Jayapura, Jubi – Tujuh wilayah adat di Tanah Papua dari tujuh wilayah adat baru saja kehilangan Ketua Umum Dewan Adat Papua (DAP) Mambri Mananwir Beba Yan Piter Yarangga, yang meninggal dunia, Senin (2/11/2026) pukul 22.40 Waktu Papua (WP).
Mananwir Yan Piet Yarangga menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ridge II Biak, Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua, Wilayah Adat II Saireri.
Mambri Yarangga telah beberapa kali menjalani perawatan medis baik di RSUD Dok II Jayapura maupun RSUD Ridge Biak. Namun akhirnya dirawat dan meninggal dunia.
Dewan Adat Wilayah I Mamta-Tabu menyampaikan turut berduka atas berpulangnya Mananwir Yan Piter Yarangga pada 2 November 2026 di RSUD Biak.
“Karena aku yakin, bahwa maut, maupun hidup, malaikat-malaikat, maupun perintah-perintah, baik yang ada sekarang maupun yang akan datang, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (Roma 8:38-39),” dikutip Jubi dari akun facebook.com, Selasa (3/11/2026).
Kepergian Yan Piter Yarangga meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat adat di Tanah Papua. Sebab, dalam rekonsiliasi Dewan Adat Papua belum lama ini telah ditegaskan bahwa “Dewan Adat Papua adalah Bapa, Mama, Rumah, dan Dapur Bangsa Papua. Hari ini, rumah itu telah kembali dipersatukan,” begitu pernyataan simbolis yang menegaskan peran DAP sebagai pusat gravitasi sosial-budaya masyarakat Papua.
Mendiang Yan Piter Yarangga merupakan sosok yang selama ini berada di garis kepemimpinan Dewan Adat Papua dan dikenal sebagai pemimpin adat yang bijaksana, pengayom, serta memiliki karakter kepemimpinan yang kuat.
BERITATERKAIT
Ia juga berani dalam memperjuangkan dan melindungi hak-hak dasar masyarakat adat Papua, sehingga pantas juga diberi gelar Mambri dalam budaya Byak sebagai seorang Panglima Perang.
Sekretaris Jenderal Dewan Adat Papua (Sekjen DAP), Yan Christian Warinussy, menyampaikan duka yang mendalam atas kepergian Mambri Mananwir Beba Yan Piter Yarangga.
“Ini merupakan kehilangan besar bagi seluruh masyarakat adat asli Papua, khususnya bagi perjuangan kelembagaan DAP yang selama ini mengonsolidasikan kekuatan masyarakat adat di tujuh wilayah adat,” kata Warinussy.
Ia mengatakan seluruh masyarakat adat dari tujuh wilayah, yakni Mamta Tabi, Saireri, Doberay, Bomberay, Meepago, La Pago, dan Anim Ha, telah kehilangan seorang pemimpin yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjuangan menjaga martabat, identitas, eksistensi, serta hak-hak dasar masyarakat adat Papua.
Meminjam pendapat antropolog Dr. JR Mansoben dalam Sistem Kepemimpinan Tradisional di Tanah Papua, mendiang Yan Piter Yarangga lahir dari seorang tokoh adat di Kampung Ambroben, Biak Timur, yang dalam budaya Biak termasuk dalam kepemimpinan campura (hybrid).
Adapun ciri-ciri dan karakter dari kepemimpinan ini menurut Mansoben adalah menggabungkan sistem pewarisan keturunan dengan prestasi atau kemampuan individual (ascribed dan achieved).
Yan Piter Yarangga juga termasuk dalam kepemimpinan warisan karena merupakan Mananwir Mnu dan Mananwir Keret.
Ia juga punya kemampuan memimpin di luar kampung sebagai Panglima Perang atau Mambri. Selamat jalan Mambri Mananwir Beba Yan Piter Yarangga. (*)




















