Jayapura, Jubi – Saat berjumpa dengan Jubi, jurnalis senior malaysiakini.com Rahmat Harun mengatakan film Pesta Babi-Kolonialisme di zaman kita, terkenal di Indonesia, dan ia menangis saat menonton film dokumenter itu.
Pernyataan itu disampaikan Rahmat Harun saat bertemu Jubi di Konfrensi Media New.Now.Next (N3Con), yang diselenggarakan oleh Asian American Journalists Association Asia Chapter (AAJA-Asia), berlangsung diFakultas Seni Komunikasi , Universitas Chulalongkorn di Bangkok, Thailand pada 21-23 Mei 2026.
“Saya langsung menangis. I am cry saat menonton film Pesta Babi di Kuala Lumpur,” kata Rahmat Harun kepada Jubi di pertemuan N3con 2026 di Kampus Universtas Chulalongkorn, Bangkok.
Ia mengaku sangat sedih karena film itu menggambarkan hilangnya hutan tropis yang beragam, dan ‘disulap’ menjadi perkebunan kelapa sawit yang sangat monokultur.
“Sangat tidak baik kalau hutan tropis heterogen dirubah menjadi hutan seragam dengan tanaman monokultur. Hutan tropis beragam jadi hutan homohen atau sejenis sangat berpengaruh buruk terhadap ekosistem,” ujarnya.
Lebih lanjut jurnalis yang juga seniman Malaysia ini menyinggung hutan tropis di Sarawak. Wilayah ini merupakan salah satu negara bagian terbesar di Malaysia yang terletak di bagian barat laut Pulau Kalimantan (Borneo).
Wilayah tersebut berbatasan langsung dengan wilayah Kalimantan (Indonesia) di bagian selatan, Brunei Darussalam di utara, serta negara bagian Sabah di timur.
Menurutnya, di negara bagian Sarawak banyak hutan tropis yang sudah menjadi perkebunan kelapa sawit milik perusahaan Rimbunan Hijau Group (RH).
Grup ini punya salah satu konglomerat multinasional terbesar asal Malaysia yang berakar umbi di Sibu, Sarawak.
Perusahaan ini berdiri pada 1975 oleh mendiang taipan Tan Sri Tiong Hiew King, perusahaan ini awalnya bergerak di sektor perkayuan dan kehutanan sebelum berekspansi secara masif ke berbagai industri global.
“Jadi ketika saya menonton film Pesta Babi ini langsung saya menangis karena hutan tropis berubah menjadi hutan monokultur,” ucapnya.
Hal senada dikatakan editor Malaysiakini lainnya Lee Weng Keat bahwa kini perusahaan Rimbunan Hijau milik Tan Sri Tiong Niew King dilanjutkan oleh anak anaknya, salah satu anak perempuannya karena ayahnya sudah meninggal.
Kedua jurnalis senior dari Malaysiakini merasa sedih setelah menyaksikan film Pesta Babi terutama penduduk asli yang kehilangan hutan dalam jumlah yang besar.
Media Malaysiakini selalu meliput kehidupan suku Dayak di Sarawak, mereka adalah kelompok penduduk asli pulau Kalimantan (Borneo) yang mencakup lebih dari 40 sub-etnis, dengan kelompok terbesar adalah Dayak Iban (Dayak Laut) dan Bidayuh (Dayak Darat).
Mereka memiliki budaya unik berupa rumah panjang tradisional (longhouse), seni rajah (tato), kerajinan tangan, dan Festival Gawai yang dirayakan setiap tahun.
Liputan Malaysiakini mengenai masyarakat Dayak di Sarawak sering menyoroti isu-isu utama seperti tuntutan hak tanah adat (NCR), pembangunan ekonomi luar bandar, sentimen perkauman atau agama, dan perjuangan politik masyarakat peribumi termasuk Iban, Bidayuh, serta Orang Ulu.
Isu-isu spesifik yang sering dibincangkan merangkumi,polemik pemilihan makanan, terutama perdebatan di Parlimen di mana Ahli Parlimen Dayak mempertahankan hak komuniti mereka untuk memakan babi, sebagai respons terhadap kritikan dari sebagian pemimpin politik di Parlemen Malaysia.
Salah satu yang selalu digalakan setiap tahun di Serawak Borneo adalah, Festival Gawai Dayak, ini merupakan perayaan panen raya yang diadakan setiap 1-2 Juni sebagai bentuk syukur dan ajang pelestarian budaya. (*)























Discussion about this post