Sorong, Jubi – Puluhan orang tua di Kota Sorong rela mengantre sejak pagi sambil menggendong bayi dan anak-anak mereka di RSUD Sele Be Solu, Kamis (23/4/2026), demi mendapatkan layanan skrining jantung gratis yang digelar Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Papua Barat dan Papua Barat Daya bersama Unit Kerja Koordinasi (UKK) Kardiologi IDAI.
Di tengah tingginya kasus penyakit jantung bawaan pada anak di Tanah Papua serta keterbatasan akses layanan spesialis, kegiatan ini justru mengungkap fakta mengejutkan setelah tim dokter menemukan sejumlah kasus serius, termasuk tiga anak yang harus segera menjalani operasi akibat kelainan jantung kritis, menegaskan masih besarnya tantangan layanan kesehatan anak di wilayah Papua Barat Daya.
Pantauan di lokasi menunjukkan antusiasme tinggi dari masyarakat. Puluhan orang tua terlihat berbondong-bondong mengantarkan buah hati mereka untuk melakukan registrasi dan mengantre di ruang tunggu sebelum dipanggil oleh petugas medis untuk menjalani pemeriksaan menggunakan alat USG-Echocardiography (skrining echo).
Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), menjelaskan bahwa kunjungan ini merupakan bentuk pengabdian masyarakat sekaligus pelatihan bagi tenaga kesehatan lokal.
“Kami mengadakan pelatihan skrining echo untuk melihat penyakit jantung bawaan kritis agar tenaga kesehatan di sini bisa merujuk pasien dengan tepat. Selain itu, kami membawa 11 konsultan dokter anak dari berbagai wilayah di Indonesia untuk memberikan pelayanan langsung,” ujar Dr. Piprim.
Dalam pemeriksaan tersebut, tim medis menemukan beberapa kasus serius yang memerlukan tindakan medis segera. Dr. Piprim mengungkapkan terdapat tiga anak yang didiagnosis harus menjalani operasi, termasuk seorang bayi dengan kelainan jantung kompleks dan seorang anak dengan komplikasi TBC yang menyebabkan cairan menumpuk di perut akibat selaput jantung yang mengeras.
“Penyakit Jantung Bawaan (PJB) jika tidak diatasi bisa memicu stunting dan malnutrisi. Anak akan mengalami gangguan pertumbuhan yang signifikan jika masalah jantungnya tidak segera dikoreksi melalui operasi,” tambah Dr. Piprim.
Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, yang hadir memantau langsung kegiatan tersebut, memberikan apresiasi kepada rombongan IDAI. Ia mengatakan bahwa pemerintah daerah berkomitmen penuh dalam mendukung sektor kesehatan melalui pengalokasian anggaran bagi sejumlah rumah sakit di wilayah Papua Barat Daya.
“Kami memberikan dukungan penuh bagi RSUD Sele Be Solu dan rumah sakit lainnya di wilayah ini, dengan bantuan rata-rata di atas Rp10 miliar per rumah sakit jadi dukungan ini mencakup pengadaan peralatan medis hingga obat-obatan agar pelayanan kepada masyarakat tetap maksimal,” kata Elisa Kambu.
Kasus Penyakit Jantung Bawaan Anak di Tanah Papua disebut cukup tinggi. Data statistik menunjukkan tren yang memprihatinkan terkait kasus Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada anak di wilayah Papua.
Berdasarkan estimasi nasional, satu dari seratus bayi lahir memiliki kelainan jantung bawaan. Dengan angka kelahiran mencapai 4,5 hingga 5 juta bayi per tahun di Indonesia, diperkirakan terdapat 45 ribu kasus PJB setiap tahunnya, di mana angka kasus di Tanah Papua tergolong cukup tinggi.
Ketua IDAI Papua Barat dan Papua Barat Daya, Dr Sri Riyanti, Sp.A, mengungkapkan bahwa selama ini tantangan terbesar dalam menangani pasien jantung anak di Papua adalah kendala geografis dan biaya.
“Kasus PJB di sini cukup banyak, namun kendala utama kami adalah biaya transportasi dan akomodasi jika harus merujuk pasien keluar daerah. Karena itu, kegiatan skrining massal seperti ini sangat krusial,” ungkap Dr Sri Riyanti, Sp.A di RSUD Sele Be Solu, Kamis (23/4/2026).
Dr. Sri menambahkan, melalui pelatihan USG-Echocardiography dasar yang diberikan oleh pengurus pusat IDAI kepada dokter spesialis anak di daerah, diharapkan diagnosis dapat ditegakkan lebih dini di Papua tanpa harus selalu mengirim pasien ke Jakarta.
Ketua Umum PP IDAI, DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), juga mengingatkan para orang tua di Papua untuk waspada terhadap tanda-tanda fisik pada anak.
Menurutnya, gejala paling sederhana yang bisa dipantau adalah grafik pertumbuhan. Jika berat badan anak tidak naik secara signifikan dalam tiga bulan pertama, atau anak terlihat kelelahan dan terputus-putus saat menyusu, hal tersebut wajib dicurigai sebagai gejala PJB.
“Waspadai juga jika muncul warna biru di sekitar bibir, lidah, serta ujung tangan dan kaki. Segera bawa ke dokter anak, terutama saat jadwal imunisasi, agar dapat dipastikan melalui pemeriksaan fisik maupun Echocardiography,” ujar Dr. Piprim.
Adanya temuan kasus serius dalam skrining gratis kali ini memperkuat urgensi pembangunan sistem kesehatan yang lebih terintegrasi di Papua Barat Daya.
Hadirnya pakar kardiologi anak seperti Prof. DR Dr Mulyadi M Djer, Sp.A, Subsp Kardio(K) dan Dr Rizky Adriansyah dalam kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal transformasi layanan jantung anak di Papua, sehingga anak-anak di Papua mendapatkan hak kesehatan yang setara dengan wilayah lain di Indonesia.
Direktur RSUD Sele Be Solu, drg. Susi Petronela Djitmau, MPH, beserta jajaran dokter dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Papua turut mendampingi jalannya pemeriksaan yang berlangsung tertib hingga selesai.
Melalui kegiatan ini, diharapkan deteksi dini Penyakit Jantung Bawaan dapat dilakukan secara masif guna meningkatkan kualitas hidup generasi muda di Papua. (*)




Discussion about this post