Jayapura, Jubi – Hilangnya penutur bahasa asli di Negara Samoa menyebabkan pemerintah setempat menggalakkan pelestarian bahasa ditandai dengan kebaktian di Gereja Samoa dalam menyemarakkan dimulainya Le Vaiaso O le Gagana Samoa, “Pekan Bahasa Samoa” di kota Aotareoroa pada ibadah Minggu (31/5/2026).
“Ribuan warga Samoa memenuhi ruang ibadah dan bernyanyi serta berdoa dalam bahasa Gagana Samoa,” seperti dikutip Jubi dari RNZ Pasifik, Senin (16/2026).
Lebih lanjut dijelaskan dalam doa-doa gereja Samoa sangat berakar kuat dalam bahasa dan budaya Gagana Samoa , menekankan rasa hormat yang mendalam, rasa syukur, dan permohonan.
Struktur khas untuk tatalo (doa) dibangun di atas lima pilar dasar antara lain,Fa’ane’etaga (Keagungan), Memuji Tuhan (biasanya disapa Le Atua atau Langi).
Kemudian Fa’afetai (Ucapan Syukur) yaitu mengungkapkan rasa terima kasih Fa’atoesega. Sebagai umat yang berdosa selalu ada rasa penyesalan, sehingga mencari dan memintai pengampunan, Fa’atoesega.
Memohon berkat,Mana’oga , perlindungan, atau kekuatan spiritual.Untuk mengakhiri ibadah Fa’ai’uga atau penutup di dalam nama Yesus ( I le suafa o Iesu ).
Bahkan dalam pengucapan doa Bapak Kami di gereja dan setiap keluarga, diwajibkan berbahasa Samoa,Lo matou Tamā oi le lagi: Bapa kami yang di surga.
Pekan bahasa Samoa ini sebagai acara tahunan, dan akan berlangsung dari 31 Mei hingga Minggu, 6 Juni 2026.
Tema tahun ini diambil dari sebuah peribahasa Samoa: E afua mai mauga tetele manuia o le nu’u – Dari pegunungan tinggi datanglah berkah bagi desa .
Fa’alogo Vaai, dari Kementerian Masyarakat Pasifik, mengatakan, “Ada narasi lengkap di situs web Kementerian, yang membahas tentang mauga tetele, pegunungan tinggi dan berkah yang menyertainya.
“Ini bukan hanya simbolis, saya kira secara fisik tetapi juga sisi spiritualnya dan semuanya terangkum dalam narasi tersebut.”
Dalam Sensus Selandia Baru tahun 2023, 213.069 orang mengidentifikasi diri sebagai orang Samoa. Namun, hanya 48,4 persen—kurang dari setengah dari jumlah tersebut—yang dapat berkomunikasi dalam bahasa Gagana Samoa.
Vaai mengatakan bahwa penutupan Aoga Amata, pusat pendidikan bahasa Samoa usia dini, merupakan tantangan bagi komunitas Samoa di Selandia Baru.
“Mereka tidak memiliki uang maupun tenaga kerja untuk dapat menyediakan hal tersebut, sehingga anak-anak yang sebelumnya menjadi bagian dari Aoga Amata, dan tumbuh bersama Fa’asamoa, generasi saat ini tidak memiliki hal itu karena Aoga Amata sudah tidak ada lagi,” ucapnya.
Vaai percaya bahwa fondasi kuat yang pernah mendukung Gagana Samoa di Selandia Baru, sudah tidak ada lagi.
Namun, ia mengakui bahwa ada peningkatan permintaan di kalangan siswa pendidikan menengah dan tinggi untuk mempelajari Gagana Samoa. Ini menghadirkan peluang untuk melestarikan bahasa tersebut.
Proyek Leo Moana o Aotearoa dari Kementerian Urusan Masyarakat Pasifik melakukan survei tentang penggunaan dan sikap terhadap bahasa-bahasa Pasifik di Selandia Baru.
Tujuan proyek ini adalah untuk mengumpulkan informasi tersebut, guna melestarikan dan menghidupkan kembali bahasa-bahasa tersebut.
Survei tersebut mengungkapkan beberapa fakta menarik tentang Gagana Samoa di Selandia Baru:
50 persen penutur Gagana Samoa mempelajari Gagana Samoa sebagai bahasa pertama 94 persen responden mengatakan bahwa menggunakan bahasa warisan mereka penting bagi kesejahteraan mereka.
97 persen responden percaya bahwa penting bagi anak-anak kita dan generasi mendatang untuk berbicara bahasa-bahasa Pasifik kita. 51 persen berbicara kepada anak-anak di rumah mereka menggunakan bahasa-bahasa Pasifik.
Samoa, secara resmi Negara Merdeka Samoa, adalah negara kepulauan Polinesia di Samudra Pasifik Selatan. Terdiri dari dua pulau utama (Upolu dan Savai’i), negara tropis ini beribu kota di Apia, memiliki populasi sekitar 220.000 jiwa, dan terkenal akan budaya serta keindahan pantainya.
Total luas daratannya dalah 2.842 km² (1.097 sq mi). Terdiri dari dua pulau utama, yaitu Upolu dan Savai’i. 99 persen daratan Samoa terletak di kedua pulau itu.
Sedangkan sisanya teretak di delapan pulau kecil di sekitarnya. Tiga pulau kecil berada di Selat Apolima (Manono, Apolima dan Nu’ulopa), empat pulau lainnya berada di ujung timur Upolu (Nu’utele, Nu’ulua, Namua, dan Fanuatapu), dan Nu’usafe ‘ e terletak di lepas pantai Upolu. Pulau Upolu adalah rumah bagi hampir tiga-perempat dari populasi Samoa. (*)
























Discussion about this post