Jayapura, Jubi – Orang sering mengatakan bahwa dalam perang, kebenaran adalah korban pertama, dan korban tentang perjuangan kebenaran dan terlalu sering terjadi dan itu adalah para jurnalis.
“Tetapi terlalu sering, korban pertama adalah para jurnalis yang mempertaruhkan segalanya untuk melaporkan kebenaran itu – tidak hanya dalam perang, tetapi di mana pun mereka yang berkuasa takut akan pengawasan,” kata Sekjen PBB, António Guterres dalam peringatanan Hari Kebebasan Pers Sedunia pada 3 Mei 2026, seperti dikutip jubi.id dari laman internet, indonesia.un.org, Rabu (6/5/2026).
Sekjen PBB menegaskan, di seluruh dunia, pekerja media berisiko sensor, pengawasan, pelecehan hukum, dan bahkan kematian.
“Beberapa tahun terakhir telah melihat peningkatan tajam dalam jumlah wartawan yang terbunuh – sering dengan sengaja ditargetkan – di zona perang,” ucapnya.
Dia menambahkan 85 % atau delapan puluh lima persen dari kejahatan yang dilakukan terhadap jurnalis tidak diselidiki dan tanpa hukuman serta tingkat impunitas yang tidak dapat diterima.
“Tekanan ekonomi, teknologi baru, dan manipulasi aktif juga menempatkan kebebasan pers di bawah tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya.
“Ketika akses ke informasi yang dapat dipercaya mengikis, ketidakpercayaan berakar. Ketika debat publik terdistorsi, kohesi sosial melemah. Dan ketika jurnalisme dirusak, krisis menjadi jauh lebih sulit untuk dicegah dan diselesaikan. Semua kebebasan bergantung pada kebebasan pers,” ucapnya.
Tanpa itu, lanjut Sekjen PBB tidak ada hak asasi manusia, tidak ada pembangunan berkelanjutan dan tidak ada perdamaian.
Pada Hari Kebebasan Pers Sedunia ini, “mari kita lindungi hak-hak jurnalis, dan membangun dunia di mana kebenaran – dan pencerita kebenaran – aman.” (*)



























Discussion about this post