Sentani, Jubi – Dinas Lingkungan Hidup atau DLH Kabupaten Jayapura menegaskan pentingnya studi baseline pengelolaan sampah sebagai langkah strategis untuk kebijakan lingkungan yang tepat berbasis data.
Hal itu disampaikan oleh Kepala DLH Kabupaten Jayapura, Abdul Rahman Basri dalam rekaman suara yang diterima Jubi, Jumat (16/5/2025) malam.
Pernyataan itu disampaikan Abdul Rahman Basri berkaotan dengan penelitian timbulan sampah di Kabupaten Jayapura berfokus pada sampah sisa makanan, yang dilakukan World Wildlife Fund atau WWF Indonesia Program Papua berkolaborasi dengan Delterra.
Ini disampaikan Community Development Officer Jayapura, Elvin Wahyu Wardhana di sela-sela Lokakarya Studi Baseline Pengelolaan Sampah di Kabupaten Jayapura, Kamis (15/5/2025).
“Kami menganggap studi ini sebagai komitmen untuk perencanaan pengelolaan sampah agar lebih matang. Data yang akurat ini akan menjadi hal yang sinkron dengan kondisi yang ada, yang berfungsi untuk menyusun strategi-strategi optimalisasi rencana,” kata Abdul Rahman Basri.
Menurutnya, dalam studi baseline ini, data dikumpulkan berdasarkan jenis sampah dan sumber penghasil sampah seperti dari perumahan atau industri. Data dikumpulkan melalui metode wawancara, kuesioner, dan pemantauan langsung di lapangan.
“Contohnya, masyarakat membuang sampah sembarangan karena tidak ada tong sampah atau tempat pembuangan sampah sementara (TPS). Jika sarananya tidak ada, maka [kami] tindak lanjuti,” ujarnya.
Dalam melalukan kajian, World Wildlife Fund (WWF) Indonesia Program Papua dan Delterra melibatkan lintas sektor seperti akademisi, mahasiswa, pemuda setempat, untuk melihat persoalan dari sudut pandang umum masyarakat dan teknis.
“Kolaborasi ini mempertemukan berbagai latar pengalaman, pengetahuan, dan latar belakang untuk menyatukan persepsi yang terintegrasi. Dari situ akan muncul rumusan dan konsep kedepannya,” ucapnya.
Sementara itu, Head of Forest and Wildlife WWF Indonesia Program Papua, Wika Rumbiak menuturkan studi baseline pengelolaan timbulan sampah di Kabupaten Jayapura untuk mendapatkan hasil konkrit dari data primer, sehingga, hasilnya dapat menjadi rekomendasi untuk strategi pengelolaan sampah di wilayah itu.
“Harapannya dari data primer bisa digunakan dalam menentukan program prioritas dan kebijakan yang tepat untuk masalah persampahan,” kata Rumbiak.
Rumbiak menambahkan, kajian ini juga sebagai pembelajaran untuk menguatkan literasi dan penyadartahuan tentang komposisi sampah, terutama dari sampah sisa makanan yang mencapai 40 persen dalam sehari. (*)





















Discussion about this post