Jayapura, Jubi — Pangkalan militer utama Angkatan Darat Amerika Serikat di Papua Nugini (PNG) selama Perang Dunia Kedua akhir 1943, didirikan di Finschhafen, 80 kilometer dari sebelah timur Kota Lae sebagai Base F di Semenanjung Huon, Papua Nugini.
Panglima Tertinggi Pasukan Sekutu di Kawasan Pasifik Barat Daya Jenderal MacArthur dengan strategi loncat kataknya, langsung melewati Vanimo menuju Hollandia (Jayapura sekarang) dan memberikan kode Base G.
Menyusul Pertempuran Biak yang berdarah (27 Mei – 17 Agustus 1944), Angkatan Darat AS menetapkan Pulau Biak sebagai Pangkalan H atau Base H.
Strategi Loncat Katak (Island Hopping atau Leapfrogging) adalah strategi militer yang digunakan oleh Pasukan Sekutu di bawah komando Jenderal Douglas MacArthur dan Laksamana Chester Nimitz selama Perang Dunia II untuk mengalahkan Kekaisaran Jepang di Samudra Pasifik.
Dari Base F di Lae, PNG, langsung ke Hollandia Base G dan lanjut ke Biak sebagai Base H terus ke Teluk Leyte, Manila, Filipina.
Dari semua nama kode base itu, ternyata nama Base G yang masih melekat dan tercatat dalam sejarah Kota Jayapura, walaupun Pemerintah Kota Jayapura memasukkan wilayah administrasinya menjadi Tanjung Ria.
Wilayah Base G ini di era Perang Dunia Kedua terdapat tempat latihan parasut bagi militer Sekutu AS, sekarang SPN Polda Papua dan beberapa klinik.
“Lokasi Base G ini menjadi tempat asrama dan pusat latihan terjun payung bagi tentara Sekutu Amerika Serikat, SOP ‘School tot Opleiding van Parachutisten’, tulis Arnold Mampioper dalam buku Jayapura Ketika Perang Pasifik.
Lebih lanjut dijelaskan dari Base G langsung dibangun doc untuk pelabuhan bagi Angkatan Laut Amerika Serikat mulai dari Doc IX, Doc VIII, Doc VI, Doc V, Doc IV sampai ke Doc II.
“Sebenarnya yang membangun pelabuhan Angkatan Laut di daerah ini adalah Tentara Jepang sejak 19 April 1942 dengan mengambil alih tanah adat orang Kayu Pulo untuk membangun pelabuhan dengan mandor orang asli Papua yaitu Tete Melky Taime,” kata Rudy Mebri, anggota DPR Kota Jayapura Fraksi Otsus.
Lebih lanjut kata Mebri, saat pelabuhan Jepang direbut oleh Sekutu Amerika Serikat pada April 1944 melalui Operasi Reckless barulah pelabuhan itu dikenal dengan nama Doc II, Doc IV, Doc V, Doc VII, Doc VIII, dan Doc IX.
Selanjutnya membangun markas Marinir Amerika Serikat di Santa Rosa dan selanjutnya di Polimac Road yang kini dikenal Polimak I, Polimak II, Polimak III dan Polimak IV.
Bahkan di daerah Santa Rosa era 1980-an anak-anak SMP di Kota Jayapura mencari peneng atau dog tag bekas Perang Dunia Kedua.
Dog tag (kalung identitas militer resmi yang dipakai oleh tentara Amerika Serikat dan Sekutu) untuk mengidentifikasi personel yang terluka atau tewas di medan perang dalam Perang Dunia Kedua.
Di daerah Santa Rosa masih tersimpan pula peluru dan sisa-sisa bom era Perang Dunia Kedua yang ditemukan warga sekitarnya.
APO dan Women’s Army Corps (WAC)
Setelah menduduki Hollandia (Jayapura sekarang) sejak April–Mei 1944 mulai didirikan bangunan untuk Army Post Office (APO) tempat sortir surat dari pasukan Amerika Serikat untuk keluarga mereka di Amerika baik New York, Kansas dan negara bagian lainnya.
Korps Asisten Tentara Wanita (WAAC) yang berganti nama menjadi Women’s Army Corps (WAC) pada pertengahan 1943 memiliki peran penting dalam operasional pangkalan militer Sekutu di Hollandia, Nugini Belanda (Nederlands Nieuw Guinea).
Ketika komando Jenderal Douglas MacArthur pindah ke Hollandia setelah wilayah tersebut direbut dari Jepang pada pertengahan 1944, ribuan personel wanita dari unit 5222nd WAC Detachment dikirim ke sana untuk menangani urusan administratif, keuangan, logistik, dan layanan komunikasi pos.
Dikutip dari http://www.blackdiamondmuseum.org, tugas utama WAC di pos militer Hollandia adalah menggantikan posisi administratif dan klerikal yang sebelumnya dipegang oleh tentara pria.
Dengan begitu, ribuan prajurit pria dapat dialihkan ke garis depan untuk invasi ke Filipina.
Dijelaskan karena wilayah Hollandia dikelilingi hutan belantara dan dipadati oleh ratusan ribu tentara pria yang sudah lama tidak melihat wanita Amerika, markas kediaman WAC (WAC Compound) di Hollandia dipagari ketat oleh kawat berduri.

Para personel wanita dilarang meninggalkan area kompleks tersebut kecuali dalam tugas dinas resmi atau di bawah pengawalan bersenjata demi keamanan mereka.
Marie Lou salah seorang anggota WAC yang bertugas di APO Hollandia, Nederlands Nieuw Guinea menulis surat kepada ibunya di Atlanta, Georgia, USA. Lagu “Silent Night” menggema di malam yang gelap gulita karena peringatan serangan udara yang berulang.
Dalam surat ke rumah, tertanggal 29 Desember 1944, Mary Lou menulis dengan optimis: Tenda kami tidak berlantai, kantor juga tidak berlantai.
Ini musim hujan, dan matahari hanya muncul dua kali sejak kami berada di sini, yang sebentar lagi akan genap seminggu.
Lumpur sangat dalam, dengan kata lain kondisi hidup sangat sulit. Kami tinggal di perkebunan kelapa yang indah, dan laut hampir berada di dekatnya di tepi pantai Hollandia.
Mary Lou adalah salah satu dari 5.500 perempuan yang dikirim ke Wilayah Pasifik Barat Daya. Di Brisbane, Australia, ia ditugaskan untuk dinas luar negeri di Markas Besar.
Di Archer Field, tugasnya meliputi mengetik pesan radio dan teletype untuk Intelijen Udara. “Setelah Brisbane, unit saya dipindahkan ke Hollandia. Itu adalah hutan belantara, lokasi luar negeri yang paling primitif dan penuh peperangan.”
Para anggota WAC (Women’s Army Corps) di SWPA (Southwest Pacific Army) memiliki gaya hidup yang sangat terbatas.
Karena khawatir akan insiden antara para wanita dan sejumlah besar pasukan pria di daerah tersebut, beberapa di antaranya belum pernah melihat wanita Amerika selama delapan belas bulan, markas besar teater memerintahkan agar para anggota WAC (serta perawat Angkatan Darat) dikurung di dalam kompleks kawat berduri setiap saat, kecuali ketika dikawal oleh penjaga bersenjata untuk bekerja atau untuk kegiatan rekreasi yang disetujui.
Mendiang Pdt. Silas Chaay warga Kayu Pulo setelah Perang Dunia II berakhir, mereka pulang dari tempat pengungsian di Kampung Ormu dan pulang ke Kampung Kayu Pulo.
Wilayah adat mereka dan tempat berkebun sudah menjadi kota dan disebut pula dengan nama Army Post Office (APO) hingga kini.
“Kami semua kaget, kebun-kebun hilang dan sudah jadi kota, tak ada lagi dusun sagu,” kenangnya kala itu.
“Saya pernah bercerita dengan bapak almarhum Pdt. Silas Chaay, tokoh Kampung Kayu Pulo bahwa mereka dulu punya dusun sagu di sekitar Kali Anafre dan kebun-kebun di APO,” kata Rudy Mebri.
Katanya, sejak dulu orang Kayu Pulo selalu menjaga ekosistem pesisir. Dalam mencari ikan, setiap klan sudah tahu di mana zonasi-zonasi yang menjadi wilayah mereka, dan tidak sembarang mencari ikan di lokasi klan lain.
Di bawah komando Sekutu, wilayah Hollandia ditetapkan dengan kode militer sebagai Base G, dan layanan pos militernya menggunakan kode resmi APO 565 dari akhir April 1944 hingga akhir Perang Pasifik.
Kini, nama “APO” melekat secara historis menjadi nama kawasan pemukiman dan jalan di pusat Kota Jayapura. Termasuk Polimac Road menjadi Polimak I, II, III dan IV, Dok II, IV, V, VII, VIII dan Dok IX serta Santa Rosa. Itulah nama-nama lokasi di Kota Jayapura yang tersisa bekas Perang Dunia Kedua. (*)



















Discussion about this post