Sentani, Jubi — Pemerintah Distrik Sentani mulai menata kawasan Pasar Lama Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Penataan dilakukan secara bertahap melalui melakukan koordiasi dengan berbagai pihak.
Kepala Distrik Sentani, Jack Judzoon Puraro, mengatakan dalam melakukan penataan Pasar Lama Sentani pihaknya berkoordinasi dengan ondofolo, kepala suku Dani di Kampung Yahim dan Kampung Yobeh, pemilik hak ulayat, serta para pedagang yang beraktivitas di kawasan itu.
“Sebagai kepanjangan tangan Bupati dan Wakil Bupati Jayapura, saya hanya menerjemahkan apa yang menjadi fokus dan perhatian kepala daerah, secara khusus penataan Pasar Lama Sentani,” kata Jack saat ditemui Jubi di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, pada Senin (26/10/2026).
Menurut Puraro, salah satu bagian dari penataan yang dilakukan pihaknya adalah pengaspalan jalan di kawasan itu yang dimulai, Senin (26/10/2026).
Pengaspalan jalan diharapkan dapat menghadirkan akses yang lebih baik bagi pedagang dan pembeli, serta meningkatkan kenyamanan masyarakat yang beraktivitas di kawasan pasar.
Sebab, selama jalan di kawasan Pasar Lama berlubang, debu, keterbatasan ruang jalan, dan penumpukan sampah.
Ia mengakui proses penataan tersebut mendapat beragam tanggapan dari masyarakat. Karenanya, Pemerintah Distrik Sentani terus melakukan pendekatan dan dialog untuk membangun kesepahaman mengenai rencana perubahan kawasan pasar.
Katanya, pekerjaan penataan diawali dengan pembangunan box culvert pada saluran drainase. Tahap selanjutnya adalah pengaspalan jalan yang dijadwalkan berlangsung pada Senin, 26 Oktober 2026, mulai pukul 23.00 WP (Waktu Papua) hingga Selasa, 27 Oktober 2026, pukul 04.00 WP.
Pengaspalan direncanakan berlangsung pada ruas jalan dari lampu merah Pasar Lama Sentani hingga Mata Jalan Komba.
Jack Judzoon Puraro mengajak pedagang dan masyarakat yang menggunakan jalan di sekitar pasar untuk mendukung pekerjaan itu serta menjaga keamanan dan ketertiban selama proses pengerjaan berlangsung.
Perbaikan akses jalan itu diharapkan dapat mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, terutama pedagang kecil yang setiap hari menggantungkan penghasilan dari kegiatan jual beli di Pasar Lama Sentani.
“Harapan kami, melalui akses jalan yang lebih baik dan memadai, aktivitas ekonomi masyarakat dapat meningkat, serta keamanan dan kenyamanan pedagang maupun pembeli semakin terjamin,” ujarnya.
Sementara itu, Anita Mimin (46 tahun), penjual makanan lokal khas Papua di Pasar Lama Sentani, menyambut baik rencana perbaikan jalan di kawasan tersebut.
Mimin yang menjual berbagai hasil kebun, seperti ubi, singkong, sayuran, dan keladi mengatakan, kondisi jalan yang berlubang dan berdebu selama ini mengganggu aktivitas mama-mama Papua yang berjualan di pinggir jalan.
Menurutnya, debu dari jalan dapat mengganggu pedagang yang menggelar hasil kebun dan makanan lokal untuk dijual kepada masyarakat.
Ia berharap perbaikan jalan dan penataan kawasan pasar dapat memberikan ruang yang lebih baik bagi mama-mama Papua untuk menjual hasil kebun mereka.
“Saya senang kalau jalan Pasar Lama akhirnya diperbaiki. Selama ini jalan berlubang dan banyak debu sehingga mengganggu kami yang berjualan di pinggir jalan,” kata Anita Mimin.
Namun, Anita Mimin juga berharap pemerintah tidak berhenti pada perbaikan jalan. Akan tetapi membangun pasar permanen yang layak di kawasan Pasar Lama Sentani agar mama-mama Papua memiliki tempat berjualan yang lebih baik.
Katanya, keberadaan pasar permanen dapat membantu pedagang kecil berjualan dengan lebih nyaman sekaligus memberikan tempat yang layak bagi masyarakat untuk menjual hasil kebun mereka. (*)























Discussion about this post