Jayapura, Jubi – Nelayan di wilayah Ayau dan pantai utara Raja Ampat mengaku resah akibat masuknya nelayan dari luar kabupaten ke perairan yang selama ini menjadi wilayah tangkap mereka. Menurut Denis Rumbewas dari Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Peduli Alam dan Pembangunan Raja Ampat, keresahan ini sudah berlangsung sekitar tiga bulan terakhir, bahkan beberapa nelayan asing diduga masuk ke kawasan yang diperuntukkan bagi warga kampung.
” Kami masyarakat nelayan di wilayah Ayau dan Pantura Raja Ampat menyampaikan keresahan yang sudah kami rasakan selama kurang lebih tiga bulan terakhir,”demikian tulis Denis Rumbewas melalui pesan, Selasa (28/4/2026)
Dia menjelaskan sejak masuknya kapal-kapal motor nelayan dari luar daerah, khususnya dari Bitung Provinsi Sulawesi Utara, ke wilayah perairan utara Kabupaten Raja Ampat, tangkapan warga menjadi turun.
“Hasil tangkapan kami menurun drastis. Jika sebelumnya kami bisa melaut dan mendapatkan hasil yang cukup untuk kebutuhan keluarga, sekarang seringkali kami pulang dengan hasil yang sangat sedikit,” katanya.
Laut yang selama ini menjadi sumber utama kehidupan mereka, kini terasa semakin sulit memberikan penghidupan. Mereka melihat adanya aktivitas penangkapan yang melewati batas wilayah tangkap nelayan lokal.
“Bahkan masyarakat di Pulau Moof sudah memberikan teguran secara langsung kepada salah satu kapal dari luar tersebut, karena telah masuk ke area yang menjadi tempat utama kami mencari nafkah,” tuturnya.
Para nelayan menyayangkan bahwa hingga saat ini (hampir tiga bulan berlalu), kapal-kapal nelayan tersebut masih terus beroperasi di perairan Ayau tanpa adanya tindakan tegas dari pihak yang berwenang. “Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: apakah tidak ada pengawasan dan penindakan terhadap aktivitas tersebut?” ujarnya.
Dia meminta aparat hukum dan instansi terkait untuk segera melakukan penertiban terhadap kapal-kapal nelayan dari luar daerah yang masuk ke wilayah tangkap nelayan lokal.
“Kami masyarakat Ayau sangat bergantung pada laut. Laut adalah sumber kehidupan kami, sumber makan kami, dan masa depan anak-anak kami,”katanya.
“Tolong selamatkan laut kami.Tolong lindungi nelayan kami,” katanya.
Sarana pengawasan terbatas dan BBM mahal
Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan Papua Barat Daya, Absalom Solossa mengakui ada nelayan dari luar yang masuk ke wilayah pantai utara Kabupaten Raja Ampat.
“Memang ada Kapal Motor Nelayan yang masuk sampai ke dalam wilayah 12 mill bahkan ke area mencari nelayan lokal. itu sudah melanggar peraturan, dan mereka harus mencari di luar 12 mill,” katanya kepada jubi.id melalui telepon seluler, Selasa (28/4/2026).
Dia menambahkan warga berhak untuk melarang untuk mereka masuk atau melewati batas 12 mill, bahkan masuk ke wilayah penangkapan nelayan lokal. “Kita juga sulit melakukan pengawasan rutin termasuk patroli laut karena keterbatasan peralatan untuk mengawal kepulauan Raja Ampat, apalagi sekarang harga Bahan Bakar Minyak (BBM) semakin mahal,” katanya.
Kadis Perikanan Provinsi Papua itu mengakui mereka kecolongan dan tidak mungkin melakukan pengawasan dan patroli karena wilayah luas serta terbatas peralatan dan sarana lainnya.
Memang pihaknya telah melakukan pengawasan rutin, tetapi lanjut dia masih terbatas dan harus melakukan kolaborasi dengan pihak terkait ataupun instansi lainnya.
“Selain masuknya nelayan dari luar, kendala lain adalah kerja sama antara warga lokal dengan para pemilik bagan dari luar. Bagan yang banyak di Kabupaten Raja Ampat jelas akan mengganggu pendapatan warga di sana,” katanya.
“Namun ketika kita hendak menindak sudah ada kerja sama atau kontrak dengan warga atau kepala kampung di situ,” katanya. (*)

























Discussion about this post