Jayapura, Jubi – Usaha ekonomi produktif tidak hanya butuh modal finansial. Strategi pengelolaannya juga berkontribusi besar dalam pengembangan bisnis, termasuk bagi usaha mikro kecil dan menengah atau UMKM.
Perihal itu disadari Elisabeth Firtar, pemilik usaha kuliner di kawasan Pantai Hamadi. Bisnis kecil-kecilannya mampu bertahan hingga lima tahun berkat pelatihan pengembangan usaha dari Pemerintah Kota Jayapura yang pernah dia ikuti.
“Saya bersyukur mendapat pelatihan manajemen usaha dari Dinas Perindustrian dan Koperasi Kota Jayapura. Pengetahuan itu saya terapkan sehingga usaha ini bisa bertahan hingga lima tahun,” kata Firtar, Rabu (15/5/2024).
Firtar berjualan makan dan minuman ringan. Omzetnya merangkak naik sejak dia mengikuti pelatihan. Dalam sehari, Firtar bisa meraup hingga Rp300 ribu.
Pelatihan manajemen telah membuka wawasan Firtar bahwa keuntungan usaha tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dia pun harus menyisihkan secara khusus pemasukan itu untuk penambahan modal supaya usahanya terus berkembang.
Pengetahuan manajemen juga menjadi modal nonfinansial utama bagi Silas Wona dalam menekuni usaha kriya. Akan tetapi, dia merasa pengetahuan itu masih belum cukup.
“Saya sudah mengikuti pelatihan manajemen, tetapi usaha yang saya jalankan masih stabil [begini-begini saja]. Saya berharap ada pelatihan tentang strategi pemasaran,” ujar Wona.
Wona memproduksi, dan menjual aneka kriya khas Papua, seperti gelang, anting, serta berbagai kerajinan tangan lain. Harga produknya berkisar Rp10 ribu hingga Rp50 ribu.
Omzet Wona rata-rata Rp300 ribu hingga Rp500 ribu sehari. Pembeli produknya kebanyakan pelancong atau orang dari luar Papua.
“Persaingan di pasaran digital juga makin masif di kalangan UMKM. Kalau bisa, setiap bulan ada pameran produk UMKM sehingga pembeli tidak hanya dari luar, tetapi juga orang-orang lokal,” kata Wona.

Penunjang wisata
Usaha kuliner dan kriya menjadi dua dari sekian banyak aktivitas ekonomi yang mendukung pengembangan wisata daerah. Para pelancong dapat memenuhi konsumsi harian mereka selama di lokasi wisata dan berbelanja oleh-oleh khas sebagai buah tangan ketika pulang ke daerah masing-masing.
“Usaha kuliner berkontribusi sebesar 121 persen terhadap pemasukan daerah di sektor wisata di Kota Jayapura. Kriya dan fashion juga berkontribusi walaupun tidak sebesar kuliner,” kata Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Jayapura Matias Benoni Mano.
Menurutnya, kontribusi usaha kuliner tersebut berhubungan dengan kebutuhan konsumsi wisatawan selama berada di Kota Jayapura. Jadi, tidak mengherankan bila kontribusinya melampaui usaha lain.
Jenis usaha kuliner juga beragam dan tersebar di berbagai lokasi di Kota Jayapura. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat lebih 1.000 usaha kuliner di Kota Jayapura pada 2021. Usaha kuliner tersebut terdiri atas 63 restoran, 92 kafe, 428 rumah makan, dan 451 warung makan. Adapun griya kriya atau art shop sebanyak 11 galeri di Kota Jayapura.
Tren usaha kuliner di Kota Jayapura berkembang seiring peningkatan kunjungan wisata. Berdasarkan data Dispar Kota Jayapura, ada lebih 58 ribu atau rata-rata sekitar 5.600 wisatawan dalam sebulan yang mengunjungi daerah tersebut pada 2022.
“Sebagian besar [wisatawan] yang datang ke Kota Jayapura ialah pebisnis. Lokasi paling sering dikunjungi ialah pantai,” ujar Mano.

Minim pembinaan
Jumlah kunjungan wisata di Kota Jayapura bisa menggambarkan besaran potensi pendapatan yang diraup usaha kuliner dari para pelancong. Jika kebutuhan konsumsi harian setiap pelancong sebesar Rp100 ribu saja, berarti ada lebih Rp560 juta sebulan, atau sekitar Rp19 juta sehari yang mereka belanjakan untuk makan, dan minum selama di Kota Jayapura.
Namun, ceruk pendapatan itu sering kali hanya dinikmati segelintir usaha kelas atas. Adapun UMKM paling cuma kebagian tempiasnya.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kota Jayapura Robert LN Awi mengatakan ada 31.850 UMKM di wilayah tersebut. Semua usaha itu aktif beroperasi, tetapi hanya 8.000 usaha yang pernah mendapat pendampingan dari pemerintah setempat.
“Semua UMKM aktif [masih beroperasi], tetapi baru 8.000 usaha yang mendapat pendampingan, pelatihan, dan bantuan [dari pemerintah setempat]. Anggaran dan sumber daya kami terbatas,” ujar Awi.
UMKM di Kota Jayapura sebagian besar berupa penjualan kebutuhan pokok, pakaian jadi, aksesori, dan kuliner. Awi menyebut UMKM Kota Jayapura mengalami pertumbuhan positif, yakni rata-rata 3–5 persen atau 50–200 usaha baru setiap tahun.
“Perputaran uang [dari UMKM] memengaruhi pertumbuhan ekonomi Kota Jayapura. Namun, usaha skala rumah tangga [mikro] belum berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah,” kata Awi.
Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan UMKM, terutama usaha penunjang wisata ialah kemampuan manajerial ataupun pembukuan. Kualitas produk maupun pengemasannya juga masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing dengan produk serupa dari luar daerah.
“Saya berharap UMKM terus mengembangkan kreativitas dan berinovasi. Itu untuk mendapat sumber-sumber ekonomi [pemasukan] baru buat mereka,” ujar Mano. (*)

























Discussion about this post