Jayapura, Jubi – Staf Kampanye Lingkungan World Wide Fund for Nature atau WWF Indonesia Program Papua, Adelia Tania mengatakan sampah sisa makanan berdampak lebih kuat menciptakan pemanasan global, dibandingkan karbon dioksida.
Menurut Adelia, ini karena sisa makanan yang membusuk menghasilkan gas metana 28 kali lebih kuat daripada karbon dioksida.
Hal itu disampaikan Adelia Tania saat pelatihan perencanaan konten kampanye gaya hidup berkelanjutan terkait sampah makanan di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Jumat (24/4/2026).
Adelia Tania mengatakan, karena itulah pihaknya menggelar konten kegiatan yang diawali dengan materi sampah makanan, berlandaskan dari keresahan di mana bumi semakin panas, dan cuaca semakin tidak menentu.
“Banyak orang buang sampah sembarang, terus menggunakan plastik masif sekali. Tidak bijak dalam menggunakan plastik, dan ada juga orang tidak hemat energi dan lain-lain. Sampah makanan ini menjadi salah satu faktor juga perubahan iklim terjadi,” kata Adelia Tania.
Katanya, untuk menjaga keberlanjutan lingkungan, semua pihak mesti bersama menghambat laju perubahan iklim, dengan cara mengelola sampah sisa makanan.
Hal sederhana yang dapat dilakukan setiap hari adalah mengelola sampah rumah tangga. Memisahkan sampah plastik, botol, sisah makanan dan lainnya.
“Mengelola sampah makanan itu bisa di tingkat individu dulu. Misalnya memilih dan mengonsumsi makanan secukupnya, agar tidak tersisa atau terbuang. Kalau kita makan, harus habis, jangan disisahkan. Sampah sisa makanan bisa menjadi pupuk kompos, bisa jadi maggot,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup atau DLH Kabupaten Jayapura, Papua, Salmon Telenggen menyatakan rata-rata sampah yang dihasilkan di Kabupaten Jayapura setiap harinya mencapai 90 ton, dan 60 persen merupakan sampah sisa makanan.
Menurutnya, dominasi sampah sisa makanan ini berdasarkan hasil studi World Wide Fund for Nature atau WWF Indonesia Program Papua dan DLH Kabupaten Jayapura pada 2025.
“60 persen sampah itu sisa susut pangan itu berasal dari rumah makan, kafe, restoran, hotel yang ada di Kabupaten Jayapura, dan dari masyarakat,” kata Salmon Telenggen.
Pemerintah kabupaten pun telah bekerjasama dengan pengelola kafe, restoran, warung dan hotel untuk memisahkan sampah sisa susut pangan mulai dari sumbernya.
“Namun kalau memang itu dapat diolah untuk makanan ternak, bisa hubungi mama-mama yang punya ternak. Kita olahnya dalam bentuk maggot. Kalau maggot ini ketika kita produksi, kita bisa memanfaatkan untuk pakan ternak dan pakan ikan. Maggot ini kandungan lemaknya sangat bagus,” ujarnya. (*)




Discussion about this post