Jayapura, Jubi – Teka-teki sikap Yasinta Moiwend atau Mama Sinta yang memprotes pelibatannya dalam film dokumenter ‘Pesta Babi’ dan bahkan muncul di Polda Metro Jaya melaporkan pimpinan LBH Pos Merauke, mulai terkuak.
Keluarga Mama Yasinta Moiwen merespon secara resmi melalui pernyataan video yang dikirimkan kepada Redaksi Jubi.id pada Minggu (31/5/2026). Pernyataan klarifikasi itu disebutkan dibuat pada Sabtu, 30 Mei 2026 di Merauke.
Dalam rekaman video berdurasi 6 menit 41 detik itu, seorang pria mewakili keluarga Mama Yasinta Moiwen mengungkapkan kekhawatiran mendalam akibat hilangnya kontak keluarga dengan Mama Sinta. Ia menyampaikan upaya pencarian terhadap Mama Sinta dan kondisi terkini yang mereka hadapi.
“Kami minta kepada semua pihak yang berada di Kampung Wogekel, di Kabupaten Merauke, dan di Provinsi Papua dan Tanah Papua untuk sama-sama mengawal dugaan penyeludupan Mama [Sinta] ini untuk membawa atau sepihak untuk melaporkan LBH Merauke setelah film Pesta Babi itu berkembang,” katanya.
Ia juga merasa sistem yang dibangun oleh oknum-oknum tersebut membenturkan perjuangan. “Membenturkan kami di dalam memperjuangkan tanah-tanah adat kami di Tanah Papua,” katanya.
Pihak keluarga juga meminta kepada LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) supaya bisa membangun komunikasi dan Komnas HAM Republik Indonesia untuk bisa mengawa. Pihak keluarga Mama Sinta juga meminta Komnas Perempuan Republik Indonesia untuk bisa mengawal keberadaan Mama Sinta.
“Kita minta juga kepada pihak-pihak yang membawa Mama [Sinta] supaya dipulangkan kepada kami,” ujar pria yang diminta pihak keluarga kepada Jubi agar namanya tidak dicantumkan.
Berikut adalah transkripsi utuh pernyataan keluarga Mama Sinta. Tanda bintang (***) adalah penyebutan nama yang telah disensor dalam video. (*)
Pernyataan Klarifikasi Keluarga Mama Yasinta Moiwend di Merauke, Sabtu, 30 Mei 2026
Kami dari keluarga Mama Sinta mau klarifikasi tentang dugaan Mama mulai dari hari Minggu, tanggal 24 Mei 2026, kami kehilangan kontak dengan beliau. Setelah tanggal 23, hari Sabtu, ketika video Mama Sinta Muiwen berkembang di media.
Saat itu kami coba membangun komunikasi dengan Mama, tetapi Mama sudah tidak komunikasi dengan kita, keluarga, mulai dari hari Minggu. Dan diduga saat itu Mama ditekan dan sudah membangun perencanaan yang cukup panjang untuk bagaimana Mama ini diduga untuk mengambil data dari Mama Sinta Muiwen. Hari Minggu saat itu beliau tidak bermalam di rumahnya, tetapi beliau bermalam di pos TNI di Kampung Wogekel, Distrik Ilwayab.
Hari Senin, tanggal 25, beliau bersama dengan (***) yang bertugas untuk mengamankan PSN di Kampung Wanam dan juga (***), saat ini yaitu (***) ikut menyeludupkan Mama tanpa sepengetahuan keluarga.
Dugaan pertama itu bahwa hari Minggu beliau diberangkatkan pakai kapal laut menuju ke Merauke, tetapi hari Senin, itu dibangun komunikasi bahwa beliau akan menggunakan pesawat jet milik (***) menuju ke Timika dan yang kedua itu ke Bovendigul, Kabupaten Bovendigul. Dan juga mereka entah berangkat ke Merauke dan saat itu kami sudah tidak tahu keberadaan beliau.
Sampai dengan hari Jumat tanggal 29, kami baru tahu ketika (***) dan (***) berada setelah kembali, mereka menggunakan pesawat helikopter dari Merauke menuju ke Wanap dan komunikasi itu dibangun di ke (***) untuk kontak menggunakan ponselnya (***) untuk komunikasi dengan Mama Sinta di Jakarta. Dan juga Mama Sinta sampaikan kepada (***) bahwa tolong kirimkan identitas diri, yaitu KTP, Kartu Keluarga, dan juga dengan saudara (***). Dan Mama sampaikan bahwa kami akan ketemu dengan Presiden.
Dan juga komunikasi itu dilakukan setelah Mama sudah melaporkan LBH di Polda Metro Jaya di Jakarta. Dan komunikasi video yang kedua beredar itu saat mereka sudah melaporkan itu di Metro Jaya.
Dan kami minta kepada semua pihak yang berada di Kampung Wogekel, di Kabupaten Merauke, dan di Provinsi Papua dan Tanah Papua untuk sama-sama mengawal dugaan penyeludupan Mama ini untuk membawa atau sepihak untuk melaporkan LBH Merauke setelah film Pesta Babi itu berkembang.
Dan kami merasa ini sistem yang dibangun oleh oknum-oknum sehingga membenturkan perjuangan kami di dalam memperjuangkan tanah-tanah adat kami di Tanah Papua. Dan juga yang berikutnya, yaitu kita minta kepada LPSK supaya bisa membangun komunikasi.
Komunikasi dan juga kepada HAM Republik Indonesia untuk bisa mengawal dan juga kepada Komnas Perempuan Republik Indonesia untuk bisa mengawal keberadaan Mama ini dan juga kita minta juga kepada pihak-pihak yang membawa Mama supaya itu dipulangkan kepada kami.
Kami keluarga merasa kehilangan Mama karena Mama dibawa tanpa izin dari kami keluarga. Sampai saat sekarang ini kondisi Mama kami belum tahu apakah itu beliau baik-baik di Jakarta atau diintimidasi segala macam. Dan secara pribadi mama, saya sebagai anaknya saya kenal dekat dengan beliau.
Beliau ini diintimidasi, ditekan, sehingga bisa mengikuti atau meng-cover kegiatan dia selama 3 tahun, mulai dari 2024 sampai 2026. Itu sama dengan membenturkan keinginan Mama. Jadi, Mama membenturkan diri dengan mengikuti oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk membenturkan atau memuluskan program PSN di atas Tanah Papua ini untuk merusak hutan-hutan kami.
Untuk mengerogoti hidup-hidup kami di tanah Papua ini. Kami minta kepada semua pihak untuk bisa mengawal keberadaan Mama Sinta ini dan juga minta kepada semua pihak dari Merauke, Tanah Papua, dan seluruh Indonesia, dan kepada seluruh dunia bahkan sampai internasional untuk bisa mengawal atau membelah hal-hal ketidakadilan yang terjadi di Tanah Papua ini. (*)





















Discussion about this post