Jayapura, Jubi – Salah satu tokoh politik di Tanah Papua, Laurenzus Kadepa, menyatakan perbedaan cara pandang menyebabkan sulitnya mencari solusi terbaik penyelesaian masalah Papua. Situasi ini pun disebut membuat buntunya komunikasi antara pemerintah pusat dan masyarakat Papua.
Anggota komisi bidang pemerintahan, politik, hukum, HAM, dan keamanan di DPR Papua periode 2014–2024 itu mengatakan, pemerintah pusat dan masyarakat Papua memiliki pandangan berbeda dalam melihat penyelesaian akar masalah di Bumi Cenderawasih.
Menurutnya, pemerintah pusat lebih menekankan penyelesaian masalah Papua dengan pembangunan, kesejahteraan, Otsus, keamanan, hukum, dan keutuhan NKRI.
Sementara masyarakat Papua lebih menyoroti dugaan pelanggaran HAM, perlindungan masyarakat adat, sejarah, identitas, keadilan, dan ruang politik.
“Ketika masalah HAM dan konflik dijawab hanya dengan pembangunan fisik atau pendekatan keamanan, masyarakat merasa akar masalah belum terselesaikan,” kata Laurenzus Kadepa melalui aplikasi pesan singkatnya, Minggu (27/9/2026).
Karenanya, pemerintah pusat dirasa perlu membangun dialog yang inklusif dan bermartabat dengan masyarakat Papua dan para pihak di sana.
Dialog itu mesti melibatkan Majelis Rakyat Papua atau MRP di enam provinsi di Tanah Papua, tokoh adat, gereja, perempuan, pemuda, akademisi, masyarakat sipil, dan unsur masyarakat Papua lainnya.
“Setiap dugaan pelanggaran hukum dan HAM harus diselesaikan secara transparan, adil, dan akuntabel. Siapa pun pelakunya harus diusut dan dihukum sesuai mekanisme yang ada,” ujarnya.
Menurut Kadepa, dialog bukan ancaman bagi negara. Dialog adalah jalan untuk membangun kepercayaan, karena Tanah Papua tidak cukup hanya dibangun secara fisik.
“Tanah Papua harus didengar, dihormati, dilindungi, dan diperlakukan secara adil. Kemanusiaan harus menjadi titik temu,” ucapnya.
Selain itu, kata Kadepa, pembangunan di Tanah Papua juga harus berpusat pada manusia Papua.
“Melindungi hak orang asli Papua, tanah ulayat, pendidikan, kesehatan, ekonomi, serta memastikan Dana Otsus benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya. (*)




Discussion about this post