Jayapura, Jubi – Tentara Jepang masuk ke Hollandia (sekarang Kota Jayapura) sejak 19 April 1942. Mereka langsung membangun pertahanan dalam bentuk gua di atas gunung terutama gunung Mher di dekat Teluk Yotefa, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Provinsi Papua.
Pertahanan dalam gua-gua membuat pasukan Sekutu sulit untuk mendeteksi keberadaan tentang Jepang.
Namun, tentara Sekutu Amerika Serikat menyerang Hollandia melalui operasi amfibi besar-besaran bersandi Operasi Reckless pada 22 April 1944.
“Serangan yang dipimpin oleh Jenderal Douglas MacArthur tak hanya membawa pasukan tetapi juga serombongan kera ekor Panjang atau Macaca fascicularis yang ikut mendukung tentara Sekutu di Hollandia,” kata anggota DPR Kota Jayapura, Rudy Mebri kepada Jubi di kantor DPR Kota Jayapura, Senin (6/7/2026).
Menurutnya, tentara Amerika Serikat dalam perang Pasifik di Hollandia menggunakan kera ekor panjang (Macaca fascicularis), sebagai subjek uji coba medis dan penelitian penyakit tropis.
“Monyet ekor Panjang ini juga menelisik areal pertahanan gua-gua tentara Jepang,” ujarnya.
Hal senada dikatakan tokoh masyarakat asal Injros, Frans Itaar. Katanya, kera ekor panjang pertama kali dibawa oleh tentara sekutu dalam Perang Dunia II, dan populasinya pun bertambah.
Hanya saja Itaar tidak mengetahui sejauh mana kawasan monyet ekor panjang ini menjadi hama bagi petani, ataupun dampaknya terhadpa flora dan fauna di gunung Mher.
Jurnalis Jubi beberapa waktu mewawancarai salah seorang petani sayur di Jalan Baru, dekat lapangan Tembak menuju Pasar Youtefa bernama Atoh.
Petani itu mengaku, biasanya kera ekor panjang turun mencari makan pada musim hujan. Beruntung kera ekor panjang ini tidak suka memakan sayur, namun lebih suka singkong dan pisang.
“Mereka suka sekali makan pisang dan singkong,” kata Atoh.
Namun patani asal Tana Toraja itu mengatakan, tidak mengetahui dari mana asal usulnya monyet-monyet kecil berekor panjang ini di gunung Mehr.
Mengutip laman internet, www.indopacific.org menjelaskan bahwa hasil penelitian Indo Pacific Consevation Alliance (IPCA) bekerja sama dengan Universitas Cenderawasih dalam laporan berjudul, Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Pulau Nugini: Penilaian dan Penatalaksanaan Resiko terhadap Keanekaragaman Hayati, menyebutkan ada beberapa teori telah dikemukakan mengenai sejarah asal usul Macaca fascicularis di Papua dan vektor pembawanya, mencakup:
• Angkatan Bersenjata Jepang selama Perang Dunia II (c. 1942-1944)
• Pasukan US dan Sekutunya selama Perang Dunia II (c. 1944-1946)
• Pemerintah Kolonial Belanda atau stafnya (c. 1910-1942; 1946-1963)
• Para transmigran yang dimukimkan di Papua dari Jawa dan dari bagian-bagian Indonesia lainnya (c. 1964-2000).
• Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) setelah Indonesia mengambil alih kekuasaan Pemerintahan Kolonial Belanda (c. 1964-sekarang ).
• Imigran bermotif ekonomi dari daerah lain di Indonesia (c. 1964- sekarang ).
Meski begitu, fakta di lapangan lebih banyak menyebutkan kera ekor panjang ini dibawa oleh tentara sekutu Amerika Serikat (AS) di Kota Jayapura.
Kera-kera ini digunakan di fasilitas militer lapangan untuk mengembangkan vaksin atau menguji obat-obatan sebelum diberikan kepada pasukan.
Kehadiran koloni kera membantu pasukan mendeteksi ketersediaan air bersih yang aman di hutan belantara wilayah Teluk Youtefa dan sekitarnya.
Di masa-masa kritis atau terisolasi, kera kadang digunakan sebagai sumber protein alternatif oleh unit-komando kecil.
Keberadaan kera di kawasan seperti Gunung Mher saat ini diyakini oleh tokoh masyarakat setempat sebagai akibat dari masa pendudukan Sekutu, di mana kera sengaja dibawa atau dilepaskan dan akhirnya beranak-pinak.
Habitat asli kera ekor panjang asalnya dari Pulau Mauritis , pulau tropis di Samudera Hindia yang letaknya kurang lebih 450 mil di sebelah timur Madagaskar.
Luas keseluruhan pulau ini sekitar 2,040 km2 banyak jenis-jenis kera ekor panjang di Mauritius saat ini telah punah.
Sebagai akibat dari perubahan oleh manusia, konversi habitat hutan alami mencapai 95 persen diperbesar oleh keberadaan sejumlah biji-bijian dan beberapa vertebrata yang eksotik dan invasif telah menyebabkan kasus ini terjadi. (*)




Discussion about this post