Jayapura, Jubi – Provinsi Barat Papua Nugini (PNG), yang berbatasan langsung dengan Provinsi Papua Selatan Indonesia kini mengalami kekeringan, bahkan Sungai Fly kini menjadi dangkal dan debit airnya berkurang akibat krisis El Nino 2026.
Bagi keluarga yang berjuang menghadapi kekurangan pangan dan akses terbatas terhadap air bersih di Provinsi Barat, bantuan mulai berdatangan seiring Papua Nugini dan Australia menanggapi kondisi kekeringan yang memburuk di Distrik North Fly.
Pemerintah Australia dan Papua Nugini bekerja sama untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat yang terkena dampak kekeringan setelah permintaan dari Pusat Penanggulangan Bencana Nasional (NDC), dikutip Jubi dari tvwan.com.pg, Minggu (18/10/2026).
Bantuan tersebut meliputi beras, tepung, ikan kaleng, minyak goreng, gula, teh, dan peralatan penyaringan air.
Barang-barang tersebut diperoleh oleh Anggota Parlemen North Fly Open, James Donald, untuk masyarakat yang mengalami kondisi kekeringan berkepanjangan.
Pesawat C-27J Spartan Angkatan Pertahanan Australia, yang beroperasi di Papua Nugini di bawah Program Udara Pertahanan Pasifik, mengangkut hingga 10 ton pasokan ke Tabubil.
NDC, otoritas provinsi dan distrik akan mengoordinasikan distribusi ke masyarakat yang terkena dampak, dengan beberapa penerbangan diperkirakan akan dilakukan dalam beberapa hari mendatang.
Menteri Kesehatan dan Layanan Darurat, Dr. Billy Joseph, menyambut baik pengiriman tersebut, mengatakan bahwa bantuan tersebut menunjukkan komitmen pemerintah untuk mendukung masyarakat yang terkena dampak kekeringan.
“Pengiriman ini menunjukkan komitmen Pemerintah Papua Nugini untuk mendukung masyarakat yang terdampak kekeringan. Pusat Penanggulangan Bencana Nasional, otoritas provinsi, dan para pemimpin lokal akan bekerja sama untuk memastikan pasokan penting ini sampai kepada orang-orang yang paling membutuhkannya,” kata Dr. Joseph.
Menteri Penasihat Komisi Tinggi Australia untuk Tata Kelola dan Sumber Daya Manusia, Madeleine Moss, mengatakan dukungan tersebut akan membantu masyarakat mengakses pasokan penting selama penanggulangan kekeringan.
“Australia mendukung respons Papua Nugini melalui bantuan praktis yang membantu masyarakat mengakses pasokan penting. Dengan bekerja sama, kita dapat merespons tantangan yang muncul dengan cepat dan efektif serta mendukung ketahanan masyarakat yang terdampak,” kata Moss.
Pusat Penanggulangan Bencana Nasional telah mengklasifikasikan Provinsi Barat sebagai wilayah yang menghadapi kondisi kekeringan kritis, dengan masyarakat mengalami peningkatan kerawanan pangan dan berkurangnya akses terhadap air minum yang aman.
Operasi bantuan ini menyatukan otoritas nasional, provinsi, dan distrik untuk mendukung masyarakat yang terdampak kekeringan seiring dengan mulai tibanya pasokan di seluruh provinsi.
Provinsi Barat, PNG terdapat Sungai Fly yang menjadi andalan transportasi di wilayah itu telah turun ke level terendah dalam sejarah, sepenuhnya mengganggu transportasi kargo dan tongkang.
Akibatnya telah mengganggu rantai pasokan, kapal kargo—termasuk kapal milik Ok Tedi Mining—tidak dapat melewati sungai yang dangkal, sehingga menghentikan pengiriman bahan bakar, barang, dan perlengkapan medis yang sangat penting ke Kiunga dan komunitas sungai sekitarnya.
Begitulah dengan kelangkaan air, tangki air hujan dan sumur bor lokal telah kering, memaksa warga untuk berjalan jauh untuk mencari air dari sumur dan sungai yang berada di tempat lain.
Pangan lokal pun terancam seperti, pengolahan sagu dan talas, semuanya gagal panen atau tidak dapat diolah karena kekurangan air, yang menyebabkan kekurangan pangan dan bahan bakar yang kritis.
Pelayanan umum seperti Rumah Sakit Umum dan sekolah kesulitan beroperasi atau terpaksa tutup karena kekurangan pasokan dasar dan air.
Layanan Cuaca Nasional PNG telah menerbitkan Prakiraan Iklim Musiman untuk Oktober–Desember (OND) 2026.
Fenomena El Niño yang sangat kuat saat ini sedang meningkat di Pasifik, dengan model prakiraan iklim global menunjukkan bahwa fenomena ini akan tetap “sangat kuat” hingga akhir tahun dan berlanjut hingga awal tahun 2027.
Suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 telah mencapai +3,0°C, menandakan peristiwa yang luar biasa kuat.
Prakiraan Curah Hujan (Okt–Des 2026), curah hujan di bawah rata-rata diproyeksikan terjadi di sebagian besar wilayah Papua Nugini, meskipun curah hujan di atas rata-rata diperkirakan terjadi di beberapa bagian wilayah MOMASE atau gabungan dari empat provinsi penyusunnya: Morobe, Madang, dan Sepik.
Curah hujan normal hingga di atas normal diperkirakan akan kembali di sebagian besar wilayah negara seiring datangnya musim monsun mulai November dan seterusnya.
Provinsi NCD, Gulf, dan Western tetap berada pada status Kritis Kekeringan. Sementara itu, Bougainville, Central, Hela, Manus, Milne Bay, Morobe, dan Southern Highlands berada pada status Siaga Kekeringan.
Menurunnya permukaan waduk dan daerah aliran sungai, mengeringnya kebun pangan, dan kekurangan air minum serta bahan pangan pokok yang parah—terutama di atol-atol pulau seperti kelompok Kiriwina dan Goodenough.
Peningkatan risiko kebakaran hutan dan potensi bahaya embun beku di daerah dataran tinggi yang rawan embun beku.
Lakukan konservasi air secara ketat dan jaga tangki penyimpanan serta sumber air alami. Beralih ke varietas tahan kekeringan dan tanaman pangan berumur pendek.
Hindari pembakaran terbuka di dekat semak kering. Pihak otoritas manajemen bencana menekankan harus segera aktifkan Rencana Manajemen dan Respons Kekeringan tingkat provinsi dan komunitas. (*)



















Discussion about this post