Jayapura, Jubi – Tanah Papua kehilangan dua jurnalis yang pernah menempuh pendidikan di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga pada September 2026. Kedua jurnalis itu adalah Joost Wellem Mirino dan Hendrikus Abraham Msojo Ondi.
Joost Mirino meninggal karena sakit, sedangkan Hendrikus Ondi karena kecelakaan. Kepergian dua jurnalis ini menyisakan duka yang mendalam, bagi keluarga dan rekan-rekan jurnalis, karena ide dan daya kritis dari Mirino dan Ondi.
Joost Mirino yang merupakan anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jayapura, Joost Mirino, meninggal, Rabu (23/9/2026).
“Kakak Joost Mirino meninggal di Biak,” tulis Dr. Gabriel Maniagasi melalui aplikasi pesan singkatnya kepada Jubi, Kamis (24/9/2026).
Mungkin banyak jurnalis di Tanah Papua yang tidak mengetahui peran Hendrikus A Ondi dalam dunia jurnalistik.
Sebab sekembalinya dari studi di Universitas Satya Wacana, ia langsung bekerja sebagai Sekretaris Departemen Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) Di Tanah Papua .
Selama berkuliah di Salatiga, Hendrikus Abraham Ondi rajin menulis artikel di berbagai media di Jawa Tengah dan Yogyakarta, dari koran Jawa Pos di Surabaya hingga Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta.
“Saya selama berkuliah selalu mendapat honor dari setiap artikel untuk menunjang studi saya selama kuliah di Salatiga,” kata Hendrikus Ondi kepada Jubi beberapa waktu lalu.
Menurutnya, saat tiba di Kota Jayapura ia masih sempat menulis artikel di koran harian Cenderawasih Pos dan menjadi koresponden majalah Detektif dan Romantika kala itu.
Aktivitasnya di media memang tidak terlihat sebagai jurnalis, lebih banyak sebagai penulis, tetapi ia pernah mengkritik media Tabloid Jubi gara-gara protes para jurnalis terhadap pemimpin redaksi saat itu.
Ia menulis artikel mengenai Tabloid Jubi yang dimuat dalam buku berjudul “Sekelumit Wajah Pers di Papua: Menelisik Sejarah Pers di Papua”.
Buku diterbitkan lewat kerja sama AJI Kota Jayapura dan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP), dan dieditori oleh Joost W Mirino, rekan Hendrikus Ondi saat masih berkuliah di Salatiga.
Rekan almarhum Hendrikus A Ondi yang juga kuliah di Salatiga, Irawan Saptono dalam akun Facebook-nya menulis “suatu pagi, 1994, Abraham Hendrikus Ondy tiba-tiba muncul di kantor redaksi Harian Suara Timor Timur, Dili.”
“Kantor saya di depan Pelabuhan Dili, dan KM Dobonsolo sedang bersandar dalam pelayaran dari Jakarta ke Jayapura. Ondy menumpang kapal itu dari Jakarta. Kami berpelukan, sudah bertahun-tahun kami tidak bertemu,” tulisnya dalam akun Facebook-nya.
Katanya, ia sangat mengenal almarhum Ondi, anak Jayapura, teman lamanya di Kampus Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
“Saya mengenalnya di Yayasan Geni Salatiga, yayasan pergerakan yang didirikan Dr. Arief Budiman, Stanley Adi Prasetyo, mendiang Djito Kasilo, dan lain-lain. Ondy aktivis mahasiswa yang teguh, berani, cerdas, dan tangguh dalam berpendapat. Setelah lulus, ia pulang ke Jayapura dan bekerja di Gereja Kristen Injili,” ujarnya.
“Sejak pertemuan di Dili, saya tidak pernah bertemu lagi dengannya, sampai saya membaca kabar duka kepergiannya tadi pagi dari Mathius Hosang, seorang aktivis Yayasan Geni lainnya yang tak kalah beraninya.”
Tak lupa Irawan Saptono mengucapkan terima kasih kepada almarhum Hendrikus A Ondi karena dulu sudah bersedia menjadi salah satu narasumber disertasi istrinya.
“Oh ya, disertasi itu sudah jadi buku berjudul: Koreri, Cita-cita Politik Orang Papua. Selamat jalan Bro,” tulis Saptono, mantan jurnalis Suara Timor, media milik Indopersda Kompas Gramedia Grup di Dili.
Setelah kepergian Hendrikus Ondi, Tanah Papua juga kehilangan editor senior Suara Perempuan Papua dan mantan redaktur Jubi, Joost W Mirino, yang juga pernah berkuliah di Universitas Satya Wacana.
Seperti Hendrikus Ondi, napi (sebutan untuk lelaki Byak) Joost Mirino juga sering menceritakan bagaimana mereka aktif dalam pergerakan di Universitas Satya Wacana.
Mirino dan Ondi, selalu berkumpul dan berdiskusi, ada dosen Ariel Heryanto, Arief Budiman, George Junus Aditjondro, termasuk Yosep Stanley Adi Prasetyo yang dikenal sebagai Stanley.
Joost Mirino juga selalu terlibat dalam penulisan buku, termasuk melakukan riset “Sekelumit Wajah Pers di Papua: Menelisik Sejarah Pers di Papua” sebagai editor.
Salah satu artikelnya yang sering dirujuk berjudul “Dewan Papua, Sejarah Kiprah dan Revitalisasi”. Selain pernah menjadi editor di Redaksi Jubi dan Suara Perempuan Papua, Mirino juga pernah menjadi editor Majalah Lanni.
Selamat jalan dua jurnalis Papua dan aktivis Hendrikus A Ondi dan Joost W Mirino. (*)























Discussion about this post