Jayapura, Jubi — Perang Dunia Kedua di Tanah Papua, khususnya pertempuran di Hollandia (sekarang Jayapura) dengan sandi Operasi Reckless, terjadi pada 22 April hingga 6 Juni 1944.
Masa itu, banyak bom yang dijatuhkan pesawat udara tidak meledak saat jatuh di lumpur, rawa, dusun sagu, dan hutan bakau.
Ini disebabkan, tanah lunak menyerap energi benturan sehingga gagal memicu sumbu ledak mekanis (fuze). Bom baru akan meledak jika jatuh di atas tanah berbatu keras.
Dosen sejarah kandidat PhD FIB Universitas Indonesia, Peter Marinus Apituley mengatakan, saat perang antara Jepang melawan Sekutu AS dalam merebut Hollandia, tentara Sekutu pimpinan Jenderal MacArthur melakukan serangan ke pertahanan Jepang, terutama di Lapangan Terbang Sentani, melalui dua jalur.
“Pertama Teluk Humboldt menuju Youtefa dan kedua melalui Teluk Youtefa – Tanah Merah,” kata Peter Marinus Apituley, kepada Jubi di Kantor Redaksi Jubi Kota Jayapura, Provinsi Papua, Senin (14/9/2026).

Menurutnya, faktor utama bom konvensional Perang Dunia II tidak meledak adalah karena mengandalkan sistem pemicu benturan mekanis (percussion/impact fuze) dan kualitas bom itu sendiri.
“Jadi bom AS saat itu akan meledak jika menghantam karang atau batu keras,” kata dosen FKIP Universitas Cenderawasih itu.
Menurutnya, sumbu bom membutuhkan hantaman keras seperti beton, batuan, atau tanah keras untuk mendorong pin pemukul (firing pin) ke detonator.
Ketika jatuh di rawa atau lumpur yang sangat lunak, efek bantalan air dan lumpur memperlambat laju bom tanpa benturan mendadak, sehingga sumbu gagal terpicu.
“Tidak heran kalau sekarang masih ada sisa-sisa bom yang belum meledak di Tanah Papua,” ujarnya.
Katanya, agar sistem mekanis bekerja sempurna, bom harus mendarat tegak lurus dengan posisi hidung di bawah. Ketika menembus vegetasi rawa atau permukaan air, posisinya sering bergeser, terbalik, atau miring.
Posisi jatuh yang tidak sempurna membuat mekanisme pemicu tersangkut atau tidak mendapat tekanan cukup.
Beberapa bom juga dirancang dengan sumbu kimia berwaktu agar meledak beberapa jam setelah dijatuhkan untuk mengacaukan wilayah musuh.
Pendapat ini sesuai fakta lapangan. Saat serangan ke pangkalan udara Sentani pada April 1944, warga Kampung Asei, mendiang Hans R. Ohee (86 tahun), mengenang banyak pesawat tempur AS terbang di atas Danau Sentani menuju pangkalan militer Jepang.
“Saat bersamaan pesawat tempur itu melepaskan bom dari udara dan kami berlarian bersembunyi di balik rawa-rawa dusun sagu di Kampung Asei. Beruntung banyak bom yang waktu itu dilepas tidak ada yang meledak,” kenang Hans Ohee.
Hal serupa dirasakan warga di sekitar Teluk Humboldt (Kajoe Pulo dan Kajo Batu).
Katanya, bom hanya meledak di dua lokasi: di dekat areal Bank Indonesia di jantung Kota Jayapura dan areal sekitar Pelabuhan Porasko dekat toko buku Gramedia sekarang.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota Jayapura melalui mekanisme pengangkatan, Rudy Mebri mengatakan, pada masa itu kawasan sekitar Kali Anafre banyak ditumbuhi dusun sagu.
Begitu pula di areal dekat Markas Polda Papua kini hingga ke Dok II, banyak hutan bakau sehingga warga di sana selamat.
“Walau mereka semua mengungsi ke Kampung Ormu,” kata Rudy Mebri.
Menurutnya, Pdt. Silas Chaay beserta orang tuanya termasuk Ondofolo Gasper Sibi juga mengungsi ke Kampung Ormu.
Rudy Membri pun mengingatkan meski bom peninggalan Perang Dunia II tidak meledak saat jatuh, bom yang terpendam di dalam tanah atau rawa tetap sangat berbahaya, meski tidak aktif secara permanen.
Latar Operasi Reckless
Mengutip laman http://thepacificwar.podbean.
Jepang memulai pendudukan di Hollandia pada awal April 1942 tetapi kurang memperhatikan wilayah itu selama setahun.
Pengintaian udara Sekutu kemudian mengungkap musuh sedang membangun lapangan terbang di Dataran Danau Sentani untuk menampung hingga 350 pesawat tempur Jepang jenis Zero atau Mitsubishi A6M Zero.
Pesawat ini adalah pesawat tempur jarak jauh andalan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang beroperasi 1940-1945.
Pembangunan berlangsung lambat hingga akhir 1943. Kekalahan beruntun di udara dan darat di Nugini Timur, serta Kepulauan Bismarck juga kerugian pengiriman, membuat Jepang sadar akan kerentanan pangkalan di sebelah timur Hollandia.
Pada akhir 1943 hingga awal 1944, Jepang membangun tiga lapangan terbang di Dataran Danau Sentani dan memulai yang keempat di Tami, di pantai timur Teluk Humboldt.
Karena kerugian pengiriman di timur, Jepang juga mengembangkan Teluk Humboldt menjadi pangkalan pasokan dan titik transshipment utama.
Kapal besar membongkar muatan di Hollandia, lalu kargo diangkut tongkang ke tenggara hingga Wewak yang berjarak lebih dari 215 mil.
Sebagain kapal kargo besar itu tetap berada di Hollandia untuk membangun pangkalan di sana.
Laksamana Nimitz memutuskan mengirim dua kelompok kapal induk cepat dari Gugus Tugas 58 Laksamana Mitscher untuk menyapu pesawat termpur di Hollandia dan wilayah Wakde-Sarmi, guna menetralkan lapangan terbang mereka.
MacArthur mengirim kapal induk ke selatan untuk mendukung pasukan selama 8 hari setelah pendaratan.
Namun Nimitz menilai itu berisiko membahayakan kapal induk, karena Jepang bisa meluncurkan pesawat dari Hindia Belanda bahkan Filipina.
Karenanya diputuskan Gugus Tugas 58 hanya berada di Hollandia selama tiga hari setelah pendaratan.
MacArthur pun menambah kekuatan dengan pesawat berbasis darat ke Hollandia. Namun ia perlu merebut lapangan terbang di Papua Nugini Utara, tepat di timur sasaran utama.
Ia memilih Aitape, Provinsi Sepik Barat, PNG, yang dijaga longgar dan sebagian sudah dikembangkan Jepang, termasuk lapangan terbang yang belum selesai di sekitar Perkebunan Tadji.
Setelah mendarat di Aitape, Sekutu dapat memberikan perlindungan sayap bagi Hollandia dari gerakan ke barat Angkatan Darat Jepang ke-18.
Untuk serangan Aitape, MacArthur menggunakan 8 kapal induk pengawal dari Gugus Tugas 78 di bawah komando Laksamana Muda Ralph E. Davison.
Serangan amfibi, Laksamana Kinkaid menugaskan Gugus Tugas 77 Laksamana Barbey yang dibagi tiga kelompok penyerang. Mereka membawa Korps I Jenderal Eichelberger untuk Operasi Reckless.
Resimen ke-19 dan ke-21 dari Divisi ke-24 Mayor Jenderal Frederick Irving mendarat di Teluk Tanah Merah; Resimen ke-162 dan ke-186 dari Divisi ke-41 Jenderal Fuller mendarat di Teluk Humboldt.
Untuk operasi melawan Aitape dengan sandi Persecution, Resimen ke-163 dari Divisi ke-41 yang dipimpin Jenderal Doe melakukan pendaratan awal. (*)























Discussion about this post