Jayapura, Jubi – Walau film dokumenter Pesta Babi-Kolonialisme di zaman kita, sudah bisa langsung diakses dan ditonton secara gratis di platform digital YouTube, namun tak mengendorkan semangat warga untuk menggelar nonton bareng (nobar) dan berdiskusi, termasuk mahasiswa Indonesia di London, Inggris.
Film karya Dandhy Laksono dan antropolog Dr. Cypri Jehan Paju Dale ini tayang secara online melalui kolaborasi berbagai kanal seperti JubiTV, Watchdoc, dan Greenpeace Indonesia
Meskipun mengundang kontroversi hingga mendapat tanggapan miring, film dokumenter ini terus menarik minat para penonton baik dari dalam negeri hingga ke luar negeri. Mulai dari negeri tetangga jiran Malaysia, Myanmar, Australia, Selandia Baru,dan Jerman.
Kali ini Sofie Syarief mantan jurnalis Kompas TV yang melanjutkan studi doctoral di London United Kingdom (UK) juga melaporkan animo mahasiswa Indonesia di sana menyaksikan nonton bareng Pesta Babi.
“Yang hari ini Jumat 29 Mei banyak yang nonton sebanyak 150 mahasiswa,” kata Sofie Syarief mahasiswa PhD dari Goldsmiths, University of London, UK dalam pesan WA kepada Jubi, Sabtu (30/5/2026).
Menurutnya, animo mahasiswa Indonesia di London sangat tinggi sehingga pekan depan pada 6 Juni 2026, ditambah screeningnya untuk yang ingin menontonnya lagi.
“Jadi kita di sini, nonton bareng pada Jumat 29 Mei, dan pekan depan 6 Juni, dua kali nobar di London,” ucapnya.
Film dokumenter “Pesta Babi-Kolonialisme di zaman kita” garapan Dandhy Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale sudah resmi tayang secara gratis sejak Jumat, 22 Mei 2026.
Film berdurasi 95 menit tersebut bisa disaksikan langsung melalui kanal YouTube Redaksi JubiTV. Tercatat dalam sepekan film ini sudah ditonton lebih dari 10 juta kali.
Sementara itu jurnalis senior dari Malaysia Kini, Rahmat Harun saat menonton film Pesta Babi di Kuala Lumpur mengatakan, perkebunan monoklutur sangat tidak ramah terhadap lingkungan dan ekosistem.
Anda bayangkan hutan tropis di Sarawak Borneo berubah jadi tanaman monoklutur kelapa sawit,” kata Harun sedih.
Dalam diskusi dengan jurnalis jubi.id di Bangkok, Beimeng Fu jurnalis lepas dari Hongkong dalam artikelnya berjudul How China’s Durian Boom Is Transforming Laos juga memrotes perkebunan monokultur yang merubah hutan tropis menjadi perkebunan durian secara luas.
Jurnalis Beimeng Fu menambahkan bahwa pertanian monokultur merupakan praktik pertanian menanam satu jenis tanaman di lahan yang luas.
Memang diakui hal ini memungkinkan produksi massal dan efisiensi mekanis, namun dibalik itu semua dapat menyebabkan masalah jangka panjang seperti degradasi tanah dan kerentanan terhadap hama jika tidak dikelola dengan rotasi tanaman.
“Warga desa di Laos tanahnya kering kerontang dan butuh mesin bajak untuk mengolah tanah mereka kembali, sayangnya butuh waktu yang lama,” katanya. (*)




Discussion about this post