Jayapura, Jubi – Banyak wilayah di Papua Nugini (PNG) merasakan dampak El Nino. Dampak buruk yang dilaporkan terjadi mulai dari dataran tinggi hingga provinsi pesisir.
Ada wilayah yang mengalami embun salju di Provinsi Enga, kekeringan dan krisis air di Provinsi Barat perbatasan dengan Provinsi Papua Selatan Indonesia. Terkini kebakaran di pulau-pulau Provinsi Manus di Samudera Pasifik.
Kekeringan berkepanjangan kini meningkat menjadi masalah kemanusiaan nasional, yang memengaruhi air, pangan, kesehatan, dan mata pencaharian, dikutip Jubi dari laman internet RNZ Pasifik, Senin (26/10/2026).
Lembaga Penyiaran Nasional PNG (NBC) melaporkan bahwa kebakaran hutan juga menjadi masalah karena semak kering, rumput kunai, dan lantai hutan menjadi sangat mudah terbakar.
Kantor-kantor Penanggulangan Bencana Provinsi di seluruh Dataran Tinggi telah didesak untuk melakukan penilaian cepat dan memberikan bantuan segera karena negara bersiap menghadapi lebih banyak bulan kekeringan di masa mendatang.
Awal bulan ini, kebakaran hutan di Kepulauan Lou dilaporkan menghancurkan setidaknya setengah dari hutan di pulau itu, dan penduduk setempat kekurangan sumber daya yang memadai untuk memadamkan api yang diperparah oleh El Nino.
Organisasi Meteorologi Dunia telah memperingatkan bahwa fase El Niño yang semakin intensif akan membawa kondisi Samudra Pasifik tropis yang luar biasa hangat dalam beberapa bulan mendatang.
“El Nino sudah menyebabkan gangguan dan kerusakan akibat kekeringan dan banjir di berbagai bagian dunia termasuk Pasifik, dan diperkirakan akan mencapai puncaknya menjelang akhir tahun ini, dengan dampak iklim yang berlanjut hingga tahun 2027,” begitu pernyataan dalam pembaruan pada bulan September.
Dari jumlah penduduk PNG sebanyak 10.185.363 jiwa tercatat hampir 5 juta orang yang terkena dampak kekeringan di Papua Nugini, terutama kaum perempuan dan anak perempuan terkena dampak yang tidak proporsional.
Menurut kelompok kemanusiaan CARE International, pola cuaca El Niño memperburuk kekerasan berbasis gender dan ketidaksetaraan di seluruh Pasifik, sebagaimana dilansir dari Pacific Beat laman internet abc.net.au, Senin (26/10/2026).
CARE menyerukan kepada pemerintah untuk berinvestasi dalam keamanan bagi perempuan dan anak perempuan di samping dukungan yang sudah ada untuk ketahanan terhadap perubahan iklim dan bencana.
Manajer Proyek Kemanusiaan di PNG, Emilly Meren, mengatakan bahwa El Niño tahun ini menghadirkan tantangan yang unik.
“Ketika kita berbicara tentang bencana apa pun, semuanya bermuara pada penjatahan rumah tangga,” katanya.
“Perempuan dan anak perempuan diharapkan untuk menggandakan atau bahkan melipatgandakan upaya mereka untuk memastikan ada pasokan makanan dan air untuk kebutuhan keluarga setiap hari,” katanya. (*)






















Discussion about this post