Maybrat, Jubi – Pelajar Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan atau SMA/SMK di Distrik Ayamaru Utara, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya membersihkan sampah dari sungai di wilayah itu, sebagai upaya melindungi dan menjaga keberlangsungan ikan pelangi di kawasan tersebut.
Pembersihan sampah dilakukan pelajar di sungai Yase dan Johkam, Selasa (5/5/2026). Berbagai jenis sampah seperti botol plastik, kaleng hingga kaca diangkat dari sungai.
Salah satu pelajar SMK Negeri Ayamaru, Roby Nauw mengatakan aksi ini bukan sekadar bersih-bersih. Namun bentuk perlawanan terhadap kerusakan lingkungan yang semakin nyata.
Sementara itu, Nus Susim dari Komunitas Save Ayamaru Lakes (SAL) mengatakan, sungai-sungai di wilayah itu mengalir langsung ke Danau Ayamaru. Apabila sungai tercemar sampah, danau pun ikut tercemar.
“Kondisi ekosistem Danau Ayamaru kini memasuki fase yang mengkhawatirkan. Ikan pelangi endemik semakin sulit ditemukan di habitat alaminya. Sekarang sudah jarang sekali terlihat di danau. Bahkan bisa dibilang hampir tidak ada,” kata Nus Susim.
Menurutnya, selain akibat habitat ikan pelangi sudah tercemar, keberaan ikan-ikan invasif seperti nila, mujair, dan yang gabus merupakan ancaman utama terhadap keberadaan ikan pelangi Ayamaru. Ikan-ikan itu makan telur ikan pelangi.
“Jadi tidak ada regenerasi. Ini ancaman serius. Ikan pelangi Ayamaru tidak lagi bertahan di perairan terbuka. Namun mencari perlindungan di wilayah wilayah yang semakin sempit dan terisolasi. Bersembunyi di sungai-sungai kecil di mata air seperti mos-mos. Itu tempat terakhir mereka bertahan karena di danau sudah tidak aman lagi,” ujarnya.
Katanya, apabila sungai-sungai yang menjadi tempat ikan pelangi menyelematkan diri dari ‘gempuran’ ikan invasif rusak atau tercemar, maka keberlangsungan ikan pelangi akan berakhir.
“Kita hanya akan cerita ke anak cucu bahwa dulu ada ikan paling indah di dunia di Ayamaru, tapi sekarang sudah punah,” ucapnya.
Ia mengatakan, apabila ikan invasif terus dibiarkan, sampah terus masuk ke danau, dan pembangunan tidak dikontrol, sama saja mempercepat kehancuran ekosistem di sungai dan Danau Ayamaru secara sadar.
Selain itu, apabila danau dan sungai di sana rusak maka keberlangsungan hidup masyarakat adat di sekitarnya juga terancam. Sebab, danau dan sungai merupakan sumber pangan, ekonomi, dan identitas budaya masyarakat adat setempat.
“Sudah saatnya pemerintah berhenti bicara seremonial dan mulai kerja nyata. Kalau tidak, sejarah akan mencatat kita sebagai generasi yang gagal menjaga warisan alam yang pernah membuat dunia datang dan kagum,” kata Nus Susim. (*)


























Discussion about this post