Sentani, Jubi – World Wildlife Fund atau WWF Indonesia Program Papua berkolaborasi dengan Delterra meneliti timbulan sampah di Kabupaten Jayapura yang berfokus pada sampah sisa makanan.
Hal itu disampaikan Community Development Officer Jayapura, Elvin Wahyu Wardhana di sela-sela Lokakarya Studi Baseline Pengelolaan Sampah di Kabupaten Jayapura, Kamis (15/5/2025).
Elvin mengatakan, kegiatan ini bagian dari program Susu dan Sisa Pangan yang baru diluncurkan pada September 2025. Riset ini dianggap penting dilakukan untuk mengurangi sampah sisa makanan.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional atau SIPSN 2022, di Kabupaten Jayapura ditemukan 40 persen sampah makanan dari 80-90 ton dalam sehari.
“Intervensi sisa makanan ini penting dilakukan karena sisa sampah makanan yang menumpuk menghasilkan gas metana apabila tidak dikelola dengan baik yang sewaktu-waktu bisa meledak dan mengancam jiwa serta perubahan iklim,” kata Elvin.
Menurutnya, studi timbulan sampah ini akan menyasar sisa makanan yang berasal dari rumah tangga, pasar tradisional, hotel, dan restoran. Pengambilan data ini bukan hanya di Kabupaten Jayapura, juga di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan.
Rangkaian riset ini juga mencakup pelatihan, peningkatan kapasitas, advokasi kebijakan, pelibatan sektor swasta, dan kampanye kesadaran publik.
“Kami menggunakan pendekatan pentahelix, melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media untuk memastikan intervensi yang komprehensif,” ujarnya.
Penelitian ini dijadwalkan berlangsung selama 10 hari. Dua hari pertama fokus untuk uji coba pengumpulan data awal, sebelum dilanjutkan pengumpulan data skala penuh.
Data yang dikumpulkan akan dianalisis bersama para mitra dan kosultan. Kemudian, hasil riset ini akan direkomendasikan untuk membuat kebijakan pengelolaan sampah yang tepat di masing-masing daerah.
Salah satu pemateri, Wija Kusumastuti perwakilan dari Delterra mengenalkan metode quartering untuk mendapatkan sampel sampah yang bervolume besar.
Metode tersebut yaitu membagi tumpukan sampah menjadi empat bagian sama rata. Kemudian, satu bagian tersebut dijadikan sampel untuk memudahkan pengelolaan sampah.
“Sebelum dibagi empat, tumpukan sampah tersebut diaduk menggunakan sekop agar sampel sampah bisa bercampur sehingga mewakili keseluruhan sampah tersebut,” kata Wija Kusumastuti.
Pemuda Kampung Sereh, Rhut Claudia Ondikeleuw (21 tahun) mengaku senang bisa turut berkontribusi dalam studi yang lakukan ini untuk mengedukasi masyarakat untuk mengurangi limbah makanan.
Keterlibatannya dalam penelitian ini juga menyadarkan Rhut pentingnya memilah sampah untuk melindungi alam dari perubahan iklim.
“Selama ini kitong pikir [membuang] sampah [yang tercampur] itu biasa-biasa saja, ternyata harus dipisah. [Salah satu alasannya] karena sampah makanan itu mengandung gas metana yang menyebabkan cuaca yang berubah-ubah,” katanya. (*)























Discussion about this post