Pernahkah kita membayangkan bahwa sebuah lagu kebangsaan, simbol persatuan dan kebanggaan, justru menghadirkan luka, bahkan trauma?
LAGU kebangsaan diciptakan untuk menyatukan. Untuk membangkitkan rasa bangga, meneguhkan nilai bersama, dan membangun rasa memiliki, mengingatkan bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar. Dalam perayaan atau upacara, merupakan ritual negara yang nyaris sakral.
Namun, simbol selalu dibentuk oleh sejarah, oleh kekuasaan, oleh pengalaman yang tidak pernah sama. Bagi sebagian orang, Indonesia Raya adalah kebanggaan. Bagi yang lain, justru memicu ketidaknyamanan, kemarahan, bahkan luka.
Saya tersentak oleh hal ini dalam sebuah pemutaran film dan diskusi dokumenter terbaru karya Dandhy Laksono dan Victor Mambor di sebuah ruang kuliah di University of Melbourne pada 16 Maret 2026.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Dalam forum itu, Dandhy menceritakan sebuah adegan yang dihapus, adegan yang sangat ingin dipertahankan, namun akhirnya harus dilepas karena pertimbangan hukum.
Sebagai seorang pencerita, adegan itu dilihat sebagai sesuatu yang tajam dan jujur. Namun dia juga memahami risiko yang menyertainya. Kekhawatiran dari kelompok advokasi lokal bukan hanya soal pengijinan, tetapi juga soal dampak: bahwa satu kalimat bisa dianggap terlalu “mengganggu” di negeri yang sensitif terhadap simbol.
Ini menunjukkan sebuah pola di Indonesia dimana negara lebih sigap ketika simbolnya dianggap terancam, tetapi tidak peka merespons apa yang benar-benar dialami rakyatnya. Bendera, lagu kebangsaan, seragam, dan simbol keagamaan sering memicu reaksi yang lebih heboh dibandingkan kondisi nyata yang seharusnya mereka wakili.
Dalam adegan yang dihapus itu, seorang petani muda sedang mencuci tangannya ketika ia mendengar Indonesia Raya diputar dari kantor pemerintah terdekat, suaranya cempreng bergetar dari pengeras suara. Lagu itu diputar pada jam tertentu, dan orang-orang diharapkan berhenti dan memberi hormat. Namun baginya, pengalaman itu bukan hal biasa, melainkan suatu luka yang berulang.
Petani muda itu berkata,“Setiap kami mendengar lagu ini, itu serasa di acara pelepasan jenazah. Kami dipaksa berdiri, menyanyi…” Lalu, fakta terungkap bahwa mereka kehilangan tanah, tanah leluhur yang diwariskan turun-temurun, yang tiba-tiba beralih menjadi milik negara dan menjadi konsesi, menjadi proyek, menjadi ruang eksploitasi korporasi raksasa. “Lagu ini tidak ada guna. Yang masih berguna itu lagu gereja.”
Alisku mengerut, sudut bibirku naik sebelah, kepala sedikit miring. Pikiranku tersentak pelan. Aku terdiam, mencoba memahaminya.
Bagi mereka yang pernah mengalami kekerasan, marginalisasi, atau dibungkam, lagu kebangsaan tidak lagi berarti persatuan, melainkan sistem yang menyakiti mereka.
Aku memutar ulang lagu itu dalam kepala, mencari letak sumbangnya. Namun yang terdengar tetap sama seperti yang selalu saya dengar: kebanggaan, upacara, rasa memiliki.
Lalu nurani seperti disentuh perlahan. Namun kemudian menggedor, lalu mengguncang: sesuatu yang begitu akrab, begitu biasa bagi saya, bisa terasa sama sekali berbeda bagi orang lain. Bukan sekadar beda, tetapi menyakitkan. Rasanya seperti sebuah kebenaran yang selama ini kita pegang retak seketika, membuka makna yang sama sekali berbeda.
Saya mulai memahami: bukan pada nadanya, bukan pada liriknya, melainkan pada apa yang mengelilinginya. Pada ingatan yang tidak saya bawa. Pada sejarah yang bukan milik saya untuk rasakan. Perbedaannya bukan pada lagunya, tetapi pada pada sejarah yang melekat di tubuh yang mendengarnya. Pada pengalaman yang tidak pernah saya jalani.
Dalam konteks ini, lagu kebangsaan bukan lagi simbol bersama. Lagu itu menjadi sesuatu yang terkait dengan paksaan, pengulangan, dan jarak dari kenyataan hidup.
Ketika sejarah sebuah bangsa dipenuhi konflik, pengucilan, atau ketidakadilan, simbol-simbolnya ikut membawa jejak itu. Bagi mereka yang pernah mengalami kekerasan, marginalisasi, atau dibungkam, lagu kebangsaan tidak lagi berarti persatuan, melainkan sistem yang menyakiti mereka. Boro-boro rasa memiliki, yang muncul justru perasaan tersisih.
Di Papua Barat, latarnya kelam: negara menguasai wilayah ini demi sumber daya alamnya. Sebuah bentuk kolonialisme yang terus berkelanjutan, dengan bayang-bayang intimidasi militer. Warga sipil ditembak, lebih dari 100.000 orang mengungsi, jutaan hektar hutan dibabat, menghilangkan sumber pangan, satwa, dan cara hidup. Tanah adat dirampas, memutus hubungan masyarakat dengan apa yang selama ini menopang hidup mereka. Dalam kenyataan seperti ini, tidak mengherankan jika lagu kebangsaan terasa jauh, bahkan mengancam.
Lagu kebangsaan itu tetaplah sama, tetapi tidak dirasakan dengan cara yang sama oleh semua orang. Apa yang menyatukan satu orang, bisa mengasingkan yang lain. Apa yang terasa sebagai kebersamaan bagi kita, bisa terasa seperti sesuatu yang menekan bagi mereka.
Ketegangan ini memperlihatkan satu hal sederhana namun tajam: simbol nasional tidak pernah netral. Selalu ada pengalaman yang membentuk cara orang merasakannya. Ketika selaras, lagu itu menyatukan. Ketika tidak, lagu itu memisahkan.
Hanya lima belas menit sebelum diskusi dimulai, lagu lain telah lebih dulu mengguncang saya. Ela, dari Melbourne Bergerak, sebuah kelompok aktivis yang terbukti bukan “antek asing” membacakan penggalan lirik dari lagu “Papua”:
“…Sa su kasih semua bahkan sampai sa relakan sa pu jantung dan hati…
Sa su pilih ko ya sebagai sa pu kekasih tapi ko khianati…”
Suara Ela lirih, namun terarah, tajam tanpa meninggi. Udara di teater berubah seketika. Sebagian terpukul diam, sebagian lain tak kuasa menahan air mata. Dua orang yang kukenal, seorang aktivis Papua di sebelah kiriku, dan seorang perempuan tokoh diaspora beberapa baris di depan, bahu mereka bergetar, tangan gemetar, saat lirik itu merambat, menyusup, menyesaki ruang.
Tak ada yang berbicara. Bahkan udara terasa membungkam.
Ini ingatan yang menjelma: hujan gunung, bau tanah basah, beban kehilangan, dan kebanggaan sunyi yang berakar pada tanah yang terus dipertahankan. Frasa seperti “di bawah langit Papua” dan “bintang kejora” bukan sekadar kata, tapi kedekatan yang terluka, kehilangan yang tak selesai, dan rasa memiliki yang tak bisa dirampas. Lagu itu terasa personal, lahir dari apa yang benar-benar dijalani: duka, cinta, dan ingatan yang terikat pada tanah.
Di tengah sisa-sisa emosi itu, ruang ini jadi terasa asing bagiku. Kami duduk di sebuah ruang teater modern, kursi empuk, pencahayaan rapi, dan tata ruang yang tenang, sangat nyaman. Kontras itu terasa jelas dengan suasana di layar film dokumenter tadi dan lirik lagu “Papua” tersebut.
Saya menoleh pelan. Namun tetap, tak ada yang bicara. Tak ada yang bergerak.
Lagu itu bukan lagi musik, tapi telah menjelma hidup, duka, dan cinta sekaligus. Bukan sekadar lagu, melainkan jiwa yang bersuara, duka yang menolak dibungkam, dan cinta yang bertahan, meski terus digerus.
Reaksi penonton, air mata bagi sebagian, kegelisahan bagi yang lain, menyingkap jurang yang melampaui selera musik. Ini bukan soal estetika. Ini soal kenyataan yang retak: antara apa yang sungguh dirasakan dan apa yang diharapkan untuk dipertontonkan. Dan jurang itu bukan sesaat; tapi hidup, berdenyut, dalam keseharian.
Penutup: Dua Lagu, Dua Dunia
Di titik ini, kontras antara lagu “Papua” dan “Indonesia Raya” tidak lagi suatu pesan, tapi menjadi sesuatu yang nyata. Yang menyayat.
“Papua” beresonansi karena ia lahir dari kehidupan: ia memuat rasa sakit, cinta, tanah, dan ingatan.
Sementara itu, lagu kebangsaan dalam konteks ini terasa dipaksakan: formal, jauh, dan terlepas dari kenyataan di lapangan, bergema tanpa keterhubungan.
Di tengah sisa-sisa emosi itu, ruang ini jadi terasa asing bagiku. Kami duduk di sebuah ruang teater modern, kursi empuk, pencahayaan rapi, dan tata ruang yang tenang, sangat nyaman. Kontras itu terasa jelas dengan suasana di layar film dokumenter tadi dan lirik lagu “Papua” tersebut.
Di Papua Barat, orang-orang bangun setiap hari masih sebagai orang asing di tanahnya sendiri. Anak-anak berjalan berjam-jam menuju sekolah. Orang sakit dipikul karena fasilitas terlalu jauh, terlalu minim, atau datang terlambat. Di bawah kaki mereka terbentang kekayaan, emas, hutan, sumber kehidupan, namun yang menikmati adalah orang lain, di tempat lain. Yang berhak justru penonton di tanahnya sendiri.
Mereka diberi tahu bahwa mereka bagian dari sebuah bangsa. Namun ketika mereka berbicara, suara mereka meredup sebelum sempat didengar. Para pemimpin mereka disingkirkan. Masa depan mereka dirumuskan dari jauh.
Dan di beberapa tempat, hidup dijalani dalam ketegangan yang senyap, di mana diam terasa lebih aman daripada berkata jujur.
Ini bukan satu kisah tunggal. Ada yang masih memilih bertahan, percaya pada otonomi, pada janji yang belum selesai. Tetapi banyak pula yang mulai bertanya: apa sebenarnya yang sudah diberikan oleh janji itu?
Ya, jika ada keadilan, jika sekolah benar-benar berjalan, jika rumah sakit dapat diakses, jika kekayaan alam mengalir ke bawah atau dibagi secara adil, jika penghormatan terhadap hidup dan hak mereka benar-benar terjaga, dan jika mereka bisa menentukan masa depan sendiri, mungkin pilihan akan berbeda. Mungkin mereka akan bangga dengar lagu kebangsaan.
Tetapi persoalan ini tidak pernah sekadar soal pembangunan.
Ini soal martabat.
Soal dilihat sebagai manusia, bukan sekadar objek dari simbol negara.
Sebagai setara. Sebagai pemilik sah tanah mereka sendiri.
Karena pada akhirnya, negara bisa meminta rakyatnya berdiri untuk sebuah lagu kebangsaan.
Tapi tidak bisa memaksa mereka untuk merasakannya.
Dan selama jurang itu belum tertutup, lagu kebangsaan akan terus terdengar, bukan sebagai melodi persatuan,
melainkan sebagai gema dari sesuatu yang retak,
sesuatu yang belum selesai,
sesuatu yang masih belum didengar.
Dan di tempat lain, lagu lain sudah lebih dulu berbicara:
“Aku mencintaimu begitu dalam,
namun kau mengkhianatiku.
Aku memberimu hatiku,
namun kau menghancurkannya.
Kini aku duduk sendiri di bawah langit Papua,
menitipkan lukaku pada bintang pagi.
Cinta yang dulu terasa indah
telah berubah menjadi luka dan air mata…
sa pu kekasih tapi ko khianati
……….kekasih tapi ko khianati
………………………….ko khianati…” (*)
Oleh : Mario Ngopidulu
Editor Admin – Portal Suara Independen
@Melbourne, Maret 2026
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua
























Discussion about this post