• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Mamta

Lumpur, rawa, dan bakau, pelindung warga Papua saat Perang Dunia Kedua

September 23, 2026
in Mamta, Tanah Papua
Reading Time: 4 mins read
0
Penulis: Dominggus A. Mampioper - Editor: Arjuna Pademme
Perang Dunia Kedua

Tentara Sekutu mendarat di Pantai Hamadi yang dikenal dengan invasie strand, Apilr 1944- Jubi/warfarehistorynetwork.com

0
SHARES
85
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi — Perang Dunia Kedua di Tanah Papua, khususnya pertempuran di Hollandia (sekarang Jayapura) dengan sandi Operasi Reckless, terjadi pada 22 April hingga 6 Juni 1944.

Masa itu, banyak bom yang dijatuhkan pesawat udara tidak meledak saat jatuh di lumpur, rawa, dusun sagu, dan hutan bakau.

Ini disebabkan, tanah lunak menyerap energi benturan sehingga gagal memicu sumbu ledak mekanis (fuze). Bom baru akan meledak jika jatuh di atas tanah berbatu keras.

Dosen sejarah kandidat PhD FIB Universitas Indonesia, Peter Marinus Apituley mengatakan, saat perang antara Jepang melawan Sekutu AS dalam merebut Hollandia, tentara Sekutu pimpinan Jenderal MacArthur melakukan serangan ke pertahanan Jepang, terutama di Lapangan Terbang Sentani, melalui dua jalur.

“Pertama Teluk Humboldt menuju Youtefa dan kedua melalui Teluk Youtefa – Tanah Merah,” kata Peter Marinus Apituley, kepada Jubi di Kantor Redaksi Jubi Kota Jayapura, Provinsi Papua, Senin (14/9/2026).

Kapal Karam milik Jepang
Kapal Karam milik Jepang di Teluk Youtefa- Jubi/Dominggus A Mampioper

Menurutnya, faktor utama bom konvensional Perang Dunia II tidak meledak adalah karena mengandalkan sistem pemicu benturan mekanis (percussion/impact fuze) dan kualitas bom itu sendiri.

“Jadi bom AS saat itu akan meledak jika menghantam karang atau batu keras,” kata dosen FKIP Universitas Cenderawasih itu.

BERITATERKAIT

Tanah Papua tak butuh kegaduhan, namun kerja nyata

Dialog dan pemahaman sejarah penting untuk perdamaian di Tanah Papua

Perbedaan dan keragaman, keniscayaan yang tidak bisa dihindari di Tanah Papua

Amnesty Internasional Indonesia: Hentikan pembunuhan warga sipil di Tanah Papua

Menurutnya, sumbu bom membutuhkan hantaman keras seperti beton, batuan, atau tanah keras untuk mendorong pin pemukul (firing pin) ke detonator.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Ketika jatuh di rawa atau lumpur yang sangat lunak, efek bantalan air dan lumpur memperlambat laju bom tanpa benturan mendadak, sehingga sumbu gagal terpicu.

“Tidak heran kalau sekarang masih ada sisa-sisa bom yang belum meledak di Tanah Papua,” ujarnya.

Katanya, agar sistem mekanis bekerja sempurna, bom harus mendarat tegak lurus dengan posisi hidung di bawah. Ketika menembus vegetasi rawa atau permukaan air, posisinya sering bergeser, terbalik, atau miring.

Posisi jatuh yang tidak sempurna membuat mekanisme pemicu tersangkut atau tidak mendapat tekanan cukup.

Beberapa bom juga dirancang dengan sumbu kimia berwaktu agar meledak beberapa jam setelah dijatuhkan untuk mengacaukan wilayah musuh.

Pendapat ini sesuai fakta lapangan. Saat serangan ke pangkalan udara Sentani pada April 1944, warga Kampung Asei, mendiang Hans R. Ohee (86 tahun), mengenang banyak pesawat tempur AS terbang di atas Danau Sentani menuju pangkalan militer Jepang.

“Saat bersamaan pesawat tempur itu melepaskan bom dari udara dan kami berlarian bersembunyi di balik rawa-rawa dusun sagu di Kampung Asei. Beruntung banyak bom yang waktu itu dilepas tidak ada yang meledak,” kenang Hans Ohee.

Hal serupa dirasakan warga di sekitar Teluk Humboldt (Kajoe Pulo dan Kajo Batu).

Katanya, bom hanya meledak di dua lokasi: di dekat areal Bank Indonesia di jantung Kota Jayapura dan areal sekitar Pelabuhan Porasko dekat toko buku Gramedia sekarang.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota Jayapura melalui mekanisme pengangkatan, Rudy Mebri mengatakan, pada masa itu kawasan sekitar Kali Anafre banyak ditumbuhi dusun sagu.

Begitu pula di areal dekat Markas Polda Papua kini hingga ke Dok II, banyak hutan bakau sehingga warga di sana selamat.

“Walau mereka semua mengungsi ke Kampung Ormu,” kata Rudy Mebri.

Menurutnya, Pdt. Silas Chaay beserta orang tuanya termasuk Ondofolo Gasper Sibi juga mengungsi ke Kampung Ormu.

Rudy Membri pun mengingatkan meski bom peninggalan Perang Dunia II tidak meledak saat jatuh, bom yang terpendam di dalam tanah atau rawa tetap sangat berbahaya, meski tidak aktif secara permanen.

Latar Operasi Reckless

Mengutip laman http://thepacificwar.podbean.com, Jenderal MacArthur merencanakan serangan ofensif baru di Nugini Barat. Setelah arahan 12 Maret 1944, Laksamana Nimitz diinstruksikan memberikan dukungan bagi operasi Hollandia.

Jepang memulai pendudukan di Hollandia pada awal April 1942 tetapi kurang memperhatikan wilayah itu selama setahun.

Pengintaian udara Sekutu kemudian mengungkap musuh sedang membangun lapangan terbang di Dataran Danau Sentani untuk menampung hingga 350 pesawat tempur Jepang jenis Zero atau Mitsubishi A6M Zero.

Pesawat ini adalah pesawat tempur jarak jauh andalan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang beroperasi 1940-1945.

Pembangunan berlangsung lambat hingga akhir 1943. Kekalahan beruntun di udara dan darat di Nugini Timur, serta Kepulauan Bismarck juga kerugian pengiriman, membuat Jepang sadar akan kerentanan pangkalan di sebelah timur Hollandia.

Pada akhir 1943 hingga awal 1944, Jepang membangun tiga lapangan terbang di Dataran Danau Sentani dan memulai yang keempat di Tami, di pantai timur Teluk Humboldt.

Karena kerugian pengiriman di timur, Jepang juga mengembangkan Teluk Humboldt menjadi pangkalan pasokan dan titik transshipment utama.

Kapal besar membongkar muatan di Hollandia, lalu kargo diangkut tongkang ke tenggara hingga Wewak yang berjarak lebih dari 215 mil.

Sebagain kapal kargo besar itu tetap berada di Hollandia untuk membangun pangkalan di sana.

Laksamana Nimitz memutuskan mengirim dua kelompok kapal induk cepat dari Gugus Tugas 58 Laksamana Mitscher untuk menyapu pesawat termpur di Hollandia dan wilayah Wakde-Sarmi, guna menetralkan lapangan terbang mereka.

MacArthur mengirim kapal induk ke selatan untuk mendukung pasukan selama 8 hari setelah pendaratan.

Namun Nimitz menilai itu berisiko membahayakan kapal induk, karena Jepang bisa meluncurkan pesawat dari Hindia Belanda bahkan Filipina.

Karenanya diputuskan Gugus Tugas 58 hanya berada di Hollandia selama tiga hari setelah pendaratan.

MacArthur pun menambah kekuatan dengan pesawat berbasis darat ke Hollandia. Namun ia perlu merebut lapangan terbang di Papua Nugini Utara, tepat di timur sasaran utama.

Ia memilih Aitape, Provinsi Sepik Barat, PNG, yang dijaga longgar dan sebagian sudah dikembangkan Jepang, termasuk lapangan terbang yang belum selesai di sekitar Perkebunan Tadji.

Setelah mendarat di Aitape, Sekutu dapat memberikan perlindungan sayap bagi Hollandia dari gerakan ke barat Angkatan Darat Jepang ke-18.

Untuk serangan Aitape, MacArthur menggunakan 8 kapal induk pengawal dari Gugus Tugas 78 di bawah komando Laksamana Muda Ralph E. Davison.

Serangan amfibi, Laksamana Kinkaid menugaskan Gugus Tugas 77 Laksamana Barbey yang dibagi tiga kelompok penyerang. Mereka membawa Korps I Jenderal Eichelberger untuk Operasi Reckless.

Resimen ke-19 dan ke-21 dari Divisi ke-24 Mayor Jenderal Frederick Irving mendarat di Teluk Tanah Merah; Resimen ke-162 dan ke-186 dari Divisi ke-41 Jenderal Fuller mendarat di Teluk Humboldt.

Untuk operasi melawan Aitape dengan sandi Persecution, Resimen ke-163 dari Divisi ke-41 yang dipimpin Jenderal Doe melakukan pendaratan awal. (*)

Tags: Operasi RecklessPerang Dunia KeduaTanah Papuawarga Papua
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Tanah Papua

Tanah Papua tak butuh kegaduhan, namun kerja nyata

September 22, 2026
Perdamaian di Tanah Papua

Dialog dan pemahaman sejarah penting untuk perdamaian di Tanah Papua

September 17, 2026

Perbedaan dan keragaman, keniscayaan yang tidak bisa dihindari di Tanah Papua

September 17, 2026

Amnesty Internasional Indonesia: Hentikan pembunuhan warga sipil di Tanah Papua

September 17, 2026

HONAI menyerukan pembukaan akses kemanusiaan ke Tanah Papua

September 15, 2026

HONAI hadir untuk perdamaian dan kemanusiaan di Tanah Papua

September 15, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

Kadepa calls for political action to address Papua’s problems
23 September 2026
Kadepa calls for political action to address Papua’s problems

Jayapura, Jubi – Papua needs practical action rather than political disputes and heated debate, according to Papuan political figure Laurenzus [...]

Malind Indigenous group calls for police to drop case against land defender
23 September 2026
Malind Indigenous group calls for police to drop case against land defender

Jayapura, Jubi – Solidaritas Merauke has urged police to stop what it describes as the criminalisation of Ariston Moiwend Buako, [...]

Malind Indigenous landowners lose legal challenge over 135km road project
22 September 2026
Malind Indigenous landowners lose legal challenge over 135km road project

Jayapura, Jubi – The Jayapura Administrative Court (PTUN Jayapura) has rejected a legal challenge brought by Malind Indigenous representatives against [...]

Yobe residents protest alleged diversion of subsidised rice
22 September 2026
Yobe residents protest alleged diversion of subsidised rice

Jayapura, Jubi – Dozens of residents of Yobe urban village in Abepura district, Jayapura city, Papua, gathered at the local [...]

Broken classrooms and missing furniture expose education challenges in Jayapura
21 September 2026
Broken classrooms and missing furniture expose education challenges in Jayapura

Sentani, Jubi – Conditions at many schools in Jayapura Regency, Papua, are concerning. Some schools no longer have adequate desks, [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Pesawat Subsidi terbang perdana

Agen diingatkan tak menjual tiket subsidi melebihi tarif Pemprov Papua Tengah

September 23, 2026
Regulasi pengelolaan sampah

Pemkab Jayapura perbarui regulasi pengelolaan sampah

September 23, 2026
sarang semut

Sarang Semut dari hutan Wasur menopang ekonomi warga

September 23, 2026
Kepala Suku

Gubernur Nawipa berharap kepala suku menjadi fondasi masyarakat

September 23, 2026
PNG

PM Marape bawa suara PNG ke Majelis Umum PBB

September 23, 2026
Perang Dunia Kedua

Lumpur, rawa, dan bakau, pelindung warga Papua saat Perang Dunia Kedua

September 23, 2026
Kepulauan Solomon

PM Kepulauan Solomon berpidato di Majelis Umum PBB

September 23, 2026
Bougainville

Percayalah pada prosesnya, Bougainville akhirnya bisa merdeka dari PNG

September 22, 2026
Pemetaan wilayah adat

Pemetaan wilayah adat Suku Nasawat dibahas lewat lokakarya

September 22, 2026
Wagub Geley pembangunan gedung

Wagub Geley: Pembangunan sejumlah gedung mesti rampung akhir Desember 2026

September 22, 2026
Bougainville

Buin tuan rumah Festival Cokelat Bougainville ke 10

September 23, 2026
Pembinaan perempuan

Pembinaan perempuan bagian penting dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga

September 21, 2026
Gugatan Masyarakat Adat Malind Ditolak PTUN

PTUN Jayapura tolak gugatan masyarakat adat Malind

September 21, 2026
Fiji

Pemimpin Fiji serukan pengawasan terhadap perjanjian keamanan Fiji-Australia

September 22, 2026
Pesawat Subsidi terbang perdana

Agen diingatkan tak menjual tiket subsidi melebihi tarif Pemprov Papua Tengah

0
Regulasi pengelolaan sampah

Pemkab Jayapura perbarui regulasi pengelolaan sampah

0
sarang semut

Sarang Semut dari hutan Wasur menopang ekonomi warga

0
Kepala Suku

Gubernur Nawipa berharap kepala suku menjadi fondasi masyarakat

0
PNG

PM Marape bawa suara PNG ke Majelis Umum PBB

0
Perang Dunia Kedua

Lumpur, rawa, dan bakau, pelindung warga Papua saat Perang Dunia Kedua

0
Kepulauan Solomon

PM Kepulauan Solomon berpidato di Majelis Umum PBB

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara