Jayapura, Jubi – Perdana Menteri Vanuatu, Jotham Napat, membantah klaim bahwa ia mungkin menghadapi tantangan kepemimpinan melalui mosi tidak percaya pada sidang parlemen berikutnya dalam dua minggu mendatang.
Media lokal melaporkan pekan lalu, mengutip politisi yang berbicara dengan syarat anonim, bahwa sebuah langkah sedang direncanakan di balik layar untuk menggulingkan Napat.
Namun, Napat mengatakan kepada stasiun penyiaran negara bagian VBTC pada Senin bahwa koalisinya masih memegang mayoritas dan meyakinkan masyarakat Ni-Vanuatu tentang stabilitas pemerintahan.
Pemimpin oposisi Vanuatu, Ishmael Kalsakau, juga mengatakan kepada RNZ Pacific bahwa “tidak ada mosi” yang direncanakan terhadap perdana menteri.
Napat, yang terpilih sebagai perdana menteri baru negara itu pada Februari 2025, adalah perdana menteri kelima negara itu dalam lima tahun terakhir dan memimpin pemerintahan koalisi yang terdiri dari lima partai politik.
Napat telah menghadapi dan mengalahkan mosi tidak percaya pada Desember tahun lalu.
Menurut Vanuatu Daily Post, belum ada mosi resmi yang dikonfirmasi telah diajukan ke Kantor Ketua Parlemen atau panitera parlemen.
Namun, surat kabar itu mengatakan para politisi terus melakukan lobi di balik layar untuk mengamankan jumlah suara yang cukup untuk menantang Napat.
“Saat ini, pemerintah menguasai mayoritas anggota parlemen,” kata Napat kepada VBTC.
Jubi mencatat negara Republik Vanuatu telah mengalami setidaknya 47 mosi tidak percaya terhadap perdana menterinya sejak memperoleh kemerdekaan pada 30 Juli 1980.
Pasalnya, negara ini beroperasi di bawah sistem koalisi parlementer yang sangat terfragmentasi, sehingga ancaman dan penerapan mosi-mosi ini merupakan hal yang biasa dalam politik negara tersebut.
Periode antara 1980–2015 menurut historis dari Transparency International Vanuatu telah mencatat 27 mosi yang secara resmi diajukan ke parlemen selama periode ini.
Mosi pertama dihadapi oleh perdana menteri pendiri negara tersebut, Walter Lini, pada 1983. Selanjutnya, The Australian National University mencatat pada 2010–2023 setidaknya ada 20 mosi tambahan yang diajukan di parlemen.
Mengutip ABC News, dilaporkan ada tiga perdana menteri yang berbeda dalam satu bulan pada 2023, yaitu Ishmael Kalsakau, Sato Kilman, dan Charlot Salwai. (*)






















Discussion about this post