Sentani, Jubi – Masyarakat Kampung Yobeh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua menampilkan berbagai atraksi budaya, menyambut kunjungan wisatawan mancanegara ke kampung tersebut, Rabu (15/4/2026).
Masyarakat kampung yang berada di kawasan Danu Sentani itu, juga menampilkan berbagai kuliner tradisional khas mereka.
Atraksi budaya yang ditampilkan masyarakat Kampung Yobeh dalam penyambutannya adalah tarian adat, prosesi penyambutan tamu, hingga simulasi kehidupan sehari-hari seperti tradisi berburu dan mengolah sagu.
Atraksi itu menggambarkan peran laki-laki yang berburu, dan perempuan menyambut hasil buruan dengan tarian khas.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Wisatawan juga diperlihatkan bagaimana proses pengolahan sagu, mulai dari pemarutan hingga menjadi makanan siap konsumsi.
Kepala Kampung Yobeh, Sostinus Sokoy mengatakan kehadiran wisatawan, baik mancanegara maupun domestik menjadi kebanggaan bagi masyarakat kampung, dan peluang memperkenalkan budaya lokal kepada dunia luar.
Sokoy mengatakan proses pengolahan sagu menjadi bagian dari atraksi yang ditampilkan, karena sagu adalah penting dari kehidupan dan budaya masyarakat Yobeh.
“Yang ditampilkan tadi hanya sebagian kecil, seperti tarian penyambutan tamu dan proses pengolahan sagu. Sebenarnya masih banyak potensi adat yang belum ditampilkan,” ucapnya.
Katanya, masih ada sejumlah warisan budaya lain yang belum diperkenalkan kepada wisatawan, seperti benda pusaka dan alat musik tradisional tertentu.
Menurut Sokoy, kehadiran wisatawan memberi dampak positif bagi masyarakat, terutama dalam memperkenalkan Kampung Yobeh ke publik, serta meningkatkan ekonomi warga melalui penjualan kerajinan dan produk lokal.
“Dengan adanya turis, orang luar jadi tahu Kampung Yobeh. Selain itu, masyarakat juga bisa menjual hasil-hasil yang ada,” ujarnya.
Meski begitu kata Sokoy, pengelolaan wisata lokal di kampung tersebut belum dilakukan secara maksimal. Hingga kini, wisatawan domestik yang datang, kebanyakan hanya menikmati suasana kampung dan pemandangan matahari terbenam tanpa dikenakan biaya.
“Kampung ini terbuka untuk semua. Kami belum kelola secara khusus, jadi masyarakat datang dan menikmati saja,” kata Sokoy.
Sementara itu, seorang wisatawan asal Amerika Serikat, Tom Hibler mengaku terkesan dengan kunjungannya ke Kampung Yobeh dan kawasan Danau Sentani.
Menurutnya, keindahan alam dan aktivitas tradisional masyarakat menjadi daya tarik tersendiri. “Kami suka di sini, sangat indah. Yang tradisional juga sangat indah untuk dilihat,” ujar Tom.
Ia mengaku menikmati berbagai aktivitas masyarakat yang disaksikan secara langsung, termasuk kegiatan di sekitar perairan. Pengalaman menyusuri kawasan tersebut menggunakan perahu menjadi salah satu momen yang paling berkesan.
“Perjalanan dengan perahu sangat indah, melihat rumah-rumah dan aktivitas masyarakat, termasuk orang-orang yang sedang menangkap ikan,” katanya.
Katanya, kunjungannya ke Jayapura hanya berlangsung singkat. Sekira satu hari, karena ia dan rombongan sedang mengikuti perjalanan wisata menggunakan kapal pesiar, dan singgah sesaat di Jayapura sebelum melanjutkan perjalanan.
Perjalanan tersebut dimulai dari Kepulauan Solomon, kemudian berlanjut ke Papua Nugini, Jayapura, dan akan dilanjutkan ke Sorong, Papua Barat Daya.
Ia mengaku melakukan perjalanan wisata itu bersama istrinya, dan dalam kunjungannya menyempatkan berinteraksi dengan masyarakat lokal, meski mengalami kendala karena tidak membawa mata uang rupiah.
“Kami tidak membawa uang rupiah, hanya dolar Amerika, jadi agak sulit untuk berbelanja,” ucapnya.
Ia mengapresiasi keindahan alam Jayapura, khususnya kawasan perairan di sekitar Danau Sentani, yang dinilai sangat indah. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




Discussion about this post