• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Lingkungan

Tentara Jepang dan jejak kera ekor panjang di Jayapura

September 21, 2026
in Lingkungan, Mamta, Tanah Papua
Reading Time: 3 mins read
0
Penulis: Dominggus A Mampioper - Editor: Arjuna Pademme
Kera ekor panjang di Jayapura

Kera ekor panjang tersebar luas di wilayah Indonesia (Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Bali). Hidup secara berkelompok atau koloni, habitatnya di pesisir primer dan sekunder, magrove, rawa, dan hutan sungai. Untuk makanan yang sering dikonsumsi adalah buah-buahan, katak, kepiting, dan serangga.- Jubi/ biodiversitywarriors.kehati.or.id

0
SHARES
39
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi — Tentara Jepang pertama kali menduduki Hollandia (sekarang Jayapura) setelah menghancurkan Pearl Harbour, Hawaii pada Minggu, 7 Desember 1941.

Armada Angkatan Laut Jepang itu kemudian bergerak ke wilayah Pasifik, termasuk Nederlands Nieuw Guinea pada 20 April 1942, sebab sekutubAmerika menyerang Hollandia dari arah timur Papua Nugini (PNG) ke New Guinea Belanda (sekarang Provinsi Papua, Indonesia).

Menariknya, dalam ekspedisi tersebut, militer Jepang diduga membawa serta kera ekor panjang dari habitat aslinya di Asia Tenggara.

“Saya sangat yakin tentara Jepang yang membawa kera ekor panjang itu, sehingga kini banyak di Jayapura. Mereka bertempur dengan logistik minim dan kera bisa menjadi penunjuk buah mana saja yang bisa dimakan,” kata sejarawan dan dosen FKIP Universitas Cenderawasih (Uncen), Peter Marinus Apituley, kepada Jubi di ruang redaksi, pekan lalu.

Peter Apituley yang kini melanjutkan studi Doktor Ilmu Sejarah di FIB Universitas Indonesia mengatakan, karena logistik makanan yang terbatas, tentara Jepang mengambil hasil kebun warga seperti pisang, keladi, hingga buah-buahan lainnya.

Kera ekor panjang digunakan sebagai penunjuk makanan yang aman dikonsumsi.

“Berbeda dengan tentara Sekutu Amerika Serikat yang dilengkapi peralatan lengkap, mulai dari tentara zeni yang membangun jalan darat hingga tangki-tangki minyak di Depapre dengan persediaan makanan yang memadai,” ujarnya.

BERITATERKAIT

Polres Jayapura: Pelajar yang diamankan 78 orang dan sudah dipulangkan

Kepala DPM-PTSP Kabupaten Jayapura: IMB telah digantikan PBG

Bupati Jayapura: Budaya jangan tergilas modernisasi

GSIH dan Game Center menjadi ruang kreativas generasi muda Jayapura

Dalam membangun fasilitas perang jalan darat, pelabuhan, dan landasan tempur (landasan pacu), Jepang juga menggunakan tenaga kerja lokal di sekitar Hollandia.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Dalam membangun benteng pertahanan kata Apituley, Jepang pun banyak mengandalkan kondisi alam. Terutama membangun pertahanan dalam goa-goa alam.

“Ini untuk mengelabui musuh dalam bertempur,” ucapnya.

Hal itu dibenarkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota Jayapura melalui mekanisme pengangkatan, Rudy Mebri.

Mebri mengatakan, berdasarkan cerita para orang tua dulu, tentara Jepang lebih banyak mengambil hasil kebun rakyat dan memancing ikan di Teluk Youtefa dan Teluk Humboldt.

“Melky Taime salah satu mandor Jepang yang memimpin warga Papua membangun pelabuhan laut di Jayapura untuk Angkatan Laut Jepang,” kata Rudy Mebri.

Arnold Mampioper, seorang bestur zaman Belanda, dalam bukunya berjudul “Jayapura Ketika Perang Pasifik” menuliskan, masuknya orang Papua dalam Perang Dunia II memaksa mereka keluar dari kehidupan tradisi dan harus menjalani pekerjaan dengan disiplin militer yang ketat.

“Salah sedikit bisa dibunuh karena dianggap melanggar, dan anak-anak asli Papua harus jadi mandor,” tulis Arnold Mampioper dalam bukunya.

Dalam buku itu, Arnold Mampioper juga menjelaskan bahwa kerja rodi itu menyebabkan tanah-tanah adat hilang tanpa ganti rugi.

“Mereka (orang Papua) juga harus mengumpulkan sagu dan bahan makanan lainnya untuk kebutuhan militer Jepang, sehingga kebebasan orang kampung untuk bergerak mencari makan hilang. Jalan raya dari Pim, Abepura ke Sentani, semua dikerjakan warga setempat termasuk membangun lapangan terbang Sentani untuk pesawat Zero milik Jepang.”

Dalam buku itu, Arnold Mampioper juga menjelaskan bahwa salah satu tokoh adat Sentani, Saul Ohee, mantan Kepala Kantor Wilayah Penerangan Irian Jaya, termasuk mandor Jepang.

“Paitu Ohee sangat mahir berbahasa Jepang karena menjadi mandor dan terpaksa belajar, mulai dari sebutan ikan dalam bahasa Jepang (sakana), bagus sekali (joto nai),” tulis Mampioper.

Kera ekor panjang dan penyebarannya di Tanah Papua

Masuknya hewan invasif ini membuat Lembaga Indo-Pacific Conservation Alliance (IPCA) bekerja sama dengan Uncen melakukan tinjauan pustaka dan studi lapangan ekstensif terhadap kelompok Macaca fascicularis (kera ekor panjang) yang diintroduksikan ke Papua.

Dalam studi bersama itu disebutkan ada kemungkinan kera dibawa tentara Jepang selama pendudukan Jayapura dan Sentani antara 1942-1944.

Berdasarkan wawancara dengan banyak informan dalam penilitian ini, ada bukti garis besar berupa cerita dari mulut ke mulut bahwa tentara Jepang adalah vektor kera tersebut.

Ide bahwa kera di Papua berasal dari Jepang bahkan dipegang luas oleh penduduk lokal, termasuk orang Papua sendiri.

Heri Hamadi, kerabat seorang saksi mata, menceritakan kera-kera itu dibawa ke Bukit Vim oleh kapal Jepang yang memasuki Teluk Youtefa saat melarikan diri dari serangan Sekutu AS.

Mantan peneliti WWF, Jhon Maturbongs, menyebut pendapat lain yang diyakini lokal bahwa kera di Jayapura adalah pelarian dari “binatang penguji makanan” tentara Jepang.

Sayangnya, kera ekor panjang berkembang biak cepat hingga diduga masuk ke perbatasan Papua Nugini.

Prof. Dr. Ronald Petocz, peneliti Amerika dan pemimpin proyek pertama WWF yang membuka kantor di Irian Jaya era 1990-an, menulis “Saya ingat sewaktu pergi ke Ormu di Gunung Cyclops dan penduduk di sana mengatakan kera pernah ada di sekitar daerah itu.”

“Saya tidak ingat waktunya
karena kami tidak mengurusi ini dalam rencana konservasi yang saya buat untuk (Irian Jaya). Nampaknya ini terjadi sebelum kepergian saya di tahun 1987.”

Prof Dr Petocz kemudian menulis buku “Konservasi Alam dan Pembangunan di Irian Jaya.

Berdasarkan survei observasi langsung di lapangan dan wawancara dengan warga, IPCA menyimpulkan dengan probabilitas tinggi bahwa semua populasi produktif M. fascicularis berada di daerah Jayapura, saat penulisan.

Meskipun telah dilakukan wawancara masyarakat dan survei yang luas serta berulang-ulang di sekitar daerah Arso, Kabupaten Keerom, perbatasan Papua Nugini, Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, dan Manokwari, IPCA tidak menemukan bukti adanya populasi kera
yang telah menyebar keluar daerah Kotaraja dan hanya di seputar Kota Jayapura saja.(*)

Tags: JayapuraJejakJepangKera ekor panjang
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Pelajar diamankan

Polres Jayapura: Pelajar yang diamankan 78 orang dan sudah dipulangkan

September 15, 2026
IMB digantikan PBG

Kepala DPM-PTSP Kabupaten Jayapura: IMB telah digantikan PBG

September 14, 2026

Bupati Jayapura: Budaya jangan tergilas modernisasi

August 29, 2026

GSIH dan Game Center menjadi ruang kreativas generasi muda Jayapura

August 26, 2026

Fransina Daby sekolahkan 31 anak ‘jalan’ dari Jayawijaya ke Jayapura

August 17, 2026

Penanganan demonstrasi di Jayapura perlu belajar dari wilayah lain

August 16, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

Broken classrooms and missing furniture expose education challenges in Jayapura
21 September 2026
Broken classrooms and missing furniture expose education challenges in Jayapura

Sentani, Jubi – Conditions at many schools in Jayapura Regency, Papua, are concerning. Some schools no longer have adequate desks, [...]

Boven Digoel customary council backs Awyu community in opposing the National Strategic Project
19 September 2026
Boven Digoel customary council backs Awyu community in opposing the National Strategic Project

Jayapura, Jubi – The Boven Digoel Customary Community Institution (LMA) in South Papua has declared its support for the Awyu [...]

Vocational training gives students with disabilities a pathway to independence
19 September 2026
Vocational training gives students with disabilities a pathway to independence

Jayapura, Jubi – Pembina Papua State Special School (SLB Negeri Pembina Papua) is expanding vocational education for students with disabilities [...]

Amnesty International Indonesia calls for end to killings of civilians in Papua
18 September 2026
Amnesty International Indonesia calls for end to killings of civilians in Papua

Jayapura, Jubi – Amnesty International Indonesia has called for an end to the killing of civilians in Papua by armed [...]

Dialogue and understanding Papua’s history key to peace, speakers say
18 September 2026
Dialogue and understanding Papua’s history key to peace, speakers say

Jayapura, Jubi — Pastor Yance Douw of the Jayapura Diocese says dialogue, access to information, solidarity and a better understanding [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Rektor Uncen

Syowi kasumasa, Rektor Uncen Prof. Dr. Oscar Oswald Oktovianus Wambrauw

September 21, 2026
Warga kelurahan Yobe protes penggelapan raskin

Warga Kelurahan Yobe protes dugaan penggelapan Raskin

September 21, 2026
Kera ekor panjang di Jayapura

Tentara Jepang dan jejak kera ekor panjang di Jayapura

September 21, 2026
Polisi PNG

Drone canggih membantu Polisi PNG dalam operasi senjata api illegal

September 21, 2026
pemimpin Melanesia

Hanya dua pemimpin Melanesia yang ikut Sidang Umum PBB ke-81

September 21, 2026
PBB

Pemimpin forum Pasifik mengadvokasi isu-isu regional di Majelis Umum PBB

September 21, 2026
e-sport

Tim Tes Ombak juarai kompetisi e-sport Mobil Legend Bang-bang

September 21, 2026
PNG

PNG naikkan gaji guru 30 persen selama tiga tahun ke depan

September 19, 2026
Hutan di PNG

PBB mendesak PNG lindungi hak atas tanah masyarakat adat

September 19, 2026
Fiji dan Israel

1.500 warga Fiji dapat bekerja di Israel berdasarkan perjanjian

September 20, 2026
Persipura ditahan imbang Kendal Tornado FC

Persipura ditahan imbang Kendal Tornado FC

September 18, 2026
Pohon

Ratusan relawan tanam 420 pohon cemara di bukit Telaga Ria

March 14, 2026
Kesehatan

Kementerian Kesehatan Vanuatu kirim pasokan darurat ke Pulau Ambae

March 17, 2026
KontraS

Koalisi desak presiden perintahkan tangkap pelaku teror terhadap aktivis KontraS

April 10, 2026
Rektor Uncen

Syowi kasumasa, Rektor Uncen Prof. Dr. Oscar Oswald Oktovianus Wambrauw

0
Warga kelurahan Yobe protes penggelapan raskin

Warga Kelurahan Yobe protes dugaan penggelapan Raskin

0
Kera ekor panjang di Jayapura

Tentara Jepang dan jejak kera ekor panjang di Jayapura

0
Polisi PNG

Drone canggih membantu Polisi PNG dalam operasi senjata api illegal

0
pemimpin Melanesia

Hanya dua pemimpin Melanesia yang ikut Sidang Umum PBB ke-81

0
PBB

Pemimpin forum Pasifik mengadvokasi isu-isu regional di Majelis Umum PBB

0
e-sport

Tim Tes Ombak juarai kompetisi e-sport Mobil Legend Bang-bang

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara