• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Lingkungan

Sawit dibuka, pohon ditebang, hutan hilang, burung terbang menjauh

October 19, 2026
in Lingkungan
Reading Time: 4 mins read
0
Penulis: Dominggus A Mampioper - Editor: Arjuna Pademme
Berung Kasuari

Salah satu jenis burung Kasuari. Burung kasuari bagi Suku Marind dikenal sebagai totem dari marga Kaize di Papua Selatan - Akun Facebook Birds House

0
SHARES
258
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi — Terlalu riskan untuk menyamakan kelapa sawit dengan pohon, bahkan secara gegabah menyebutkan sama-sama mempunyai daun dan mengeluarkan oksigen. Ada perbedaan mencolok antara kelapa sawit dengan pohon.

Kelapa sawit adalah jenis tumbuhan yang termasuk dalam genus Elaeis dan ordo Arecales, sedangkan hutan tropis di Indonesia sangat kaya akan keanekaragaman hayati sebagai warisan dunia yang kini terancam hilang.

“Saya pernah melihat ada seekor burung yang terbang jauh, tinggi dan akibat terlalu capek dan mati, saya kira ada yang tembak ternyata sudah tidak ada lagi pohon tempat berlindung. Apalagi burung-burung tidak mungkin bersarang di kelapa sawit karena itu bukan rumahnya,” kata Direktur Walhi Papua Maikel Primus Peuki dalam podcast Jubi di Kantor Redaksi Jubi pekan lalu.

Menurutnya, ini peristiwa nyata yang dilihat langsung saat berkunjung ke Merauke, Provinsi Papua Selatan.

“Bayangkan burung-burung beterbangan jauh, capek dan jatuh mati. Ini suatu kenyataan yang memprihatinkan karena burung-burung itu tahu di mana rumahnya,” ucapnya.

“Begitu pula dengan mata rantai kehidupan di mana masyarakat adat memiliki kalender musiman, mereka tahu kapan berburu babi hutan sehingga ada keseimbangan dalam menjaga alam ciptaan.”

Pendapat ini dibenarkan pula oleh Dosen AI dan Lingkungan Hidup Dr. Ignasius Ngari OFM dari Sekolah Tinggi Filsafat Fajar Timur (STFT) Papua, bahwa burung-burung maupun babi hutan secara naluri tahu di mana rumahnya.

BERITATERKAIT

Kebakaran hutan menghanguskan sepertiga lahan warga pulau kecil di PNG

Rusaknya bakau, rawa, sagu dan hutan alam berdampak pada laut

Makam leluhur diduga digusur: Marga Klagilit palang perusahaan sawit

Aliansi: Hentikan PSN penghancur hutan hujan tropis di Tanah Papua

“Secara alamiah dan naluri burung dan hewan itu tahu di mana tempat tinggalnya. Begitu diganti dengan tanaman monokultur seperti sawit, mereka harus mencari rumah baru lagi yang tentu butuh adaptasi dan waktu. Jika tidak, hilang lenyap dan mati,” kata Ignasius Ngari.

Padahal menurutnya, burung-burung itu bagi masyarakat adat dikenal pula sebagai pemberi tanda tentang perubahan alam.

Burung akan memberitahukan bahaya yang akan terjadi bagi manusia. Misalnya masyarakat di Teluk Cenderawasih dari Yapen dan Biak, mereka tahu suara-suara burung yang memberi tanda dan peringatan bahwa akan ada bencana.

“Jadi kalau burung-burung saja sudah hilang, masyarakat adat akan menerima dan menunggu bencana tanpa ada tanda-tanda alam. Meskipun kini ada teknologi, tapi tanda alam dari suara burung sampai sekarang masih dipercaya,” ucapnya.

Apa yang dikatakan Dr. Ignasius Ngari masih berlaku pula bagi masyarakat adat soal kicauan suara burung. Masyarakat di Kampung Yanggu Baru, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, masih percaya dan menjadikan kicauan suara burung sebagai pertanda akan ada tamu yang datang.

Marthen Waisimon, mantan Kepala Kampung Yanggu Baru, mengatakan burung-burung itu dalam Bahasa Nimboran dinamakan burung Yasu.

Sudah lama orang tua di sana menceritakan bahwa kalau burung itu berkicau di pagi hari, pasti akan ada tamu yang datang.

“Bapa dari pagi sudah tahu nanti ada tamu yang datang, ternyata betul siang hari anak-anak dari Jubi sudah tiba di kampung,” kata Marthen Waisimon saat Jubi berkunjung ke sana beberapa waktu lalu.

Katanya, sesuai warisan leluhur, warga sudah tahu makna dan pertanda di balik kicauan suara burung-burung itu, mulai dari kedatangan tamu sampai bencana dan juga tanda akan ada kematian.

“Kami selalu jaga hutan dan pohon karena kehadiran burung ini penting dan menjadi sahabat kita. Kita harus menjaga hutan dan pohon-pohon itu, sebab itu burung-burung punya rumah tempat mereka bersarang,” ujarnya.

Tak heran apabila Ignasius Ngari mengatakan bahwa dalam ilmu antropologi, totem adalah objek sakral, simbol, atau makhluk spiritual (biasanya berupa hewan atau tumbuhan) yang dianggap mewakili identitas, asal-usul, atau hubungan kekerabatan suatu kelompok manusia seperti klan atau suku.

“Jadi suara burung adalah pertanda penting bagi masyarakat adat sehingga mereka selalu menjaga alam ciptaan yang baik dan selalu menjaga keseimbangan alam itu,” katanya.

Ia mengatakan, konsep ini menjadi dasar dari totemisme, yaitu sistem keyakinan dan organisasi sosial yang menghubungkan manusia dengan alam.

Maikel Primus Peuki juga menegaskan bahwa burung bangau (Bahasa Marind: burung ndik) di Papua Selatan merupakan totem utama milik marga Ndiken.

Sedangkan burung kasuari totem dari marga Kaize, marga Mahuze punya totem sagu, anjing, marga Balaigaize punya totem burung elang, buaya dan air.

Marga Ndiken punya totem wati sejenis tanaman lokal, burung Ndik (sejenis burung bangau besar), marga Samkakai punya totem saham atau kanguru.

Marga Gebze totem kelapa, pisang, ular, sedangkan marga Basik-Basik punya totem babi hutan.

Katanta, setiap marga dalam Suku Marind memiliki hubungan spiritual yang erat dengan perwujudan roh leluhur (Dema) yang disimbolkan melalui flora dan fauna tertentu.

Ia mengatakan, ketika flora dan fauna hilang, tentunya sangat berpengaruh bagi kehidupan masa depan karena sudah tidak ada lagi keseimbangan alam, kelapa sawit lebih banyak dari pohon alami sehingga sarang burung pun ikut lenyap.

Tak jauh dari Suku Marind di Papua Selatan, hanya terpisah laut, hidup pula masyarakat di Kepulauan Torres, Australia, yang juga punya tradisi yang sama dengan warga Melanesia di Papua Selatan.

Burung sangat terintegrasi dalam kisah penciptaan dan leluhur, seringkali bertindak sebagai totem pribadi atau klan dan hewan roh yang unik.

Merpati Selat Torres (Rook-a-yu) yang secara ilmiah dikenal sebagai Merpati Kekaisaran Torres (Ducula spilorrhoa) atau merpati kekaisaran belang Australia, merpati besar yang sebagian besar berwarna putih dengan bulu sayap dan ekor hitam ini dikenal secara lokal sebagai Rook-a-yu.

Bermigrasi antara Papua Nugini dan Australia utara dari Agustus hingga Januari untuk berkembang biak, burung ini memiliki makna budaya yang sangat besar, muncul dalam seni regional, sejarah lisan, dan identitas pribadi.

Dikutip dari http://torresstraitsoe.org.au bahwa penduduk asli Melanesia di Kepulauan Selat Torres membaca perilaku burung, pola kedatangan, dan kicauan sebagai barometer alami yang menandakan perubahan cuaca monsun, angin, dan siklus kehidupan laut.

Pergerakan merpati kekaisaran dan berbagai burung pantai migrasi (seperti burung curlew timur, burung knot besar, dan burung sandpiper curlew) menandai pergantian musim dan waktu yang tepat untuk praktik panen di pulau dan laut tertentu.

Kawasan di Kepulauan Selat Torres ini mendukung lebih dari 50 spesies burung pesisir dan laut, sehingga pengetahuan tradisional sangat penting untuk melacak perubahan lingkungan, mengelola predator liar, dan melindungi keanekaragaman hayati lokal. (*)

Continue Reading
Tags: BurungHutanpohonSawit
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Kebakaran hutan di Pulau PNG

Kebakaran hutan menghanguskan sepertiga lahan warga pulau kecil di PNG

October 19, 2026
Rusaknya bakau

Rusaknya bakau, rawa, sagu dan hutan alam berdampak pada laut

October 15, 2026
Marga Klagilit palang perusahaan sawit

Makam leluhur diduga digusur: Marga Klagilit palang perusahaan sawit

October 13, 2026

Aliansi: Hentikan PSN penghancur hutan hujan tropis di Tanah Papua

October 11, 2026

Balai Karantina gagalkan penyelundupan telur burung paruh bengkok dari Merauke

October 7, 2026

Tim SAR cari dua warga yang hilang di Hutan Ulilin

October 5, 2026

Discussion about this post

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara