Jayapura, Jubi – World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia Program Papua, mendorong aksi selamatkan bumi lewat pelatihan penyusunan konten dengan topik khusus membahas sampah makanan. Topik ini dipilih, mengingat sampah makanan turut memperburuk krisis iklim.
Pelatihan “dorong aksi selamatkan bumi berawal dari piring makanan melalui konten media sosial” diselengarakan di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Jumat (24/4/2026).
Pelatihan yang melibatkan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura, dan Komunitas Earth Hour Jayapura ini, merupakan bagian dari peringatan Hari Bumi, 22 April 2026.
WWF Program Papua menyatakan, Hari Bumi menjadi pengingat bahwa relasi manusia dengan alam sangatlah kuat dan tidak bisa dipisahkan, dan di tengah berbagai tantangan, momentum Hari Bumi mendorong lahirnya kesadaran untuk merefleksikan peran dala merawat alam.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Kesadaran akan isu lingkungan dianggap menjadi semakin relevan ketika berbagai tantangan hadir di sekitar kita, seperti banjir, cuaca yang semakin panas dan tidak menentu, longsor, pencemaran air, penumpukan sampah tanpa terkelola, hingga rusaknya habitat satwa.
Kegiatan Bertemakan “Ko Bijak Pangan, Ko Selamatkan Bumi” ini, juga menggandeng pemuda-pemudi lintas agama, masyarakat adat, komunitas peduli lingkungan, serta mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Kota Jayapura, agar turut memperkuat pemahaman bersama tentang aksi nyata untuk bumi, diawali dari sampah yang dihasilkan setiap hari, khususnya sampah makanan.
Isu sampah makanan dipandang perlu menjadi perhatian, karena berkontribusi terhadap iklim, terutama melalui emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari sampah sisa makanan.
Sampah makanan yang mengandung gas metana diketahui memiliki potensi pemanasan global 28 kali lebih kuat dibandingkan karbondioksida.
Isu ini juga relevan dengan momentum ini, mengingat dampaknya sangat signifikan terhadap lingkungan dan perubahan iklim, sehingga diperlukan upaya edukasi bersama untuk meningkatkan kesadaran.
Ketua komunitas Guardian Hollo, Bagi Boy Kallem sebagai salah satu masyarakat adat di pegunungan Cycloop berpendapat, isu lingkungan selalu saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Melalui komunitasnya, Kallem aktif mendorong diskusi terkait isu deforestasi hutan di Papua, dan tidak pernah absen dalam menyuarakan isu-isu lingkungan. Sebab, baginya alam adalah warisan adat yang perlu dijaga dan dilestarikan.
“Menjaga kelestarian alam bisa dilakukan dengan banyak cara, selain dengan jaga hutan, kita bisa juga menjaga alam dengan peduli terhadap sampah yang kita hasilkan setiap hari, apalagi sampah makanan, dimana kita tahu ternyata juga turut mempercepat krisis iklim jika sampah makanan tidak dikelola,” kata Boy Kallem dalam siaran pers tertulis, Jumat (24/4/2026).
Dalam pelatihan, partisipan mengikuti pelatihan perencanaan konten komunitas, dan diberikan keterampilan baru dalam menyusun pesan yang efektif dalam sebuah konten edukatif di media sosial yang dimiliki oleh komunitas atau individu.
Pelatihan ini juga bertujuan agar peserta mampu mengemas isu lingkungan sesuai nilai-nilai yang dianut melalui agama, adat, dan komunitas menjadi konten yang menarik dan berdampak.
Suara masyarakat disebut menjadi bagian penting dalam upaya peduli terhadap lingkungan, seperti suara dari masyarakat adat sebagai pihak yang hidup berdampingan langsung dengan alam, sehingga masyarakat adat memiliki pengetahuan yang telah lama hidup dalam menjaga keseimbangan alam.
Perwakilan dari WWF Indonesia pun menekankan pentingnya kampanye sebagai upaya strategis dalam memperluas pesan lingkungan kepada masyarakat luas.
Staff Kampanye dan Outreach WWF Indonesia program Papua, Adelia Tania mengatakan, kini media sosial menjadi alat yang efektif untuk bisa menjangkau masyarakat secara luas.
Katanya, konten yang tayang di komunitas dapat menjadi kekuatan yang lahir dari pengalaman dan konteks lokal. Misalnya seperti apa perspektif adat dalam melihat lingkungan, begitu pul perspektif agama.
“Meskipun berbeda tapi punya satu tujuan, yaitu keberlanjutan lingkungan, sehingga melalui konten kita bisa mengedukasi masyarakat terkait isu lingkungan saat ini dan aksi nyata yang bisa dilakukan oleh masing-masing orang,” kata Adelia dalam penyampaiannya.
Pelatihan ini diharapkan dapat mendorong peserta tidak hanya memahami isu
lingkungan seperti sampah makanan, juga mampu menyuarakan isu lingkungan di media masing-masing.
Sebab, konten yang diunggah di media sosial menjadi sebuah pendekatan yang relevan untuk terus menggaungkan kepedulian terhadap bumi. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




Discussion about this post