Jayapura, Jubi – Seorang aktivis kemerdekaan Papua Barat mengatakan bahwa rekaman palsu yang dihasilkan AI tentang dirinya dan kata-katanya, telah digunakan untuk menyebarkan disinformasi di media sosial.
Koteka Wenda, putri dari pemimpin Gerakan Pembebasan Bersatu untuk Papua Barat, Benny Wenda mengatakan bahwa video pendek di Instagram yang diunggah oleh akun nasionalis Indonesia tersebut menampilkan dirinya berbicara menentang film baru tentang perampasan tanah dan pelanggaran hak asasi manusia di Papua.
Pemerintah Indonesia telah menghentikan beberapa penayangan film dokumenter Pesta Babi , dengan alasan kekhawatiran akan ‘ketertiban umum’, seperti dikutip jubi.id dari laman internet, RNZ Pasifik Kamis (28/5/2026)
Wenda, aktivis Papua Barat yang berbasis di negeri kincir angin Belanda, telah menggambarkan hal itu sebagai pelanggaran karena kata-kata, bahasa tubuh, dan gerakannya telah disalahgunakan dalam video propaganda, melalui manipulasi AI dari rekaman sebelumnya yang telah ia unggah sendiri secara online saat berbicara tentang kemerdekaan Papua Barat.
“Video ini sungguh mengkhawatirkan, karena bagi orang awam, video ini tampak seolah-olah saya berbicara menentang hak asasi manusia, atau setidaknya menentang penyebaran film dokumenter penting seperti Pesta Babi,” katanya.
Wenda mengatakan bahwa Al digunakan untuk menyebarkan disinformasi politik yang menargetkan suara-suara Papua Barat dan aktivis masyarakat adat.
“Bisa jadi ada orang-orang di luar sana, Anda tahu, orang-orang Papua Barat lainnya sendiri yang melihat wajah saya sebagai aktivis Papua Barat terkemuka, tiba-tiba berganti pihak. Ini benar-benar bermasalah, karena hal ini dapat membangun ketidakpercayaan publik,” ujarnya.
Ia menjadi aktivis muda Papua Barat pertama yang menjadi sasaran pada tingkat kecanggihan dan jangkauan baru ini, dengan ratusan ribu penonton.
“Ini adalah penjajahan digital. Ini adalah bentuk baru dari taktik kolonial baru untuk menindas kami, orang Papua Barat. Maksud saya, Indonesia tidak hanya berusaha mencuri tanah dan masa depan kami, tetapi mereka juga mencuri tubuh dan suara kami, dan saya merasa sangat dilecehkan oleh video AI baru-baru ini.”
Wenda mengatakan bahwa orang-orang telah melaporkan video Instagram palsu tersebut dan memblokirnya.
“Beberapa orang bahkan mengklaim bahwa itu adalah blackface digital, tetapi belum dihapus. Dan ini sangat mengkhawatirkan,” ujarnya.
“Namun, sejak saya angkat bicara tentang hal ini, kolom komentar dibanjiri pesan dan komentar dari banyak teman-teman Papua Barat Merdeka kami yang menyatakan bahwa ini adalah AI, ini tidak nyata, ini palsu. Jadi, ada wacana, ada semacam percakapan yang terjadi,” katanya.
Namun video ini sedikit memperkeruh keadaan, dan Wenda menyarankan pengguna media sosial untuk selalu siap bersikap kritis dan memeriksa sumber unggahan dan video pendek. Platform media sosial juga disebut memiliki tanggung jawab.
“Penting bagi platform media sosial untuk menanggapi hal ini dengan serius dan mendorong transparansi, mendorong akuntabilitas,” ucapnya.
Sementara itu RNZ Pacific telah menghubungi pemerintah Indonesia untuk meminta komentar. (*)
























Discussion about this post