Jayapura, Jubi – Konflik bersenjata bukan satu-satunya garis depan perjuangan rakyat Papua Barat melawan kekuasaan Indonesia. Film dokumenter Pesta Babi (Pig Feast) melakukan pemutaran perdana dunia di Auckland pada Sabtu (7/3/2026), sebagai pembuka Forum Papua Barat yang diselenggarakan gerakan solidaritas Papua Barat di Selandia Baru. Demikian dilansir jubi.id dari laman internet, RNZ Pasifik, Senin (9/3/2026)
Film dokumenter hasil kolaborasi Jubi Media, Watchdoc, Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace Indonesia dan disutradarai Dandhy Laksono dan Cypri Dale.
Jurnalis Papua Barat, Victor Mambor dan Sutradara Dandhy hadir di Auckland untuk membahas karya mereka yang menyoroti dampak mendalam pembangunan yang dipromosikan Pemerintah Indonesia terhadap komunitas masyarakat Papua di tanah mereka.
Film tersebut juga mengangkat dampak deforestasi akibat pengembangan agribisnis yang terus berlangsung di wilayah selatan Papua, dekat perbatasan dengan Papua Nugini, yang juga berkaitan dengan keberadaan militer Indonesia di Papua Barat.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Pasukan militer Indonesia terlibat konflik sporadis yang masih berlangsung dengan kelompok militan Tentara Pembebasan Papua Barat atau TPNPB.
Pemerintah Indonesia melalui Proyek Strategis Nasional (PSN) menargetkan sekitar dua juta hektare hutan untuk dikembangkan menjadi perkebunan tebu dan sawah.
Pemerintah di Jakarta menyatakan proyek tersebut akan membawa pembangunan yang sangat dibutuhkan bagi Papua. Namun, masyarakat Papua menilai aktivitas itu justru mengancam kehidupan mereka, budaya, serta keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.
Deforestasi yang terjadi sebelumnya akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit juga telah mengganggu pola makan tradisional masyarakat adat Papua dan memisahkan mereka dari tanah leluhur.
Perwakilan Papua dalam forum tersebut mengatakan kritik atau protes masyarakat terhadap proyek pembangunan sering kali direspons dengan kehadiran militer yang menggunakan kekuatan untuk membungkam penolakan.
Selain itu, deforestasi juga memperparah perubahan iklim dan mengancam keanekaragaman hayati yang sangat berharga di wilayah Papua.
Forum yang digelar pada akhir pekan itu membahas berbagai isu, termasuk militerisasi wilayah, kerusakan lingkungan, pengorganisasian masyarakat, serta pelanggaran hak asasi manusia.

Mantan anggota parlemen Selandia Baru, Catherine Delahunty mengatakan forum tersebut mendengar pidato kuat, baik secara langsung maupun daring, dari para pemimpin dan pengorganisir Papua Barat yang menyerukan dukungan Selandia Baru untuk menentang deforestasi dan militerisasi di wilayah mereka.
Delahunty, yang juga juru bicara West Papua Action Aotearoa, menyebut film Pesta Babi (Pig Feast) sebagai “film yang sangat mengganggu”.
Menurutnya, film tersebut menunjukkan kolusi antara pemerintah Indonesia, perusahaan, dan militer yang menyebabkan penghancuran sekitar 2,5 juta hektare hutan serta melemahkan sumber pangan masyarakat adat, hak atas tanah, dan masa depan mereka.
“Penting bagi negara-negara tetangga di kawasan untuk memahami bahwa kondisi ini meningkatkan risiko iklim bagi seluruh planet sekaligus menjadi bencana bagi Papua Barat,” kata Delahunty.
Ia menambahkan, peserta forum juga menyerukan agar Pacific Islands Forum dan pemerintah Selandia Baru menunjukkan “keberanian moral” untuk menantang penghancuran hutan penting serta pengusiran ribuan orang di Papua Barat.
“Ini bukan sekadar isu domestik di dalam Indonesia—ini adalah krisis hak asasi manusia regional sekaligus ekosida,” ujarnya. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua


























Discussion about this post