Manokwari, Jubi — Ratusan mahasiswa/mahasiswi asal Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, tidur di halaman gereja Jemaat Misia Manokwari setelah mereka terusir dari kontrakan, Sabtu (3/10/2026).
Ratusan mahasiswa/mahasiswi itu terusir dari kontrakan karena menunggak pembayaran biaya sewa sejak 2025.
Sebagian dari mahasiswi tidur di lantai hingga teras gereja, dan mahasiswa tidur di halaman gereja beralaskan terpal dan tenda yang dipasang menggunakan bambu.
Ima Siep, Ketua Ikatan Mahasiswa Yahukimo Kota Studi Manokwari, mengatakan, mereka keluar dari kontrakan yang selama ini pembayarannya menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan.
“Kami tadi keluar dari kontrakan karena Pemda sudah tidak bayar sejak tahun lalu,” kata Ima Siep, Sabtu (3/10/2026).
Kondisi para mahasiswa tampak memprihatinkan, sehingga ditampung oleh jemaat gereja di kawasan dekat Bumi Marina, Amban, Manokwari.
“Dengan uang yang ada kami gabung untuk pakai beli makanan yang dimasak di dapur umum,” ucap Siep.
Tidak hanya masalah kontrakan, akan tetapi para mahasiswa ini juga kesulitan membayar uang kuliah, sebab Pemerintah Kabupaten (Pemkab) sudah tidak lagi memberikan bantuan pendidikan bagi mereka.
Ada 117 mahasiswa Yahukimo mengenyam pendidikan di Kota Studi Manokwari. Mereka tersebar di berbagai kampus, di antaranya Universitas Papua, STIH, Universitas Muhammadiyah Papua Barat atau dulu STKIP Muhammadiyah.
Ima Siep menduga Pemkab Yahukimo enggan memberikan bantuan atau telah memutus bantuan bagi pihaknya karena mengkritik bupati sebagai bentuk keresahan mereka terkait warga Yahukimo yang menjadi pengungsi internal pada September 2025.
“Kami kritik Pemerintah Daerah Yahukimo karena orang tua kami mereka mengungsi di sana, ada yang sakit bahkan melahirkan di hutan akibat pengungsian,” ujar Ima Siep.
Ketika itu, mahasiswa Yahukimo Kota Studi Manokwari juga mengangkat isu darurat militer di daerahnya.
“Ada teman-teman mahasiswa yang tidak terima orang tua mereka mengungsi sehingga di salah satu pamflet tertulis ‘Salibkan Didimus Yahuli Bupati Yahukimo’, kalimat itu dianggap sebagai serangan individu sehingga pemerintah mulai membatasi bantuan ke kami,” jelasnya.
Siep mengatakan, ia dan beberapa mahasiswa telah kembali ke Kabupaten Yahukimo untuk memberikan penjelasan. Pemda setempat meminta agar mahasiswa menyampaikan permohonan maaf terbuka.
Mahasiswa juga diminta harus membuktikan dengan data saat mengkritik. Namun upaya untuk menemui bupati ketika itu buntu, meski mereka sudah menemui sekda maupun kepala dinas, tak ada jalan keluar.
“Permohonan maaf terbuka sudah kami sampaikan, tetapi tetap kondisi kami seperti ini, bahkan hari ini kami keluar dari asrama yang dikontrak oleh Pemerintah Daerah,” katanya.
Ima Siep secara terbuka meminta Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dapat memberi perhatian terhadap masalah yang kini dihadapi mahasiswa Yahukimo Kota Studi Manokwari.
“Kami memohon agar Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Pegunungan membantu kami, karena Pemda mungkin sudah tidak perhatikan kami,” ucap Ima Siep. (*)






















Discussion about this post