Jayapura, Jubi – Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia (World Press Freedom Day/WPFD) 2026, baru saja diselenggarakan di Kota Jayapura, Papua, pada 4-5 Mei 2026, diakhiri dengan “Deklarasi Jayapura.”
Hari Kebebasan Pers Sedunia yang selama ini dilakukan di Jakarta, kali ini memilih Jayapura sebagai peringatan dengan tema pers berkualitas, independensi jurnalis, dan kedamaian, menjadikannya momentum bersejarah ini pertama kali diadakan di Tanah Papua.
Namun dibalik perayaan itu, Tanah Papua terkadang masih alami gangguan jaringan internet. Penguasaan teknologi model apapun, apabila jaringan internet terganggu alias lelet semuanya tak berarti sama sekali.
Victor Mambor, CEO Jubi.id dalam seminar Nasional di Jayapura, mengangkat topik ‘Media Sustainability’ juga menyinggung mengenai jaringan internet yang seringkali terganggu.
Sambil bercanda Mambor mengatakan, mungkin ikan-ikan yang makan kabel optik sehingga putus.
Apa yang dikatakan Mambor soal jaringan internet memang penting, sebelum berbicara tentang keberlanjutan media di Tanah Papua.
Menjaga ekosistem media di Tanah Papua tak semudah membalikan telapak tangan. Sebab banyak sekali tantangan yang harus dihadapi, antara lain sumber daya manusia (SDM) dan suppor finansial, demi menjaga keberlanjutan media serta jaminan agar jangan sampai jaringan internet terganggu.
Berapa kali internet terganggu?
Solusi untuk menjaga putusnya jaringan internet di Tanah Papua mungkin bisa dijawab sementara dengan menggunakan starlink milik perusahaan dari Amerika Serikat.
Beberapa kali jubi.id menjalankan liputan di lapangan saat liputan lingkungan penerapan sasi atau konservasi tradisional di Kabupaten Teluk Wondama harus membawa starlink maupun generator mini di lapangan.
Walau demikian, penyedia jaringan internet di tanah Papua perusahaan Telkom Indonesia yang kini membangun jaringan kabel bawah laut ke Papua Nugini, harus selalu memberikan jaminan kepada para pelanggan dalam memanfaatkan jaringan milik negara Indonesia ini.
JIka menghitung hitung gangguan jaringan internet di Tanah Papua, mungkin sudah lebih dari satu kali, bahkan mungkin berkali-kali.
Alasan klise yang selalu dijawab, kabel optik bawah laut terputus akibat gelombang atau apapun model jawaban yang selalu diberikan penyedia jasa jaringan internet di Indonesia.
Jaringan internet di Papua kerap mati, hal ini pernah terjadi setelah kerusuhan pecah di Manokwari, Papua Barat pada 2019 lalu, jaringan internet diblokir.
Begitupula pada 2021, jaringan internet kembali mati. “Kenapa bisa terjadi?” tanya berbagai pihak terutama pengguna jaringan internet, seraya meniru jawaban klise pihak penyedia jasa internet, “katanya kabel serap optik putus.”
Gangguan internet lima jam di Kota Jayapura
Ternyata gangguan jaringan internet, kerap kali terjadi di Tanah Papua, khususnya di Kota Jayapura pada April lalu.
Pihak TelkomGroup menyampaikan penyebab terjadinya gangguan jaringan internet dan telepon, selama kurang lebih lima jam di wilayah Jayapura.
General Manager Telkom Witel Papua, Antonius Joko Sritomo menjelaskan gangguan disebabkan oleh kendala pada perangkat penguat sinyal (amplifier) di fasilitas Cable Landing Station atau CLS Amai, yang merupakan titik terminasi jaringan kabel laut SKKL PATARA di Papua. Penjelasan ini disampaikan Antonius Joko Sritomo melalui keterangan tertulis yang diterima Jubi, Kamis, (9/4/2026).
Menurutnya, kendala tersebut mengakibatkan penurunan kapasitas jaringan yang berdampak pada sebagian layanan internet, IPTV, layanan data korporat, serta penyesuaian kapasitas layanan mobile di wilayah terdampak.
Katanya, TelkomGroup telah melakukan investigasi teknis dan penanganan menyeluruh. Selama proses penanganan, TelkomGroup mengaktifkan jalur cadangan melalui sistem kabel laut alternatif.
Meski jaringan internet kerap masih terjadi di tanah Papua, pihak Telkom kembali membangun jaringan kabel bawah laut dengan negara tetangga PNG yang dilabeli dengan nama Puk-Puk 1.
Lalu apa itu arti kata Puk-Puk? Bagi orang Papua Nugini dalam bahasa Tok Pisin (bahasa Pidgin Papua Nugini), pukpuk artinya adalah buaya.
Kata ini pernah pula digunakan dalam perjanjian kerja sama pertahanan antara Australia dan PNG, Pukpuk Treaty yang ditandatangani pada Oktober 2025.
Namun ada pula arti kata puk-puk dalam bahasa gaul di Papua Nugini, “puk-puk” yang artinya menepuk nepuk bahu seseorang, yang berarti menenangkan atau menyemangati seseorang dalam berjuang ataupun berusaha.
Ayo semangat, puk-puk agar jaringan internet di tanah Papua, bahkan sampai ke Papua Nugini sudah tak pernah lelet lagi alias putus di tengah kerinduan menjawab partner nun jauh di sana. (*)


























Discussion about this post