Jayapura, Jubi – Bagi sebuah negara yang memiliki catatan panjang proyek deforestasi berskala besar, aktivitas Indonesia saat ini di sudut paling tenggara republik itu, Provinsi Papua Selatan, dinilai melampaui semuanya.
Sekitar 2,5 juta hektare lahan sedang dibuka untuk produksi tebu dan padi dalam proyek pangan dan biofuel, bersamaan dengan konsesi besar perkebunan kelapa sawit. Melalui proyek ini, pemerintah Indonesia membangun program berskala sangat besar yang berada tepat di “halaman depan” Papua Nugini dan Australia. Demikian dikutip jubi.id dari laman internet, RNZ Pasifik, Jumat (13/3/2026).
Proyek tersebut mengubah wajah wilayah yang sebelumnya didominasi hutan dan rawa, sekaligus memengaruhi lingkungan, budaya, serta kesehatan masyarakat asli Papua.
“Dunia seharusnya memperhatikan ini. Ini bukan Amazon, tetapi tepat di depan pintu kita di kawasan Pasifik,” kata Dandhy Dwi Laksono, sutradara film dokumenter Pesta Babi (Pig Feast) yang mengangkat dampak deforestasi di Papua Selatan, skema bisnis pertanian di baliknya, serta peran militer Indonesia dalam proyek tersebut.
Laksono berada di Selandia Baru pekan ini untuk mempromosikan film tersebut bersama salah satu produser, jurnalis Papua Barat Victor Mambor. Ia mengatakan masih sedikit orang di berbagai belahan dunia yang mengetahui apa yang sedang terjadi di wilayah itu.
“Mungkin mereka hanya tahu tentang konflik-konflik militer, konflik bersenjata di Papua Barat. Tetapi mereka tidak pernah tahu konflik seperti ini,” katanya.
Film itu menyoroti respons masyarakat Papua di wilayah Merauke dan komunitas pedalaman terhadap rencana induk agribisnis yang telah dicoba oleh beberapa presiden Indonesia.
Presiden saat ini, Prabowo Subianto, mempercepat proyek tersebut dan melibatkan dukungan militer. Ia menyatakan militer dibutuhkan untuk mengamankan proyek agribisnis karena skala dan pentingnya bagi ketahanan pangan dan energi nasional Indonesia.
Namun Mambor mengatakan kehadiran pasukan Indonesia di Tanah Papua sejak lama menjadi persoalan bagi masyarakat setempat dan jumlahnya terus bertambah.
“Inilah masalah di Tanah ini. Akan ada lebih banyak tentara, dan tentu saja semakin banyak tentara berarti semakin banyak konflik. Lebih banyak tentara, lebih banyak konflik, lebih banyak masalah,” ujarnya.
Di tengah konflik bersenjata yang masih berlangsung antara pejuang kemerdekaan Papua Barat dan militer Indonesia di berbagai wilayah ini, film ini memberikan gambaran tentang bentuk perjuangan lain yang kurang dikenal, tetapi tidak kalah memprihatinkan.
Papua memiliki beberapa kawasan hutan hujan tropis asli terbesar yang tersisa di dunia. Pembukaan hutan dan rawa dalam skala besar di wilayah ini diperkirakan akan meningkatkan emisi karbon, kabut polusi, dan kehilangan keanekaragaman hayati.
Menurut organisasi non-pemerintah Mighty Earth, perkiraan emisi CO₂ dari pembukaan lahan seluas itu berkisar 315 juta ton setara CO₂ menurut perhitungan perusahaan inspeksi, pengujian, sertifikasi, dan konsultasi milik negara Indonesia, hingga lebih dari dua kali lipatnya berdasarkan laporan lembaga riset independen Indonesia. (*)
























Discussion about this post