Sentani, Jubi – Kabupaten Jayapura, Papua menempati urutan kedua kasus malaria tertinggi secara nasional, setelah Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Wakil Bupati Jayapura, Haris Richard Yocku mengatakan tercatat ada 71.542 kasus malaria di atau sekitar 10,1 persen dari total kasus nasional di Kabupaten Jayapura pada 2025.
Angka itu menempatkan Kabupaten Jayapura sebagai wilayah dengan kasus malaria tertinggi kedua di Indonesia. Pemerintah Kabupaten Jayapura pun mengakui penanganan malaria di daerah itu masih menghadapi persoalan serius.
Menurut Yocku pada Maret 2026, capaian pemeriksaan malaria baru menyentuh 33,62 persen dari target triwulan pertama.
Sementara tingkat positif malaria atau positivity rate masih berada di angka 16,33 persen, atau jauh di atas standar eliminasi nasional di bawah lima persen.
Data itu disampaikan Haris Richard Yocku dalam sambutannya saat membuka Training of Trainer atau TOT Participatory Learning and Action atau PLA Percepatan Eliminasi Malaria Kabupaten Jayapura di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Senin (18/5/2026).
“Ini menunjukkan penularan malaria masih aktif terjadi di masyarakat dan membutuhkan gerakan yang lebih cepat, lebih massif, dan lebih dekat dengan masyarakat,” kata Haris Richard Yocku.
Katanya, pemerintah daerah menargetkan satu juta pemeriksaan malaria dalam setahun atau sekitar 84 ribu pemeriksaan per bulan.
Dengan target tersebut, pemeriksaan Januari hingga Maret 2026 seharusnya mencapai sekitar 250.125 pemeriksaan. Namun realisasi di lapangan baru mencapai 69.423 pemeriksaan.
Yocku mengatakan, pemerintah daerah terus mendorong pendekatan TOKEN EDAT atau Temukan, Obati, dan Kendalikan sebagai strategi percepatan eliminasi malaria. Namun, upaya itu tidak cukup hanya dilakukan tenaga kesehatan.
“Malaria tidak bisa diselesaikan hanya oleh Puskesmas dan tenaga kesehatan saja. Pengendalian malaria membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, kader, tokoh kampung, sekolah, gereja, pemuda, perempuan, dan seluruh unsur masyarakat,” ujarnya.
Melalui pelatihan PLA, peserta didorong melakukan pemetaan tempat perindukan nyamuk, meningkatkan pemeriksaan malaria di wilayah fokus, memantau penggunaan kelambu, mendukung pengobatan hingga tuntas, serta menjaga lingkungan bebas vektor malaria.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Lilien Suebu mengatakan Kabupaten Jayapura masih menjadi kontributor kasus malaria terbesar kedua di Papua setelah Mimika.
Berdasarkan laporan panitia, pada 2025 angka kasus malaria mencapai 71.545 kasus dengan Annual Parasite Incidence (API) sebesar 409,18 per 1.000 penduduk dan positivity rate 13,79 persen.
Menurut Suebu, peningkatan kasus yang tercatat dalam dua tahun terakhir terjadi bersamaan dengan pemeriksaan malaria secara massif melalui program TOKEN. Di sisi lain, positivity rate disebut mulai menurun.
“Kasus bertambah banyak karena pemeriksaan yang masif sedangkan positivity rate menunjukkan penurunan,” kata Lilien Suebu.
Katanya, percepatan eliminasi malaria tidak hanya berfokus pada pengobatan pasien, tetapi juga pengendalian vektor penular malaria melalui keterlibatan lintas sektor dan masyarakat kampung.
Pelatihan TOT PLA malaria itu diikuti 35 peserta dari berbagai unsur seperti Bappeda, DPMK, TNI, Polri, STIKES, tokoh agama, tokoh masyarakat, perwakilan kampung, dan tenaga kesehatan.
Pelatihan berlangsung selama tiga hari, 18–20 Mei 2026, dengan dukungan dana APLMA dan Kementerian Kesehatan RI. (*)
























Discussion about this post