Jayapura, Jubi – Aktivis lingkungan Jayapura Petronela Merauje berharap wali Kota Jayapura yang baru dilantik konsisten menerapkan regulasi atau Peraturan Daerah (Perda) Nomor 15 tahun 2011 yang mengatur tentang penyelenggaraan kebersihan di Kota Jayapura, termasuk pengelolaan sampah.
Harapan itu disampaikan Petronela Merauje saat diwawancarai Jubi di Kota Jayapura, Papua pada Kamis (20/02/2025). Merauje, 46 tahun, adalah tokoh perempuan yang berpengaruh dalam perlindungan Hutan Perempuan (Tonotwiyat) dan Teluk Youtefa.
“Saya berharap kepada wali kota yang baru dilantik untuk konsisten menerapkan regulasi yang sudah ada terkait dengan bagaimana menjaga lingkungan dari sampah,” katanya.
Merauje mengatakan perda tersebut harus diterapkan dengan baik kepada masyarakat Kota Jayapura. Masyarakat juga harus menyadari hal itu, karena masalah sampah adalah tanggung jawab bersama.
Ia berharap pemimpin yang baru terpilih bisa melakukan itu, karena kepala daerah sebagai pengambil kebijakan memberikan sosialisasi secara berkala dan butuh dukungan dari semua pihak.
“Ketika Bapak Wali Kota yang bicara atau berperan, langsung otomatis semua akan bekerja, makanya saya cuma berharap peraturan yang sudah ada dijalankan lagi secara baik,” ujarnya.
Merauje menyampaikan hal itu karena di hutan adat atau yang dikenal dengan Hutan Perempuan yang berada di Teluk Youtefa kondisinya saat ini penuh dengan sampah. Hutan mangrove yang dulunya tidak ada sampah sekarang menjadi tempat penyangga sampah terbesar.
“Dulu hutan itu bersih, justru lumpurnya kita pakai jadi lulur membuat kulit bersih, karena lumpur ampas dari hutan itu dari pohon bakau sendiri, tapi hari ini banyak sampah yang masuk jadi bikin kulit iritasi. Pulang itu kulit gatal sampai garuk pakai tangan tra bisa, pake sikat pakaian sikat badan,” katanya.
Dulu, kata Merauje, Hutan Perempuan itu bersih sekali. Waktu masih kecil, perempuan 44 tahun itu sering mandi di dalam Hutan Perempuan itu sambil menunggu mama-mama mencari kerang atau bia.
Tapi sekarang hal itu sudah tidak bisa dilakukan lagi, karena banyaknya sampah di sana. Sampah-sampah itu juga memengaruhi ukuran kerang yang dulunya besar kini kecil dan susah didapat akibat sampah.
“Mama biasanya cari kerang itu injak dengan kaki, tapi sekarang tidak bisa karena pecahan botol. Terus bagaimana kerang mau hidup kalau tempat mereka berkembang biak penuh dengan sampah. Yang jelas kerang mati dan memang hasilnya sudah semakin berkurang saat ini,” ujarnya
Merauje menyampaikan kerang menjadi sumber ekonomi utama bagi perempuan di Kampung Enggros, karena kerang memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Nilai jualnya tinggi karena dulu ukurannya besar dan cara mencarinya susah, karena harus dijepit pakai ujung jari kaki.
Kerang itu berada di dalam lumpur, berbeda dengan kerang lain yang berada di atas pasir yang bisa didapat dengan cara menyelam sebentar, ambil, lalu naik.
“Kalau yang di Hutan Perempuan lincahnya ada di kaki saja, itu kenapa nilai jualnya mahal,” ujarnya.
Selain itu, tambahnya, kerang yang disebut ‘Narhosori’ tersebut salah satu makanan khas masyarakat Enggros dan Tobati.
“Terus, kerang ini sebagai makanan raja, pada acara-acara sakral baru kita bisa sajikan makanan itu, waktu zaman dulu begitu,” katanya.
Upaya menangani sampah
Petronela Merauje mengatakan sampah yang paling banyak hanyut masuk ke hutan mangrove di Teluk Youtefa adalah sampah plastik. Selama ini, upaya yang dilakukan Merauje adalah bergerak di tingkat kelurahan dengan komunitas-komunitas mengangkat sampah dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan kegiatan edukasi.
“Jadi, kami hanya bagian dari memberikan motivasi saja, yang mengambil kebijakan itu Pemerintah Kota Jayapura khususnya, bagaimana mencegah supaya tidak ada sampah, dengan begitu kan bisa mengubah mindset orang,” katanya.
Merauje menyampaikan, dari sejumlah riset yang dilakukan mahasiswa dan peneliti di hutan mangrove Teluk Youtefa ditemukan zat logam yang dimakan ikan. Karena itu masyarakat di sana dilarang memakan ikan karena akan merusak kandungan perempuan.
Kemudian, dulu air di sana jernih, sekarang sudah kabur. “Masyarakat biasanya molo pas naik itu, tidak bisa melihat lurus ke atas perahu karena ada barisan lendir yang menghalangi,” ujarnya.
Jadi, kata Merauje, masyarakat tahu ada perubahan air laut di sana dan ada sesuatu yang terjadi.
“Sumber sampah pertama dari Kali Acai, Suburhonyi, kali dari Pasar Otonom, Abepantai, dari Kali di Entrop, dan Anafri dekat Kantor DPRP itu. Sampah keluar ketika air masuk, lalu dibawa ke Teluk Youtefa. Karena itu kami berharap pemimpin baru menerapkan peraturan terkait pengelolaan sampah dengan baik,” katanya
Seperti diberitakan Jubi sebelumnya, Aser Sembra mengatakan laut di Kampung Enggros terlihat bersih, tapi sebenarnya sudah tercemar. Jika hujan turun sampah yang umumnya plastik menutupi laut hingga ke Hutan Perempuan atau hutan mangrove.
Selain itu, nelayan juga sulit mendapatkan ikan saat melaut. “Perbedaannya sekarang dengan dulu, dulu laut bersih mencari ikan dekat saja dapat, tapi sekarang harus agak jauh ke tengah. Untuk laut, tidak lagi bisa digunakan, mau buang jaring saja tidak bisa, mama-mama mau cari kerang juga tidak bisa karena airnya sudah cokelat dan sampahnya banyak,” katanya.
Menurutnya sampah yang ada di perairan kawasan Kampung Enggros terbawa arus dari Abe, pembuangan dari Pasar Youtefa dan dihanyutkan juga dari kali di Entrop. Enggros termasuk kampung yang ‘menadah’ sampah-sampah dari Kota Jayapura.
Di hutan atau bakau mangrove akar-akar bakau sudah tidak kelihatan lagi karena sampah memenuhi akar-akar tersebut. Padahal hutan bakau itu menjadi tempat perkembangbiakan ikan serta kerang. Akibatnya, ikan tidak bisa lagi berkembang biak di sana.
“Pas hujan lebat semua aktivitas masyarakat lumpuh karena tidak bisa ke laut, laut penuh dengan sampah plastik,” ujarnya. (*)




















Discussion about this post