Jayapura, Jubi – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jayapura, Papua bersama World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia Program Papua mengajak berbagai komunitas menyuarakan isu tiga tantangan lingkungan (triple planetary crisis) di media sosial, salah satunya isu sampah makanan.
Ajakan ini disampaikan dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati pada 5 Juni 2026.
WWF Indonesia Program Papua menyatakan, dunia kini sedang menghadapi tiga tantangan lingkungan (triple planetary crisis) yang terjadi bersamaan dan saling memperkiat, yaitu perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati dan degradasi alam, serta polusi udara dan limbah.
“Istilah tiga krisis tersebut datang resmi dari United Nations Environment Programme (UNEP) untuk menggambarkan tiga krisis besar yang mengancam stabilitas planet bumi,” tulis WWF Indonesia Program Papua dalam siaran persnya, Rabu (17/6/2026).
Katanya, dampak tiga krisis tersebut semakin nyata dirasakan, mulai dari cuaca ekstrem, menurunnya kualitas lingkungan, hingga berkurangnya sumber daya alam sebagai penopang kehidupan.
“Kita dikelilingi kabar masalah lingkungan yang datang setiap hari, misalnya persoalan sampah plastik yang tidak ada habisnya, satwa dilindungi yang semakin punah, bahkan isu deforestasi yang semakin liar.”
Di sisi lain, ada pun isu sampah makanan menjadi persoalan yang sering kali luput dari perhatian. Sampah makanan memiliki keterkaitan erat dengan tiga krisis planet juga.
Sampah makanan mengandung gas metan (gas berbahaya) menyumbang pemanasan global 28 kali lebih kuat dibanding karbon dioksida. Pemanasan global memicu laju perubahan iklim. Sehingga, menghadapi tantangan besar seperti tiga krisis planet tidak selalu harus dari langkah rumit dan besar.
“Kita dapat memulainya dari kebiasaan sederhana pada kehidupan sehari-hari, seperti mengambil makanan sesuai kebutuhan, menghabiskan makanan, dan mengelola sisa makananan dengan lebih bijak,” tulis WWF Indonesia Program Papua.
Terlepas dari itu WFF Indonesia Program Papua menyatakan, langkah-langkah kecil lainnya juga dapat dimulai dari mengubah kebiasaan ke arah lebih berkelanjutan, seperti memilah sampah, mengurangi pemakaian plastik sekali pakai, dan juga hemat energi.
Selain itu, juga perlu menyebarluaskan pesan-pesan kebaikan terkait lingkungan, salah satunya mengenai sampah makanan melalui pesan di media sosial. Ini bentuk pemanfaatan media sosial sebagai media edukasi kepada masyarakat luas.
Berangkat dari isu tersebut, pada momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura bersama WWF Indonesia Program Papua merangkul komunitas lintas agama, komunitas peduli lingkungan, masyarakat adat, rekan mahasiswa, serta sekolah Adiwiyata dalam kegiatan workshop pengolahan sampah makanan menjadi kompos, sebagai manajemen model pengolahan limbah di ranah komunitas, serta kegiatan pelatihan penyusunan konten kampanye komunitas.
Kegiatan dengan tema “Ko Bijak Pangan, Ko Selamatkan Bumi” yang diselenggarakan di Holey Narey Learning Centre WWF Indonesia Program Papua tersebut sebagai bentuk kegiatan tindak lanjut (berseri) pelatihan sebelumnya yang mengambil momentum Hari Bumi pada 24 April 2026.
Kegiatan diawali penyampaian materi terkait manajemen pengolahan sampah dan limbah, salah satunya kompos.
Kemudian, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan penyusunan konten kampanye media sosial yang menjadi lanjutan seri edukasi sebelumnya.
“Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi komunitas untuk membangun kesadaran bahwa sampah makanan yang diolah menjadi kompos, serta konten edukasi di media sosial merupakan langkah nyata dalam menghadapi tantangan tiga krisis planet.”
Diskusi dalam pelatihan ini menjadi semakin kaya berkat kehadiran berbagai pihak, mulai dari komunitas, masyarakat adat, mahasiswa, hingga perwakilan sekolah Adiwiyata.
Yulius Hindom, perwakilan PAM GKI Onomi Felavauw yang hadir mewakili komunitas lintas agama, menekankan bahwa pelestarian lingkungan adalah tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari.
“Agama mengajarkan kita untuk hidup harmonis dengan alam. Oleh karena itu, edukasi mengenai kebiasaan sederhana seperti mengolah sampah makanan sangatlah penting untuk dipahami dan disebarluaskan,” ujar Yulius Hindom.
Menurutnya, pelatihan ini memantik kembali semangat komunitasnya. “Sebenarnya gereja kami sudah punya fasilitas komposter, tetapi lama tidak aktif. Saya rasa pelatihan ini sangat membantu untuk menghidupkan kembali semangat kolaborasi mengolah sampah di lingkungan gereja,” ucapnya.
Semangat kolaborasi ini juga sejalan diungkapkan oleh Adelia Tania, Staf Kampanye WWF Indonesia Program Papua.
Ia meyakini, langkah menjaga lingkungan tak cukup hanya dilakukan sendiri-sendiri, melainkan harus digaungkan.
“Bila sebuah komunitas membagikan kisah sukses dan praktik baik dari pengalaman lokal mereka, pesannya pasti lebih relate dan mudah diterima masyarakat. Menggemakan pesan-pesan positif ini melalui media sosial adalah salah satu wujud nyata kepedulian kita pada bumi,” ujar Tania.
Tak sebatas kampanye, ia juga memandang praktik pengomposan yang dilakukan komunitas dinilai sebagai jalan keluar agar masyarakat bisa mandiri dalam menuntaskan persoalan sampah, khususnya sisa makanan.
Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan tidak hanya menyadari keterkaitan erat antara persoalan sampah makanan dan ancaman tiga krisis planet.
Lebih dari itu, mereka didorong untuk menjadi penggerak digital di lingkungannya masing-masing.
Memanfaatkan ruang-ruang di media sosial adalah salah satu langkah nyata di mana setiap individu dapat mengambil peran aktif dan membuktikan komitmennya dalam menjaga kelestarian bumi. (*)




Discussion about this post