Jayapura, Jubi– Komunitas IBAYAUW Kampung Enggros, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua membersihkan sampah di kawasan Hutan Perempuan di Teluk Youtefa, Kamis (24/4/2026). Aksi ini dalam rangka peringatan Hari Kartini pada 21 April 2026.
Dalam aksi itu, Komunitas IBAYAUW berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Balai Besar KSDA Papua, Dinas Lingkungan Hidup Kota Jayapura, Komunitas Rumah Bakau Jayapura, dan mahasiswa dari Universitas Cenderawasih.
Petronela Merauje, yang menginisiasi kegiatan tersebut mengatakan aksi itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian perempuan adat terhadap wilayah kelola tradisional, yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat Kampung Enggros.
“Saya menginisiasi kegiatan ini karena perempuan adalah garda terdepan dalam menjaga wilayah kelola adat perempuan secara kolektif. Mereka tetap menjaga salah satu kekayaan kami, yaitu hutan perempuan,” kata Petronela Merauje saat kegiatan.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Menurut Merauje, Hutan Perempuan bukan sekadar ruang adat, juga ‘dapur’ dan sumber pangan bagi masyarakat Kampung Enggros, bahkan warga Kota Jayapura. Karenanya, ia mengajak perempuan di Kampung Enggros maupun Kota Jayapura, bersama menjaga kawasan tersebut dari ancaman sampah.
Katanya, kini Hutan Perempuan dan kawasan Teluk Youtefa menjadi salah satu lokasi penumpukan sampah terbesar di Kota Jayapura. Kondisi itu dikhawatirkan merusak habitat dan ekosistem laut di kawasan tersebut.
“Saya merasa bertanggung jawab sebagai anak negeri dan bagian dari masyarakat untuk menjaga alam ini tetap bersih, agar kami yang hidup di kampung dan sekitar teluk tetap mendapat hasil yang baik dari hutan tersebut,” ucapnya.
Merauje juga meminta Pemerintah Kota Jayapura memberikan perhatian serius terhadap persoalan sampah di kawasan Teluk Youtefa, dan berharap ada langkah tegas, termasuk pemberian sanksi kepada masyarakat yang membuang sampah sembarangan.
Sementara itu, Kepala Balai Besar KSDA Papua, Johny Santoso mengapresiasi aksi yang dilakukan Komunitas IBAYAUW bersama para pihak lainnya, karena dinilai bentuk nyata kepedulian masyarakat terhadap kelestarian kawasan konservasi.
Ia menjelaskan Teluk Youtefa mencakup hutan lindung yang dikelola Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, serta kawasan konservasi taman wisata alam Teluk Youtefa yang dikelola Balai Besar KSDA Papua.
Johny mengatakan, penanganan sampah di kawasan itu harus dilakukan secara terpadu. Tidak hanya di hilir, juga di wilayah hulu, mengingat sejumlah sungai bermuara ke Teluk Youtefa.
“Jika sampah terus masuk ke kawasan hutan lindung dan konservasi, maka akan berdampak pada ekosistem, termasuk hutan mangrove. Jika mangrove rusak, sumber penghidupan masyarakat seperti menangkap ikan juga akan terganggu,” kata Johny Santoso.
Ia mengimbau masyarakat untuk mengelola sampah dengan baik dan membuang sampah pada tempatnya, agar persoalan sampah di Teluk Youtefa dapat diatasi secara bertahap.
Aksi itu berhasil mengumpulkan 200 kantong sampah. Sampah ini berasal yang dari kawasan Hutan Perempuan hingga pinggir pantai Ciberi. Sebanyak 150 kantong sampah dari Hutan Perempuan dan 50 kantong dari sekitar pantai Ciberi.
Jenis sampah yang dikumpulkan mulai dari botol plastik, pembalut wanita, popok bayi, sampah rumah sakit, dan berbagai jenis sampah rumah tangga. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua


























Discussion about this post