Jayapura, Jubi – Perdana Menteri (PM) Kepulauan Solomon, Matthew Wale menyampaikan keprihatinan atas laporan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua Barat dalam pidatonya di Majelis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York, Jumat (25/9/2026).
Berbicara dalam tema dekolonisasi, PM Matthew Wale menggambarkan masyarakat Papua Barat sebagai “saudara dan saudari Melanesia kita.”
Perdana Menteri Wale menegaskan kembali penghormatan Kepulauan Solomon terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Indonesia serta persahabatannya dengan pemerintah dan rakyat Indonesia, sebagaimana dikutip Jubi dari The Island Sun News facebook.com, Sabtu (26/9/2026).
Matthew Wale kepada Majelis Umum menyampaikan laporan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua Barat, yang telah berlangsung terlalu lama dan mengatakan bahwa laporan tersebut harus diverifikasi secara independen daripada dibiarkan menjadi sengketa.
PM Wale juga memperbarui seruan para pemimpin Forum Kepulauan Pasifik agar Indonesia memfasilitasi kunjungan Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia ke Papua Barat yang telah lama ditunggu-tunggu.
Ia mengatakan kunjungan tersebut akan menjadi “tindakan kepercayaan antar teman, dan penegasan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan dari cahaya.”
Perdana Menteri Wale menyampaikan pernyataan nasional Kepulauan Solomon di Markas Besar PBB di New York pada 25 September 2026, seperti dikutip The Island Sun News facebook.com yang dilansir dari video source: Prime Minister’s Office Press Secretary.
Dalam pidato resminya di Sidang Umum PBB (UNGA) ke-81 pada 25 September 2026, Perdana Menteri Kepulauan Solomon, Matthew Wale, secara konsisten menyuarakan solidaritas regional Melanesia untuk hak penentuan nasib sendiri (self-determination) masyarakat adat Kanak di Kaledonia Baru (Kanaky), sembari mendesak agar kerangka kerja PBB memperlakukan dekolonisasi Pasifik secara adil.
PM Matthew Wale juga menyinggung dekolonisasi bagi bangsa Ma’ohi di Kepulauan Nui di wilayah Prancis untuk memilih kebebasan mereka untuk merdeka. Wilayah yang dikenal sebagai
Polinesia Prancis yang memiliki potensi wisata dengan Pulau Tahiti. Bangsa Maohi telah lama menuntut kemerdekaan dari Prancis sebagaimana bangsa Kanak di Kaledonia Baru. (*)


















Discussion about this post