Jayapura, Jubi – Festival Pasifika di Auckland kembali digelar di Western Springs Lakeside Park pada akhir pekan lalu, dan menarik lebih dari 25.000 pengunjung yang datang untuk merayakan keragaman budaya masyarakat Pasifik.
Pengunjung festival berpindah dari satu panggung ke panggung lain yang mewakili 11 negara Pasifik, termasuk Kepulauan Cook, Niue, Selandia Baru, Samoa, Tuvalu, Fiji, dan Tonga. Desa kolektif Fale Pasifika juga menampilkan budaya dari Kiribati, Tokelau, Hawaiʻi, dan Tahiti. Demikian dikutip jubi.id dari laman internet, RNZ Pasifik, Selasa (17/3/2026).
Sejak pertama kali digelar pada 1993, Festival Pasifika berkembang menjadi salah satu acara budaya terbesar di kawasan tersebut, yang setiap tahun menarik kerumunan besar dan beragam.
Berbagai panggung dipenuhi alunan musik dari kepulauan Pasifik. Orang-orang dari berbagai usia dan latar belakang tampak menari dan bersorak untuk para penampil, mencicipi beragam kuliner Pasifik, serta mengunjungi stan yang menjual berbagai kerajinan tangan dan produk tradisional.
Penyelenggara festival, Jep Savali, mengatakan acara ini tetap menjadi momen penting dalam kalender budaya di Selandia Baru, sekaligus menghormati tradisi Pasifik dan komunitas yang telah membangun kehidupan mereka di negara tersebut.
“Ini adalah rumah spiritual Festival Pasifika… ini adalah whenua (tanah kami). Bagi kami, ini adalah cara memberi penghormatan kepada keluarga dan generasi yang telah lama tinggal di sini sejak migrasi mereka ke Aotearoa, khususnya di pusat Auckland,” kata Savali.
“Ini perayaan yang sangat penting. Perayaan tentang siapa kita, garis keturunan, budaya, pertunjukan, tarian, makanan, dan jati diri kami sebagai sebuah bangsa,” tambahnya.
Seorang pengunjung festival asal negara bagian Utah, Amerika Serikat, Sepi Pepa, mengatakan acara berskala besar seperti ini jarang ditemukan di tempat asalnya, dan keragaman budaya yang ditampilkan sangat menonjol.
“Kami tidak benar-benar memiliki acara seperti ini di tempat kami, kalaupun ada ukurannya lebih kecil. Saya suka di sini setiap budaya diberi panggung sendiri. Biasanya di tempat kami semua tampil di satu panggung kecil, tetapi di sini setiap budaya bisa menampilkan identitasnya,” ujar Pepa.
Sementara itu, Nele Suvi, yang datang ke Selandia Baru dari Estonia, ikut tampil sebagai bagian dari kelompok tari Tahiti. Ia mengatakan suasana ramah dan perayaan budaya kepulauan menjadi hal yang membuat acara ini berbeda di tingkat internasional.
“Semua orang sangat ramah… suasananya luar biasa. Ini bahkan lebih dari yang saya bayangkan. Di Eropa kami tidak punya acara seperti ini, komunitasnya luar biasa. Saya sangat menyukai budaya kepulauan,” kata Suvi.
Direktur artistik perusahaan seni pertunjukan Polynesian Entertainers, Amo Ieriko, mengatakan festival ini kini telah berkembang jauh melampaui sekadar perayaan lokal.
“Festival Pasifika bagi kami adalah salah satu puncak acara Pasifika setiap tahun. Di seluruh wilayah Selandia Baru, orang-orang dari berbagai daerah dari Wellington hingga Dunedin ikut berpartisipasi. Jadi ini sangat penting bagi seluruh komunitas Pasifika, Melanesia, dan Polinesia,” ujarnya.
Ia menambahkan festival ini kini dikenal di seluruh kawasan Pasifik, dengan penampil dan pengunjung yang datang dari berbagai tempat seperti Tahiti, Samoa, hingga Hawaiʻi.
“Tamaki Makaurau (Auckland) adalah pusat pertemuan masyarakat Pasifik… semua pulau dan wilayah Pasifik terwakili di sini. Festival ini dikenal di seluruh samudra Pasifik orang-orang dari Tahiti dan Samoa membicarakannya, bahkan Hawaiʻi mengirim kelompok penampil. Ini acara internasional yang sangat besar bagi masyarakat Pasifik,” kata Ieriko.
Bagi banyak penampil muda, festival ini juga menjadi cara untuk melestarikan dan membagikan warisan budaya mereka, sambil merayakan tradisi dan bahasa yang diwariskan dari generasi ke generasi di panggung besar.
Penari asal Samoa, Leilani Slade-Le Pua, mengatakan tampil di festival menjadi salah satu cara generasi muda tetap terhubung dengan budaya mereka sekaligus menunjukkan bakat kepada khalayak luas.
“Ini tentang menjaga budaya kami tetap hidup. Dengan melakukan ini, kami tetap berpijak pada tradisi dan budaya kami,” kata Slade-Le Pua.
“Ini salah satu cara mengekspresikan budaya kami melalui tarian pertunjukan, memperlihatkan kepada orang-orang apa yang bisa kami lakukan dan bagaimana kami menampilkannya.
Ini baru satu bagian dari budaya kami. Masih banyak bagian lain, tetapi inilah cara kami menampilkannya kepada banyak orang di Pasifika.”
Meski Festival Pasifika tahun ini telah berakhir, rangkaian perayaan budaya masih berlanjut di Auckland.
Tahap pertama ASB Polyfest akan dimulai pada Rabu, 18 Maret, yang kembali menampilkan pertunjukan budaya dan seni dari para pelajar di seluruh Selandia Baru.(*)




Discussion about this post