Jayapura, Jubi – Tutupan pohon di Laos dari 2021 sampai 2025, tercatat sebanyak 98 persen kehilangan tutupan pohon terjadi di hutan alam.
Total kehilangan di hutan alam adalah 1.7Mha, setara dengan 870 Mt emisi CO₂e. Tutupan hutan tropis alam ini berubah menjadi perkebunan monokultur besar berupa pisang dan durian.
Budidaya pisang monokultur di Laos—yang terutama didorong oleh perusahaan agribisnis Tiongkok dan Vietnam—telah menghasilkan pendapatan ekspor yang signifikan tetapi memicu kekhawatiran besar.
Jurnalis Vo Kieu Bao Uyen dan kawan kawan dalam Mekong Eye media di Laos yang bekerja sama dengan dukungan dari Pulitzer telah memberikan laporan dari lapangan antara ambisi membangun perkebunan pisang monokultur dengan membabat habis hutan tropis di Laos.
Hal ini sampaikan Jurnalis Vo Kieu Bao Uyen asal Laos dalam pemaparan di Konfrensi Media New.Now.Next (N3Con), yang diselenggarakan oleh Asian American Journalists Association Asia Chapter (AAJA-Asia), berlangsung diFakultas Seni Komunikasi , Universitas Chulalongkorn di Bangkok, Thailand pada 21-23 Mei 2026.
“Budidaya tanaman monoklutur telah menyebabkan degradasi tanah dan polusi air yang parah, penggunaan pupuk dan bahan Kimia secara intensif dan skala besar memperparah tanah dan sungai,” katanya seraya menambahkan butuh beberapa tahun untuk memperbaiki kondisi tanah yang sudah terlanjur rusak itu.
Menurutnya, dalam pertanian monokultur intensif sangat bergantung pada pestisida dan herbisida (termasuk zat terlarang seperti paraquat).
Hal ini menyebabkan lahan menjadi keras, kering, dan mengalami degradasi yang signifikan, meskipun ada pertimbangan ekonomi.
“Sektor ini menyediakan lapangan kerja dan infrastruktur berharga yang meningkatkan upah di pedesaan, tetapi masyarakat setempat sering kali menyerahkan lahan pertanian tradisional dan menanggung risiko kesehatan yang tinggi akibat paparan bahan kimia,” ucapnya.
Dalam laporannya berjudul “Ledakan Industri Pisang, Kehancuran Tanah” menyebutkan penggunaan bahan kimia secara intensif dalam jangka panjang di perkebunan pisang Laos telah merusak tanah yang dulunya subur di negara itu, dan mungkin dibutuhkan waktu hampir setengah abad untuk memulihkannya.
Katanya, laporan ini merupakan investigasi kedua dari dua laporan yang diterbitkan oleh media Mekong Eye yang melakukan investigasi terhadap dampak pertanian skala besar terhadap deforestasi dan kualitas tanah di Laos.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa di negara Laos bagian utara mengalami degradasi tanah setelah bertahun-tahun melakukan pertanian monokultur dan penggunaan bahan kimia secara luas di perkebunan pisang yang dioperasikan oleh pengusaha asal Tiongkok.
Perusahaan itu masuk di Laos Utara dan menyewa lahan warga setempat, hanya saja setelah satu dekade menanam pisang secara monokultur, perusahaan tersebut pergi dan kemudian mengembalikan lahan itu kepada warga desa setempat.
Namun, selama masa itu, tanah telah berubah dengan cara yang tidak dapat diantisipasi oleh warga desa setempat.
“Tanahnya sangat keras dan kering, tidak seperti dulu. Warga desa harus mengganti bajak dengan alat bajak yang lebih kuat hanya untuk mengolah tanah,” ujarnya.
Karena tanah menjadi tandus akibat penanaman pisang dan harga pasar yang berfluktuasi, banyak investor beralih ke tanaman menguntungkan lainnya seperti durian, sehingga menimbulkan pertanyaan baru tentang keberlanjutan ekologis jangka panjang.
Sementara itu Beimeng Fu jurnalis lepas dalam artikelnya berjudul How China’s Durian Boom Is Transforming Laos Forest melaporkan bahwa meningkatnya permintaan durian di Tiongkok mengubah lanskap dan perekonomian di Laos.
Dalam laporan jurnalis Beimeng Fu merinci bagaimana investor Tiongkok dengan cepat membeli lahan untuk perkebunan skala besar, menimbulkan kekhawatiran tentang deforestasi dan gangguan terhadap mata pencaharian lokal.
Laporannya yang didukung oleh Pulitzer Center, telah menyoroti realitas ekonomi, sosial, dan lingkungan yang kompleks di balik “ledakan durian” ini oleh para pengusaha Tiongkok memanfaatkan hutan hujan tropis Laos yang belum dikembangkan.
“Biaya lahan dan tenaga kerja yang rendah, serta kebijakan Sabuk dan Jalan Tiongkok untuk menanam durian yang ditujukan langsung untuk pasar Tiongkok,” katanya.
Ia mengatakan, terlepas dari proyeksi awal, beberapa proyek skala besar yang didanai China mengalami kesulitan dengan pengelolaan air yang buruk dan serangan serangga.
Menurutnya, dampak lingkungan terjadi karena pesatnya perluasan perkebunan durian dan pisang telah menimbulkan kekhawatiran tentang penggundulan hutan dan hilangnya habitat local seperti gajah.
Sungai Mekong dan anak sungainya (seperti Nam Tha dan Nam Ou) menjadi habitat bagi sekitar 500 spesies ikan asli dan habitat lahan basah yang penting, seperti lahan basah Xe Champhone, yang menjadi tempat tinggal buaya Siam terakhir di negara ini. (*)
























Discussion about this post