Jayapura, Jubi – Timor Leste telah menetapkan satu minggu masa berkabung untuk mantan Presiden Francisco Guterres, eks pemimpin gerilya yang meninggal di sebuah rumah sakit di Malaysia, Minggu (21/6/2026).
Guterres (71 tahun), menjabat sebagai Presiden pada 2017 hingga 2022, mengakhiri keterlibatannya selama beberapa dekade dalam perjuangan politik dan bersenjata yang mengantarkan kemerdekaan negara kecil di Asia Tenggara tersebut.
Bendera akan dikibarkan setengah tiang di gedung-gedung publik, termasuk kedutaan dan konsulat, seperti dikutip Jubi dari laman, islandsbusiness.com Jumat (26/6/2026).
Jenazah Guterres telah tiba di Dili, ibu kota Timor-Leste, pada 23 Juni, dan pengaturan pemakaman masih sedang diorganisir.
Presiden Timor-Leste Jose Ramos-Horta, yang mengalahkan Guterres dalam pemilihan presiden 2022, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mantan rivalnya itu adalah seorang “patriot hebat”, dan menggambarkan kepergiannya sebagai “kerugian besar bagi bangsa.”
Guterres berasal dari latar belakang sederhana, berjuang untuk kemerdekaan Timor-Leste dari Indonesia, yang diraih pada tahun 2002 setelah pendudukan brutal selama 24 tahun.
Ia memenangkan pemilihan presiden 2017 dan menjadi presiden keenam negara itu setelah memperoleh lebih dari 57 persen suara.
Guterres mencalonkan diri kembali dalam pemilihan tahun 2022 tetapi dikalahkan dalam putaran kedua oleh peraih Nobel Ramos-Horta.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan ia “sedih” atas meninggalnya Guterres dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarganya dan rakyat Timor-Leste.
Guterres merupakan presiden Timor Leste pada periode 2017-2022. Ia presiden dari partai politik Fretilin dan merupakan presiden Majelis Konstituen serta Parlemen Nasional.
Sebagai presiden Majelis Konstituen, ia secara resmi memproklamirkan pemulihan kemerdekaan Timor Leste pada 20 Mei 2022. Ia kemudian melantik Xanana Gusmao sebagai presiden pertama republik bekas koloni Portugis tersebut. (*)




Discussion about this post