Jayapura, Jubi – Greenpeace menilai komitmen pemerintah negara-negara dalam perundingan COP 17 Convention on Biological Diversity (CBD) belum menunjukkan keseriusan mencapai target 2030 dalam Kerangka Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal (KMGBF).
Penilaian itu disampaikan Greenpeace setelah satu pekan negosiasi berjalan di Yerevan, Armenia, namun masalah utama belum juga ada titik temu.
Greenpeace berpendapat belum ada langkah konkret untuk memastikan pendanaan memadai mengalir ke arah yang tepat, menyinergikan aksi iklim dan keanekaragaman hayati, serta menjamin perlindungan efektif yang menghormati hak-hak masyarakat adat dan komunitas lokal.
Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, Rossy You mengatakan, bumi sedang menuju kehancuran sehingga Tinjauan Global (Global Review) pertama harus menghasilkan langkah konkret untuk mengatasi kesenjangan implementasi yang teridentifikasi dalam Laporan Global maupun Laporan Nasional masing-masing negara.
“Minggu terakhir, termasuk Segmen Tingkat Tinggi tingkat menteri, harus menghadirkan kepemimpinan politik yang diperlukan untuk memajukan negosiasi dan mengubah komitmen menjadi tindakan nyata,” kata Rossy You dalam siaran pers Greenpeace, Selasa (27/10/2026).
Menurutnya, penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat dan komunitas lokal, serta partisipasi bermakna dari mereka, harus menjadi inti dari respons tersebut.
“Dengan tenggat waktu 2030, penundaan komitmen akan membawa kehancuran semakin dekat,” ucapnya.
Sebagai bentuk pengingat kepada para pemerintah negara-negara itu, Greenpeace menyorotkan proyektor ke bangunan ikonik Teater Opera dan Balet Nasional Armenia di Yerevan dengan pesan “Target 30×30 Makin Sulit Dicapai” dan “Uang Justru Mengalir ke Industri yang Merusak.” (*)
























Discussion about this post