Jayapura, Jubi — Tentara Jepang pertama kali menduduki Hollandia (sekarang Jayapura) setelah menghancurkan Pearl Harbour, Hawaii pada Minggu, 7 Desember 1941.
Armada Angkatan Laut Jepang itu kemudian bergerak ke wilayah Pasifik, termasuk Nederlands Nieuw Guinea pada 20 April 1942, sebab sekutubAmerika menyerang Hollandia dari arah timur Papua Nugini (PNG) ke New Guinea Belanda (sekarang Provinsi Papua, Indonesia).
Menariknya, dalam ekspedisi tersebut, militer Jepang diduga membawa serta kera ekor panjang dari habitat aslinya di Asia Tenggara.
“Saya sangat yakin tentara Jepang yang membawa kera ekor panjang itu, sehingga kini banyak di Jayapura. Mereka bertempur dengan logistik minim dan kera bisa menjadi penunjuk buah mana saja yang bisa dimakan,” kata sejarawan dan dosen FKIP Universitas Cenderawasih (Uncen), Peter Marinus Apituley, kepada Jubi di ruang redaksi, pekan lalu.
Peter Apituley yang kini melanjutkan studi Doktor Ilmu Sejarah di FIB Universitas Indonesia mengatakan, karena logistik makanan yang terbatas, tentara Jepang mengambil hasil kebun warga seperti pisang, keladi, hingga buah-buahan lainnya.
Kera ekor panjang digunakan sebagai penunjuk makanan yang aman dikonsumsi.
“Berbeda dengan tentara Sekutu Amerika Serikat yang dilengkapi peralatan lengkap, mulai dari tentara zeni yang membangun jalan darat hingga tangki-tangki minyak di Depapre dengan persediaan makanan yang memadai,” ujarnya.
Dalam membangun fasilitas perang jalan darat, pelabuhan, dan landasan tempur (landasan pacu), Jepang juga menggunakan tenaga kerja lokal di sekitar Hollandia.
Dalam membangun benteng pertahanan kata Apituley, Jepang pun banyak mengandalkan kondisi alam. Terutama membangun pertahanan dalam goa-goa alam.
“Ini untuk mengelabui musuh dalam bertempur,” ucapnya.
Hal itu dibenarkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota Jayapura melalui mekanisme pengangkatan, Rudy Mebri.
Mebri mengatakan, berdasarkan cerita para orang tua dulu, tentara Jepang lebih banyak mengambil hasil kebun rakyat dan memancing ikan di Teluk Youtefa dan Teluk Humboldt.
“Melky Taime salah satu mandor Jepang yang memimpin warga Papua membangun pelabuhan laut di Jayapura untuk Angkatan Laut Jepang,” kata Rudy Mebri.
Arnold Mampioper, seorang bestur zaman Belanda, dalam bukunya berjudul “Jayapura Ketika Perang Pasifik” menuliskan, masuknya orang Papua dalam Perang Dunia II memaksa mereka keluar dari kehidupan tradisi dan harus menjalani pekerjaan dengan disiplin militer yang ketat.
“Salah sedikit bisa dibunuh karena dianggap melanggar, dan anak-anak asli Papua harus jadi mandor,” tulis Arnold Mampioper dalam bukunya.
Dalam buku itu, Arnold Mampioper juga menjelaskan bahwa kerja rodi itu menyebabkan tanah-tanah adat hilang tanpa ganti rugi.
“Mereka (orang Papua) juga harus mengumpulkan sagu dan bahan makanan lainnya untuk kebutuhan militer Jepang, sehingga kebebasan orang kampung untuk bergerak mencari makan hilang. Jalan raya dari Pim, Abepura ke Sentani, semua dikerjakan warga setempat termasuk membangun lapangan terbang Sentani untuk pesawat Zero milik Jepang.”
Dalam buku itu, Arnold Mampioper juga menjelaskan bahwa salah satu tokoh adat Sentani, Saul Ohee, mantan Kepala Kantor Wilayah Penerangan Irian Jaya, termasuk mandor Jepang.
“Paitu Ohee sangat mahir berbahasa Jepang karena menjadi mandor dan terpaksa belajar, mulai dari sebutan ikan dalam bahasa Jepang (sakana), bagus sekali (joto nai),” tulis Mampioper.
Kera ekor panjang dan penyebarannya di Tanah Papua
Masuknya hewan invasif ini membuat Lembaga Indo-Pacific Conservation Alliance (IPCA) bekerja sama dengan Uncen melakukan tinjauan pustaka dan studi lapangan ekstensif terhadap kelompok Macaca fascicularis (kera ekor panjang) yang diintroduksikan ke Papua.
Dalam studi bersama itu disebutkan ada kemungkinan kera dibawa tentara Jepang selama pendudukan Jayapura dan Sentani antara 1942-1944.
Berdasarkan wawancara dengan banyak informan dalam penilitian ini, ada bukti garis besar berupa cerita dari mulut ke mulut bahwa tentara Jepang adalah vektor kera tersebut.
Ide bahwa kera di Papua berasal dari Jepang bahkan dipegang luas oleh penduduk lokal, termasuk orang Papua sendiri.
Heri Hamadi, kerabat seorang saksi mata, menceritakan kera-kera itu dibawa ke Bukit Vim oleh kapal Jepang yang memasuki Teluk Youtefa saat melarikan diri dari serangan Sekutu AS.
Mantan peneliti WWF, Jhon Maturbongs, menyebut pendapat lain yang diyakini lokal bahwa kera di Jayapura adalah pelarian dari “binatang penguji makanan” tentara Jepang.
Sayangnya, kera ekor panjang berkembang biak cepat hingga diduga masuk ke perbatasan Papua Nugini.
Prof. Dr. Ronald Petocz, peneliti Amerika dan pemimpin proyek pertama WWF yang membuka kantor di Irian Jaya era 1990-an, menulis “Saya ingat sewaktu pergi ke Ormu di Gunung Cyclops dan penduduk di sana mengatakan kera pernah ada di sekitar daerah itu.”
“Saya tidak ingat waktunya
karena kami tidak mengurusi ini dalam rencana konservasi yang saya buat untuk (Irian Jaya). Nampaknya ini terjadi sebelum kepergian saya di tahun 1987.”
Prof Dr Petocz kemudian menulis buku “Konservasi Alam dan Pembangunan di Irian Jaya.
Berdasarkan survei observasi langsung di lapangan dan wawancara dengan warga, IPCA menyimpulkan dengan probabilitas tinggi bahwa semua populasi produktif M. fascicularis berada di daerah Jayapura, saat penulisan.
Meskipun telah dilakukan wawancara masyarakat dan survei yang luas serta berulang-ulang di sekitar daerah Arso, Kabupaten Keerom, perbatasan Papua Nugini, Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, dan Manokwari, IPCA tidak menemukan bukti adanya populasi kera
yang telah menyebar keluar daerah Kotaraja dan hanya di seputar Kota Jayapura saja.(*)























Discussion about this post