Jayapura, Jubi – Kepala Dinas Lingkungan Hidup atau DLH Kabupaten Jayapura, Papua, Salmon Telenggen menyatakan rata-rata sampah yang dihasilkan di Kabupaten Jayapura setiap harinya adalah 90 ton, dan 60 persen merupakan sampah sisa makanan.
Menurutnya, dominasi sampah sisa makanan ini berdasarkan hasil studi World Wide Fund for Nature atau WWF Indonesia Program Papua dan DLH Kabupaten Jayapura pada 2025.
Ini dikatakan Salmon Telenggen, saat pelatihan perencanaan konten kampanye gaya hidup berkelanjutan terkait sampah makanan, di aula WWF Indonesia Program Papua di Sentani, Kabupaten Jayapura, Jumat (24/4/2026).
Palatihan ini merupakan kolaborasi antara DLH Kabupaten Jayapura, WWF Indonesia Program Papua, dan Komunitas Earth Hour Jayapura.
“Oleh karena itu, kerjasama DLH dan WWF hari ini, kita bisa melaksanakan pertemuan dengan adik-adik komunitas juga mahasiswa, dan masyarakat untuk mengedukasi warga agar bijak dalam mengelola sisa susut pangan (sampah sisa makanan),” kata Salmon Telenggen.
Katanya, 60 persen sampah itu sisa susut pangan itu berasal dari rumah makan, kafe, restoran, hotel yang ada di Kabupaten Jayapura, dan dari masyarakat.
Pemerintah kabupaten pun telah bekerjasama dengan pengelola kafe, restoran, warung dan hotel untuk memisahkan sampah sisa susut pangan mulai dari sumbernya.
“Namun kalau memang itu dapat diolah untuk makanan ternak, bisa hubungi mama-mama yang punya ternak. Kita olahnya dalam bentuk maggot. Kalau maggot ini ketika kita produksi, kita bisa memanfaatkan untuk pakan ternak dan pakan ikan. Maggot ini kandungan lemaknya sangat bagus,” ujarnya.
DLH Kabupaten Jayapura meminta, rumah tangga di wilayah itu harus mulai memisahkan sampahnya sebelum dibuang ke tempat pembuangan sampah.
Misalnya memisahkan sampah plastik, botol, dan sisa makanan. Tujuannya agar sisa makanan mungkin dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain, misalnya pakan ternak.
Salmon Telenggen mengatakan, Bupati Jayapura berencana mendorong pengolahan sampah yang efektif, dengan membangun mesin pengolahan sampah.
Rencana ini diharapkan terealisasi, nantinya dapat bekerjasama dengan WWF, DLH dan komunitas Earth Hour Jayapura. Adanya mesin pengolahan sampah, dianggap bisa meminimalisir dampak buangan sampah di Kabupaten Jayapura.
Selain itu, Salmon Telenggen berharap lewat pelatihan itu komunitas dapat mengedukasi warga bagaimana menjaga lingkungan, melalui lewat konten-konten atau podcast di media sosial.
“Jadi kegiatan hari ini sangat baik sekali karena rata-rata kita anak-anak generasi Z hari ini semua sebagian besar menggunakan media sosial, sehingga dapat memberikan sosialisasi kepada seluruh warga. Kira-kira aplikasi apa yang akan digunakan untuk menyebar konten-konten itu, kemudian caranya seperti apa. Teman-teman WWF sudah siapkan materi,” kata Salmon Telenggen.
Sementara itu, staf kampanye lingkungan WWF Indonesia Program Papua, Adelia Tania mengatakan pihaknya ingin menjadikan momentum Hari Bumi pada 22 April 2026, untuk menyadarkan pemuda dan pemudi lintas agama, menggandeng komunitas peduli lingkungan dan mahasiswa, guna bersama melakukan hal-hal sederhana setiap hari.
“Kita mulai dari kelola sampah di rumah. Pisahkan plastik, botol, sisah makanan dan lain-lain. Karena sampah ini tidak dihasilkan dari acara atau kegiatan besar saja. Tapi setiap hari kita produksi sampah baik secara individu, keluarga maupun komunitas,” kata Adelia Tania.
Menurut Adelia Tania, pihaknya punya tujuan sama, yaitu keberlanjutan lingkungan, sama-sama harus menghambat laju perubahan iklim, dengan cara mengelola sampah sisa makanan.
“Pelatihan konten kampanye ini dapat diproduksikan melalui konten media sosial yang dapat disebarkan sebagai bentuk edukasi kepada orang. Dengan konten pengolahan sampah, tentu dapat menjangkau masyarakat luas, tidak hanya di Kabupaten Jayapura saja,” ucapnya. (*)




Discussion about this post