam tradisi Kristen, tapi tanda larang atau sasi untuk menjaga dan melindungi hutan mereka sebagai warisan Tuhan dan leluhur. (*)

Tags: EksploitasiFilm Pesta BabiSumber Daya Alam
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Amnesty International

Amnesty International: Jurnalis dan aktivis dibungkam lewat kampanye disinformasi

May 20, 2026
Penangkapan Jurnalis

AJI Indonesia kecam penahanan jurnalis Indonesia oleh Israel

May 19, 2026

Mengapa jaringan internet di Tanah Papua kerap putus?

May 11, 2026

UGM sebut Papua sebagai daerah favorit mahasiswa untuk KKN

May 8, 2026

World Press Freedom Day di Papua ditutup

May 5, 2026

World Press Freedom Day 2026: Deklarasi pers berkualitas dari Papua

May 5, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey
  • Latest
  • Trending
  • Comments
RSUD Biak

Gubernur Fakhiri ingin RSUD Biak jadi pusat rujukan kesehatan wilayah Saireri

May 23, 2026
Papua tengah

Wakil Ketua DPR Papua Tengah desak pemprov tingkatkan kapasitas SDM ASN

May 23, 2026
Pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

Gubernur Fakhiri letakkan batu pertama pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

May 23, 2026
Pleno

Pleno Dewan Adat se-Tanah Papua hasilkan rekomendasi untuk presiden

May 23, 2026
Nobar Film Pesta Babi

Sutrada: Film Pesta Babi mewakili kisah eksploitasi SDA di Indonesia

May 23, 2026
Nobar Film Pesta Babi

Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

May 23, 2026
Film Pesta Babi

Film Pesta Babi: Gambaran derita masyarakat adat Papua

May 23, 2026
Pesta Babi

Film Pesta Babi: Kesaksian krisis kemanusiaan di Tanah Papua

May 23, 2026
Nobar Film Pesta Babi

Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

May 23, 2026
Masyarakat Adat

Masyarakat adat Nasawat tolak skema hutan desa

May 22, 2026
Pesta Babi

Pesta Babi resmi tayang dari Tanah Papua, musim nobar berlanjut

May 22, 2026
Anak yang ditembak

Anak yang ditembak saat operasi militer di Puncak meninggal dunia

May 20, 2026
Film Pesta Babi

Film Pesta Babi: Gambaran derita masyarakat adat Papua

May 23, 2026
ikan asar

Dapur ikan asar yang dikelola tiga generasi

May 21, 2026
RSUD Biak

Gubernur Fakhiri ingin RSUD Biak jadi pusat rujukan kesehatan wilayah Saireri

0
Papua tengah

Wakil Ketua DPR Papua Tengah desak pemprov tingkatkan kapasitas SDM ASN

0
Pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

Gubernur Fakhiri letakkan batu pertama pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

0
Pleno

Pleno Dewan Adat se-Tanah Papua hasilkan rekomendasi untuk presiden

0
Nobar Film Pesta Babi

Sutrada: Film Pesta Babi mewakili kisah eksploitasi SDA di Indonesia

0
Nobar Film Pesta Babi

Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

0
Film Pesta Babi

Film Pesta Babi: Gambaran derita masyarakat adat Papua

0

English Stories

The atmosphere during the joint screening and discussion of the documentary film 'Pig Feast': Colonialism in Our Times, at the Christ the Light of the World Catholic Church Hall, Waena, Heram District, Jayapura City, Papua, Friday (22/05/2026) - Jubi/Yuliana Lantipo
Pacnews

‘Pig Feast’: A Testimony of the Humanitarian Crisis in Papua

May 23, 2026
Deputy Chairperson I of LMA Nasawat, Marten Saflela, hands over the Indigenous community’s demands to Sarteis Yulian Sagrim, Head of the Watershed Management and Social Forestry Division at the Southwest Papua Environment, Forestry, and Land Agency, on Friday (22/5/2026). — Jubi/Gamaliel Kaliele
Pacnews

Indigenous Nasawat Community Rejects Village Forest Scheme

May 23, 2026
TPNPB
Pacnews

West Papua National Liberation Army (TPNPB) in Yahukimo Claims Eight Suspected Security Officers Killed in Operation

May 21, 2026
KNPB
Pacnews

Yahukimo Police Release Arrested KNPB (West Papuan National Committee) Activist

May 21, 2026
Child shot
Pacnews

Child Shot During Military Operation in Puncak Dies After Weeks of Treatment

May 20, 2026

Trending

  • Pesta Babi

    Film Pesta Babi: Kesaksian krisis kemanusiaan di Tanah Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Thaha Alhamid: ‘Pesta Babi’ gambaran kolonialisme di Tanah Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Masyarakat adat Nasawat tolak skema hutan desa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pesta Babi resmi tayang dari Tanah Papua, musim nobar berlanjut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak yang ditembak saat operasi militer di Puncak meninggal dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara